
Dhiwa sampai di rumah, dia tak melihat keberadaan tika dan juga Alvaro, dia lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum" ucapnya. Mirna yg mendengar suara Dhiwa langsung menampakkan dirinya.
"Wa'alaikumussalam, ayah udh pulang" jawab Mirna sambil mencium tangan Dhiwa, dia lalu meraih tas milik suaminya tersebut dan membawanya ke dalam kamar.
"Anak-anak dimana bun? " tanya Dhiwa, Mirna meletakkan tas Dhiwa dan mengeluarkan baju kotor yg ada di dalam nya.
"mereka tadi di bawa sama Ibu dan Airin, nanti kita jemput kalau mereka mau pulang ya" jawab Mirna, Dhiwa hanya menganggukkan kepala nya saja lalu dia memeluk tubuh Mirna dari belakang.
Mirna merasa risih saat di peluk oleh Dhiwa, dia lalu menggoyangkan tubuhnya agar Dhiwa melepaskan nya, Dhiwa merasa ada yg aneh dengan sikap Mirna.
"Bunda kenapa? tumben ngga mau di peluk? " tanya Dhiwa heran, Mirna membalikkan badan dan menatap Dhiwa dengan serius.
__ADS_1
"tadi Airin melihat ayah dengan mira di mall, masih untung bukan ibu yg melihat, bisa-bisa ibu marah besar yah" ucap Mirna, Dhiwa membuang nafasnya dengan kasar, dia bahkan tidak sadar kalau Airin sedang memperhatikannya.
"Lalu Airin bilang apa? " tanya Dhiwa lagi, Mirna duduk di tepi ranjang sambil menunduk, "Dia bilang ingin melaporkan hal ini sama ibu" jawab Mirna datar, Dhiwa seketika melotot karena terkejut, hati nya langsung ketar ketir saat mendengar penuturan Mirna.
"ayah tenang aja, Airin takkan berani bicara tanpa persetujuan dari bunda, yg penting sekarang ayah dan mira harus hati-hati dimanapun kalian berada ya" titah Mirna.
Dhiwa mengangguk, dia lalu kembali memeluk Mirna, dia bersyukur karena Mirna sangat tenang dan bijak, dhiwa tau bagaimana perasaan Mirna saat ini, tapi Mirna selalu berusaha untuk tampak tegar dan tenang.
"misi? misi apa yah? apakah berbahaya? " tanya mirna khawatir, dhiwa tersenyum getir.
"iya sedikit berbahaya, ayah minta tolong kamu temani mira saat dia melahirkan nanti ya jika ayah belum sempat untuk pulang, karena kita tak pernah tau sesuatu yg akan kita hadapi di depan sana seperti apa" ucap dhiwa, Mirna merasakan ada sesuatu yg perih di dalam hati nya entah itu apa, tapi sejujurnya dia tak rela jika dhiwa pergi meninggalkan nya dan juga kedua anaknya.
"Bunda akan selalu mendo'akan ayah dimanapun ayah berada, insya allah bunda akan temani mira" ucap mirna, dhiwa tersenyum lalu dia memeluk erat tubuh mirna seolah tak ingin melepaskan nya, mirna merasakan ada sesuatu yg berbeda dari pelukan dhiwa saat ini.
__ADS_1
'kenapa hatiku rasanya seperti di remas-remas, ada apa ini ya allah? semoga bukan pertanda tak baik' batin mirna.
.
.
Hari sudah petang, mirna sudah bersiap untuk menjemput tika dan Alvaro di rumah bu Ratna, karena tadi Airin sudah menelpon kalau tika rewel minta segera di jemput.
Dhiwa baru saja pulang dari masjid seusai solat magrib berjamaah, dia lalu berganti sarung dengan celana panjang, mirna sudah menunggu di dalam mobil.
"Ayah jangan lupa kunci pintu! " teriak mirna dari luar, dhiwa mengambil kunci rumah dan menguncinya, setelah itu dia langsung masuk ke dalam mobil.
Baik dhiwa maupun mirna, keduanya sedang merasa deg-degan karena mereka merasa cemas dengan ancaman Airin tadi siang, dalam hati mereka berdoa semoga Airin tak membahas hal ini lebih lanjut.
__ADS_1