Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 9.


__ADS_3

Dhiwa tiba di rumah nya, Mirna sudah menunggunya di depan pintu dengan senyuman manisnya, Dhiwa memarkirkan motor nya lalu berjalan menghampiri istrinya.


Mirna langsung memeluk tubuh suami yg sangat dia rindukan, Dhiwa mencium kening Mirna lalu menyerahkan plastik berisi oleh oleh untuk Mirna dan anak anaknya.


"Ayah udah makan? " tanya Mirna.


"Belum bunda, Ayah mau mandi dulu" jawab Dhiwa.


"Ya sudah, kalau gitu bunda siapin makanan buat Ayah ya" ucap Mirna, Dhiwa mengangguk sambil tersenyum lalu bergegas mandi.


.


.


Malam hari, Dhiwa mengintip kamar kedua anaknya, beberapa hari tak melihat mereka rasanya sangat rindu, Dhiwa memang sosok Ayah yg penyayang dan bertanggung jawab terhadap keluarga nya.


Dia menghampiri Tika yg sedang tertidur pulas, lalu mengusap kepala putrinya.


"Maafkan Ayah ya Nak" bisiknya lalu mencium pucuk kepala tika.


Dhiwa lalu menghampiri anak sulungnya Alvaro, lalu mengusap kepala nya "Semoga besar nanti kau bisa menjaga bunda" bisiknya lalu mengecup kepala putranya.


Dhiwa keluar dari kamar anaknya dan dia terkejut saat melihat Mirna sudah berdiri di belakang nya.


"Bunda ngagetin aja" seru Dhiwa.


Mirna terkekeh lalu segera memeluk tubuh suaminya.


"Yah, Bunda pingin" bisik Mirna. Dhiwa merasakan perasaan bersalah dalam hatinya, tapi tak dia tampakkan.


"Ayo! " ajaknya lalu mengajak Mirna kedalam kamar.


.


.


Mira baru saja selesai mandi, dia mengecek ponselnya tapi belum ada pesan dari Dhiwa, dia ingin mengirimkan pesan tapi dia urungkan.


"Mungkin Mas Dhiwa kelelahan langsung tidur" pikirnya.


Mira berjalan ke arah balkon kamarnya, dan menatap langit yg gelap.

__ADS_1


Dia mengelus perutnya yg masih rata, membayangkan jika dia hamil dan menikah dengan Dhiwa, Mira senyum senyum karena bayangan nya sendiri.


"Aku harus memberitahukan hubungan ku kepada Ibu dan a Ridwan" gumamnya lalu dia pun masuk ke dalam kamar dan segera tidur.


.


.


Pagi hari, ponsel Mira sudah berdering beberapa kali, Mira mengucek matanya yg masih mengantuk lalu melihat ponselnya, ternyata kakaknya yg menelpon.


"Assalamu'alaikum aa, kenapa telpon pagi pagi buta" ucap Mira.


"Wa'alaikumussalam.pagi darimana? Coba kamu liat jam" jawab Ridwan.


Mira melihat jam sudah pukul 6 dan dia sangat terkejut.


"Astagfirullah aku kesiangan" serunya.


"Emang kamu sampai jam berapa bisa sampai kesiangan? " tanya Ridwan.


"Aku sampai jam 7 malam a, aduh aku ngga solat subuh" rutuknya.


"Iya nanti Mira kesana" ucap Mira lalu mengakhiri telponnya.


Mira memang tidak tinggal serumah dengan Ibunya, Mira punya rumah sendiri yg lumayan besar di cluster Edelweis. Jarak dari rumah nya ke rumah Ibunya memakan waktu setengah jam.


Mira sudah selesai mandi dan sarapan, lalu dia bergegas hendak ke rumah Ibunya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dari Dhiwa.


(Assalamu'alaikum dek, maaf semalam Mas ketiduran lupa kasih kabar).


Mira tersenyum lalu membalas nya.


(Wa'alaikumussalam, gapapa Mas.)


Setelah selesai membalas Mira pun langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Ibunya.


Mira mengirimkan pesan kepada Sintia bahwa hari ini dia tidak ke toko karena Mira akan berkunjung ke rumah Ibunya.


Setibanya di rumah Ibunya, Mira di sambut oleh bi Minah, pembantu di rumah Ibunya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" ucap Mira.


"Wa'alaikumussalam neng" jawab bi Minah.


"Mama dimana bi? " tanyanya.


"Ada di dalam non" jawabnya.


Mira pun masuk ke dalam, terlihat Ibu Khadijah sedang berbincang dengan Ridwan dan seorang wanita berjilbab, parasnya sangat cantik sedang tersipu malu sambil menundukkan kepala nya.


"Siapa wanita itu? Tanya Mira bingung.


" Assalamu'alaikum Mah" ucap Mira, semua menoleh ke arah Mira.


"Wa'alaikumussalam, nah ini dia adiknya Ridwan sudah datang" jawab Bu Khadijah.


"Mah ini siapa? " tanya Mira.


"Kenalin Mira, ini calon kakakmu namanya Mutia" ucap Bu Khadijah memperkenalkan Mutia.


"Mutia " ucap Mutia sambil mengulurkan tangan.


"Mira" jawab Mira membalas uluran tangan Mutia.


"Jadi begini, Ridwan berencana ingin melamar Mutia minggu depan" ucap Bu Khadijah, Mira terkejut dan memelototi kakaknya.


"Hah? Secepat itu a? Aku bahkan tidak pernah liat aa berpacaran sebelumnya" tanya Mira heran.


"Aa memang tidak pacaran dengan Mutia, kami baru kenal minggu lalu dan aa ngga mau pacaran, maunya langsung menikah saja biar pacaran nya halal" jawab Ridwan sambil melirik Mutia yg sudah menunduk menahan malu.


Ucapan Ridwan begitu menusuk hati Mira, karena dia sudah melakukan hal yg di larang oleh agama sebelum dia menikah. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya saat ini.


"Wah sebentar lagi aku bakal punya kakak ipar" seru Mira mencoba menghibur hatinya sendiri.


"Insya Allah Mira, semoga kita bisa menjadi saudara yg baik" ucap Mutia, Mutia adalah sosok wanita yg lembut dan sholehah, pantas Ridwan langsung jatuh hati dan ingin menikahinya.


"Aamiin, semoga rencana kalian di mudahkan oleh Allah SWT" ucap Bu Khadijah.


"Aamiin.. " jawab semua nya berbarengan.


Tadinya Mira ingin memberitahukan soal hubungan nya dengan Dhiwa, akan tetapi dia urungkan karena momennya sedang tidak tepat. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Ibu dan kakaknya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2