
Mirna menelpon Dhiwa, dia ingin bertanya soal Alvaro yg melihat nya memeluk seorang wanita, Mirna tidak tau kalau yg Dhiwa cium adalah Mira, madunya.
"Assalamu'alaikum bunda, ada apa? " jawab Dhiwa diseberang telpon.
"waalaikum salam, Ayah bunda ingin bicara sesuatu, bisa? "
"Apa bunda? " Dhiwa penasaran.
"Tadi kakak lihat Ayah memeluk seorang wanita di toko pot, siapa lagi selingkuhan ayah? belum cukup kan dengan Mira? " tanya Mirna sedikit emosi.
"kakak? di toko pot? Ayah tak melihat kakak di toko, mungkin yg dia lihat adalah Mira karena toko itu adalah milik Mira, tadi ayah mengantarkan makan siang dan juga vitamin untuk nya" jelas Dhiwa, Dhiwa sedikit terkejut karena anaknya melihat dia dan Mira.
Mirna mengambil nafas, syukur lah bukan wanita lain, " apa kakak mencurigai ayah? "tanya Dhiwa kembali.
"Entahlah,tapi cepat atau lambat dia pasti akan mengetahui nya, semoga saat itu tiba dia tidak kecewa kepada kita" jawab Mirna lalu menutup telpon nya.
Dhiwa menghela nafasnya, dia tau jika suatu saat kedua anaknya mengetahui kebenarannya mereka pasti akan membenci Dhiwa.
"Maafkan ayah nak, ayah tidak bisa jadi ayah yg baik untuk kalian" gumamnya.
.
.
.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan pun berganti, saat ini usia kandungan Mira memasuki 7 bulan, kandungan nya semakin besar dan menurut hasil USG jenis kelamin nya perempuan.
Dhiwa sekarang jarang tidur di rumah Mira karena selain tugas dari kantor, dia juga harus menemani kedua anaknya yg sering sakit, Mira memaklumi nya lagipula ada Sintia yg sering menginap di rumah Mira.
Mira sedang menonton TV tiba-tiba bel rumah nya berbunyi, dia pun bangkit dan berjalan menuju pintu, saat pintu di buka sebuah buket bunga yg besar menyapa nya.
Mira terkejut, menerka siapa orang di balik bunga tersebut, dia sempat berpikir kalau itu adanya Dhiwa, ternyata seseorang muncul dari balik buket bunga.
"Assalamu'alaikum" sapa nya.
Mira tersenyum sumringah, "Wa'alaikumussalam, mas Alpian! Aku pikir siapa" jawab Mira, Alpian terkekeh lalu dia menyerahkan buket tersebut kepada Mira.
"Ini untuk ku? " tanya Mira.
"Bukan, untuk cicak yg di tembok sana" jawab Alpian kesal sambil menunjuk cicak di tembok, Mira terkekeh lalu mengambil buket tersebut.
"thanks ya mas, ayo masuk! " ajak Mira.
__ADS_1
Alpian melihat foto pernikahan Mira di tembok dan tersenyum sinis,Mira meletakkan buket di sofa lalu menyuruh Alpian untuk duduk.
"Aku buatin minum dulu ya mas" ucap Mira.
"Jangan, nanti aja kasihan kamu lagi hamil besar" larang Alpian.
"gapapa mas, cuma ambil air aja kok. tunggu ya" Mira berjalan menuju dapur, di ikuti oleh Alpian karena dia khawatir kalau Mira melakukan hal yg membuat nya lelah.
"loh kok mas ikut ke dapur? " tanya Mira.
"gapapa, sini aku bantu" Alpian mengambil cangkir, Mira tersenyum lalu mengambilkan teh dan gula, saat dia hendak berbalik bajunya tersangkut pintu kitchen set lalu dia hampir terjatuh, untung alpian dengan sigap menangkap nya.
Tatapan mereka saling bertemu, Alpian menatap kedua mata Mira, dia merasa jantungnya berdetak kencang saat bersama Mira, rasa cinta nya sejak dulu tak pernah berubah.
suara tepuk tangan membuyarkan lamunan mereka berdua, Mira terkejut saat melihat suaminya sedang menatap mereka berdua dengan tatapan yg tajam. Alpian membantu Mira berdiri dengan tegap,Mira merasa gugup .
"Mas Dhiwa" ucap Mira.
"Bagus sekali kamu Mira, mentang mentang aku jarang pulang kamu berani memasukkan dia ke rumah kita" ucap Dhiwa meledek.
Mira terkejut mendengar perkataan Dhiwa, dia tak menyangka bahwa Dhiwa akan menuduhnya seperti itu.
"Maksud mas apa? mas Alpian baru aja datang lalu... "
"Hei bro jangan salah paham" ucap Alpian.
"salah paham? salah paham gimana jelas jelas tadi anda memeluk istri saya" bentak Dhiwa.
"Mas tadi aku kepleset lalu mas pian yg bantu aku" jelas Mira.
"Bantu kok peluk peluk gitu, ngga usah ngebela dia Mira" ucap Dhiwa sinis.
Memang sejak awal Dhiwa datang dan dia melihat mobil Alpian terparkir di depan dia sudah sangat marah, di tambah dia melihat Alpian sedang memeluk Mira kemarahannya semakin memuncak.
"Mas aku ngga serendah itu" bentak Mira.
"oh ya? aku bahkan sekarang agak ragu ya kalau anak dalam perut mu itu adalah anakku" ucap Dhiwa sinis.
"Maksud anda apa pak Dhiwa? anda sedang menuduh istri anda sendiri? " tanya Alpian mulai kesal.
"Jawab Mira! " bentak Dhiwa.
"cukup mas! aku ngga pernah tidur dengan lelaki lain, aku ngga serendah itu mas! " bentak Mira mulai tak tahan dengan tuduhan Dhiwa yg tak masuk akal.
__ADS_1
"terserah mas mau percaya atau ngga, tapi aku tekankan sekali lagi, aku masih punya harga diri, jangan melemparkan kesalahan ke orang lain mas, aku tadi memang terpleset mas! " Mira terpancing emosi, nafasnya naik turun sambil menatap Dhiwa.
Dhiwa yg masih emosi tak percaya dengan omongan Mira, entah setan apa yg merasuki nya dia pun berjalan menghampiri Mira dengan tatapan memburu, Alpian tak tinggal diam, dia lalu menarik tangan Mira dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
"Minggir! " bentak Dhiwa.
"Anda mau apa hah! Mira sedang hamil anda jangan macam macam! " ancam Alpian.
"Dia istri ku, terserah mau ku apakan" ucap Dhiwa tak kalah sengit.
"Jika anda ingin menyakitinya lebih baik anda pergi, ingat sesenti saja anda melukai nya saya akan merebutnya dari hidup anda" ancam Alpian sambil menatap tajam ke arah Dhiwa.
Dhiwa menatap Mira yg sedang ketakutan di belakang tubuh Alpian, dia mengepalkan tangannya lalu pergi begitu saja, Mira ingin mengejar tapi di tahan oleh Alpian.
"Mas lepasin aku" pinta Mira.
"Jangan di kejar, dia sedang emosi. sangat berbahaya" ucap Alpian.
"Tapi mas, dia sudah salah paham sama kita, aku harus membujuknya".
" Tak perlu, biarkan dia tenang dulu nanti dia pasti akan mengerti. kamu duduk saja aku buatin kamu teh ya" titah Alpian, Mira menurut lalu dia pun duduk dan mengusap pipinya yg basah karena menangis.
"Aku bingung kenapa mas Dhiwa jadi berubah kasar seperti tadi" gumam Mira.
"Mungkin dia lagi ada masalah, jangan ambil hati ya. aku juga minta maaf karena ku kalian jadi bertengkar" Alpian menyodorkan teh kepada Mira.
"Aku yg harusnya minta maaf karena sikap mas Dhiwa yg kekanak-kanakan" ucap Mira.
"Sudahlah tak usah di pikirkan, lebih baik kita bahas yg lucu lucu saja" ucap Alpian, mereka pun saling bertukar cerita, membuat Mira sesekali tertawa dan dia mulai melupakan kekesalan nya terhadap Dhiwa.
Dhiwa pulang ke rumah dengan perasaan marah, dia tak habis pikir kenapa Mira masih berhubungan dengan Alpian, tanpa mengucapkan salam dia langsung masuk dan membanting pintu kamar, Mirna berjingkat kaget mendengar suara pintu yg di banting.
Mirna lalu hendak menghampiri suaminya di kamar tapi tiba-tiba tika memanggilnya.
"Bunda, tadi suara apa? " tanya tika.
"ohh itu nak ayah nutup pintunya terlalu keras, adek kaget ya? "
"iya bunda, ayah lagi marah ya? " tanya tika polos.
"ngga kok sayang, ayah ngga sengaja. adek balik ke kamar ya bunda mau lihat ayah dulu" bujuk Mirna, tika mengangguk lalu dia kembali ke kamarnya.
'Ada apa dengan mas Dhiwa? aku tak pernah melihat dia semarah tadi' gumam Mirna dalam hati.
__ADS_1