
Mira kembali tertidur,Dhiwa menatap Mira dengan perasaan cemas. Dia terus menggenggam tangan Mira dan mencium punggung tangan nya beberapa kali.
"Maaf Pak, apa bapak hari ini sedang libur? " tanya Sintia.
Dhiwa langsung tersadar, lalu dia bangkit dan mengeluarkan ponselnya.
"Titip Mira sebentar ya, saya mau telpon kantor dulu" titah Dhiwa. Sintia mengangguk lalu Dhiwa segera keluar dari ruangan untuk menelpon Roni.
Sintia duduk di kursi samping ranjang, dia memegang tangan Mira sambil mengelus nya.
"Teteh engal damang atuh (teteh cepat sembuh dong) " bisiknya, jujur dalam hati Sintia bertanya tanya ada apa sebenarnya yg terjadi pada Mira.
Sintia sempat menduga kalau Mira sedang hamil, tapi dia segera menepis dugaan nya itu.
Tak lama Mira terbangun, dia mengerjakan matanya pelan, Sintia sangat senang lalu dia berdiri.
"Teteh mau apa? " tanya Sintia.
"Teteh haus" jawab Mira lemah.
Sintia dengan sigap mengambilkan air yg ada di atas nakas lalu memberikan kepada Mira dengan menggunakan sedotan.
Dhiwa selesai menelpon Roni dan masuk kembali ke dalam kamar, dia melihat Mira sedang bersandar di ranjang nya.
"Sayang kamu sudah bangun? " tanya Dhiwa sambil berjalan menghampiri nya.
Mira hanya menganggukkan kepala nya pelan, karna badannya sangat lemah.
"Kamu lapar? Mas suapin ya"
"Sedikit aja ya mas, takut mual" pinta Mira.
"Iya yg penting ada makanan yg masuk biarpun sedikit" ucap Dhiwa. Dia pun mulai menyuapi Mira sedikit demi sedikit, Sintia melihat pemandangan tersebut merasa terharu, karena Dhiwa terlihat sangat menyayangi Mira.
"Neng kamu udah makan belum? " tanya Dhiwa.
"Be belum pak" jawab Sintia tergagap.
"Kamu beli makan dulu aja, biar teh Mira saya yg jaga, ini uangnya" ucap Dhiwa sambil menyodorkan uang kertas berwarna merah.
"Tidak usah pak, saya bawa uang" tolak Sintia merasa tak enak.
"Gapapa neng, ambillah" ucap Mira.
__ADS_1
Sintia mau tak mau mengambil uang tersebut, " Terima kasih ya pak " ucapnya.
"Sama-sama" Dhiwa pun kembali menyuapi Mira.
Sintia pun pamit untuk ke kantin, dia celingukan mencari dimana tempat kantin nya, tiba-tiba saja dia bertabrakan dengan seseorang.
"Astagfirullah" teriak Sintia, tubuhnya hampir jatuh namun dengan sigap ada tangan yg menangkap tubuhnya.
"Maaf saya ngga sengaja, tadi sedang buru buru" ucap pria tersebut.
Sintia tertegun saat menatap pria yg sedang memeluknya, lalu dia tersadar dan melepaskan diri.
"I-iya gapapa mas, saya juga minta maaf tadi ngga perhatiin jalan" ucap Sintia gugup.
"Karena kamu ngga kenapa napa saya permisi dulu ya" ucap pria tersebut lalu segera pergi meninggalkan Sintia, Sintia menatap punggung pria itu dengan tatapan kagum.
"Masya Allah ganteng pisan, andai dia jodohku, hihihi" gumam Sintia lalu terkekeh, dia pun kembali mencari kantin karena perutnya sudah mulai keroncongan.
.
.
Ridwan sedang bersandar di sofa, setelah mengantarkan bu Khadijah pulang dia pun kembali ke rumah nya, Mutia datang menghampiri suaminya sambil membawa secangkir kopi.
"Terima kasih sayang" Ridwan mengambil kopi itu dan menyeruput nya.
"Neng, akang ngerasa ada yg aneh sama Mira" tanya Ridwan.
"Aneh? Aneh bagaimana kang? "
"Katanya Mira sakit demam, tapi kok sampai muntah ya? Akang selama sakit demam ngga pernah sampai muntah loh, kecuali... " ucap Ridwan menggantung.
"Kecuali apa kang? " tanya Mutia sedikit gusar.
"Kecuali Mira ada sakit maag" jawab Ridwan. Mutia menghela nafasnya lega, dia takut suaminya mencurigai kondisi Mira.
'Hampir saja jantung ku copot' gumam Mutia dalam hati.
"Mungkin aja kang, kita do'akan saja ya semoga neng Mira segera pulih" ucap Mutia sambil bersandar di dada suaminya.
"Iya sayang".
.
__ADS_1
.
Perawat sedang menyuntikkan obat penghilang rasa mual pada Mira karena tadi Mira mulai muntah kembali, setelah menyuntikkan obat sangat perawat pun pergi.
Dhiwa menatap Mira dengan rasa tak tega, " maafin mas ya dek, karena mas kamu jadi seperti ini" ucap Dhiwa lirih.
"Gapapa kok mas, mungkin ini perbawa hamil, nanti juga hilang kok" ucap Mira berusaha tersenyum.
"Kamu memang wanita yg kuat, bidadari nya mas dan juga calon anak kita" ucap Dhiwa sambil mengusap perut Mira.
Sintia baru saja kembali dari kantin dan masuk ke dalam terkejut melihat Dhiwa yg sedang menciumi perut Mira.
Mira terkejut saat melihat Sintia datang lalu dia mendorong kepala Dhiwa. Dhiwa menoleh dan menatap Sintia yg tengah memperhatikan mereka.
Sintia mendekati Mira dengan tatapan curiga, Mira merasa gugup tapi Dhiwa memberikan kode lewat matanya agar Mira jangan gugup.
"Teteh, apa yg tadi neng dengar itu benar? " tanya Sintia dengan mata yg mulai mengembun.
Mira terdiam, dia tak berani menjawab pertanyaan Sintia.
"Jawab teteh, Sintia janji akan merahasiakan nya dari ibu dan pak Ridwan" bujuk Sintia.
"Iya neng, teteh sedang mengandung" jawab Mira mulai terisak.
DEG!
Jantung Sintia seakan berhenti berdetak, ternyata dugaan nya selama ini benar tentang Mira, Sintia memegang tangan Mira sambil meneteskan air mata.
"Kenapa teteh ngga bilang sama neng, kenapa teteh memendam ini sendiri? " tanya Sintia sambil terisak.
Mira tak bisa menjawab nya, dia pun ikut terisak, Dhiwa yg merasa tak tega lalu mengusap air mata Mira.
"Dek kamu jangan menangis, nanti mual lagi" pinta Dhiwa.
"Pak Dhiwa akan bertanggung jawab kan sama teh Mira? " tanya Sintia sambil terisak.
"Iya neng, saya sudah berjanji akan menikahi Mira" jawab Dhiwa mantap.
Sintia segera memeluk tubuh Mira yg masih terbaring, Mira mengelus punggung suntik dengan lembut.
"Pokoknya seterusnya teteh harus ngomong sama neng, apapun yg teteh rasain, jangan sampai teteh memendam sendiri sampai sakit seperti ini lagi ya" bujuk Sintia.
"Iya neng teteh janji" ucap Mira sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sebenarnya mas Dhiwa.... "