
Dhiwa sedang memikirkan alasan yg tepat agar dia bisa menemani Mira di rumah sakit, sebenarnya dia tak ingin membohongi Mirna akan tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan Mira yg sedang lemah.
Akhirnya Dhiwa mengirimkan pesan kepada Mirna.
"Assalamu'alaikum.bunda malam ini ayah tugas shift dadakan" lalu Dhiwa menekan tombol kirim. Tak lama Mirna membalas.
"Wa'alaikumussalam, iya ayah. Ayah ngga pulang dulu? " tanya Mirna.
"Ngga bun, kamu hati hati ya di rumah sama anak anak" jawab Dhiwa, walau bagaimana pun dia tetap memperdulikan keluarga nya.
Mirna hanya menghela nafas, dia merasa belakangan ini suaminya sering bertingkah aneh dan sedikit mencurigakan , mungkin ini adalah naluri murni seorang istri yg merasakan bilamana suaminya berbuat sesuatu di belakang maka insting seorang istri akan otomatis terhubung.
"Semoga ini hanya pemikiran ku saja, aku yakin ayah takkan berbuat macam macam diluar sana" gumam Mirna.
.
.
Lepas magrib Dhiwa pun sampai di rumah sakit, dia membawa beberapa buah dan cemilan untuk Mira dan Sintia.
Saat Dhiwa masuk ke dalam kamar, dia melihat ada ridwan sedang berbincang dengan Mira dan Sintia, sedangkan Mutia sudah pulang ke rumah di antar oleh ridwan.
"Assalamu'alaikum" ucap Dhiwa.
Mereka semua menoleh ke arah pintu, ridwan menatap Dhiwa tajam, Dhiwa menelan ludahnya merasa gugup.
Dia mengulurkan tangan hendak bersalaman dengan ridwan, tapi tiba-tiba saja ridwan berdiri dan mencengkram kerah kemeja Dhiwa.
"Aa jangan! " seru Mira.
"Kenapa kamu berani mempermainkan adikku? Dasar pria brengsek! " ridwan memukul pipi Dhiwa hingga Dhiwa tersungkur.
Dhiwa terperangah, dia merasa bingung dengan ucapan ridwan.
"Mira adalah adikku satu satunya, kenapa kau tega mempermainkan hidupnya hanya demi nafsu sesaat mu hah! "
"Aa Mira mohon jangan pukul lagi, kasihan mas Dhiwa" ucap Mira memohon.
"Cih, bahkan kau masih dapat pembelaan dari adikku" rutuk ridwan.
Mira memberi kode kepada Sintia, lalu Sintia menghampiri Dhiwa dan membantunya berdiri.
"Bapak ngga apa apa? " tanya Sintia.
"Gak apa apa" jawab Dhiwa sambil memegang pipinya yg terasa ngilu.
Ridwan kembali duduk dengan nafas yg masih terengah-engah, dia beristighfar berkali-kali mencoba meredam amarah nya.
Mira menangis melihat Dhiwa di pukul oleh kakaknya, Dhiwa bangkit lalu berjalan menghampiri ridwan, kemudian dia bersimpuh di depan ridwan. Mira dan Sintia terkejut melihat aksi Dhiwa.
__ADS_1
"Maafkan saya yg tidak tau diri ini, saya telah melakukan kesalahan, saya sudah menipu dan merebut kesucian Mira, saya sudah berjanji akan bertanggung jawab dan menikahi Mira karena saya mencintai nya" ucap Dhiwa sambil menundukkan kepala.
"Lalu bagaimana dengan keluarga mu? Apakah mereka akan setuju? Dan juga pekerjaan mu setahuku kau tidak bisa memiliki istri lebih dari satu bukan? " tanya ridwan sinis.
"Saya akan memberitahu keluarga saya, tapi sebelumnya saya minta maaf karena saya hanya bisa menikah siri dengan Mira, bukan maksud saya untuk menutupi status pernikahan kami, hanya saja cuma dengan jalan ini agar saya bisa tetap bekerja dan menafkahi mereka" ucap Dhiwa mencoba meyakinkan ridwan.
"Kapan kau akan menikahi adikku? ".
" jika abang sudah memberikan restu, saya akan langsung menikahi Mira ".
" mungkin aku bisa menerima ini, tapi aku khawatir ibuku, beliau belum tau hal ini. Aku akan mencoba memberitahu beliau dengan hati hati jangan sampai beliau syok dan penyakit nya kambuh" ucap ridwan sambil memegang kepalanya, dia merasa pusing.
"Saya sangat berterima kasih karena abang sudah memberikan restu untuk hubungan kami, saya berjanji akan menjaga, melindungi dan menyayangi Mira selamanya" ucap Dhiwa.
"Aku tak butuh janjimu, tapi buktikan saja" ledek ridwan.
Ridwan meminta Dhiwa untuk bangkit, dia lalu memeluk tubuh Dhiwa.
"Maafkan tadi aku emosi, rasanya gatal jika tak memukulmu" ucap ridwan.
"Tak apa abang, saya pantas mendapatkan nya" Dhiwa tersenyum kecut.
Ridwan menghampiri Mira, "dek aa pulang dulu ya, do'akan semoga aa bisa bicara baik baik dengan mama, semoga kamu cepat pulih" ridwan mencium kepala Mira lalu Mira mencium tangan ridwan.
"Makasih aa, aa sudah mau menerima mas Dhiwa dan merestui hubungan kami" ucap Mira sambil meneteskan air mata.
"Aa hanya berusaha jadi kakak yg baik dan adil, semoga Allah tak marah kepada ku dan tak menyalahkan ku atas keputusan yg aku ambil ini untukmu, aa pamit dulu ya kasihan teteh Mutia di rumah menunggu" ridwan pun pamit kepada mereka bertiga.
Dhiwa menghampiri Mira lalu memeluknya. Dia mengusap kedua pipi Mira.
"Bagaimana abang ridwan bisa tahu? " tanya nya.
Mira pun lalu menceritakan semuanya, dhiwa mengambil nafas berat, lalu dia mengecup kening Mira dengan lembut.
"Ya sudah kamu jangan banyak pikiran ya, mas bawain buah, kamu mau? " tanya Dhiwa.
Mira mengangguk lalu Dhiwa bangun mengambil buah yg ada di atas meja dan menyuapi Mira.
.
.
3 hari telah berlalu, Mira sudah keluar dari rumah sakit, sekarang Mira tak sendirian di rumah, ada Sintia yg menemaninya.
Dhiwa sudah 2 hari tak berkunjung karena dia sedang banyak tugas, hanya bisa menelpon dan video call sesekali untuk menanyakan kondisi Mira.
Ridwan sedang mencari cara agar bu Khadijah tidak terkejut saat mendengar tentang aib Mira, walaupun hatinya was was tapi ridwan harus segera memberitahukan sang ibu.
.
__ADS_1
.
Malam ini rencananya Dhiwa ingin berbicara dengan Mirna soal pernikahan nya dengan Mira, Dhiwa tau ini akan sangat menyakitkan bagi Mira tapi dia pun tak bisa meninggalkan Mira yg sedang mengandung anaknya. Dhiwa adalah sosok yg berprinsip tinggi.
Mirna keluar dari kamar tika setelah menidurkan nya, dia menghampiri suaminya yg sedang duduk di sofa dengan tatapan yg gelisah.
Mirna duduk di samping Dhiwa, dan menatap nya bingung.
"Ayah kenapa bunda perhatikan gelisah banget daritadi? " tanya Mirna.
"Bun, ada hal penting yg mau ayah bicarakan dengan bunda, tapi pertama tama ayah minta tolong bunda jangan emosi dulu ya" bujuk Dhiwa.
"Bicara apa yah? Kayaknya serius banget" ledek Mirna tapi hatinya penasaran.
"Bun ayah ingin menikah lagi" ucap Dhiwa.
DUAR!!
Mirna yg tadinya tersenyum seketika terdiam, dia tertegun tak percaya dengan omongan suaminya, jantung nya terasa berhenti berdetak.
"Ayah jangan bercanda deh" ucapnya.
"Ayah serius bun, maafkan ayah. Tapi ayah harus menikahinya karena dia tengah mengandung".
" APA??!! " teriak Mirna. Dia benar-benar tak percaya dengan ucapan Dhiwa.
Mirna memegangi dadanya yg terasa sesak, ia tak kuasa menahan air mata nya, hatinya serasa hancur. Selama ini dia selalu menganggap Dhiwa suami yg baik, sholeh tak pernah genit terhadap perempuan lain tapi tiba-tiba saja Mirna mendengar pernyataan suaminya yg menurutnya tak masuk akal.
Dhiwa pun menceritakan semuanya kepada mirna, mulai dari awal sampai akhir, Mirna menangis histeris merasa hancur. Hancur sudah rumah tangga yg dia bina selama bertahun-tahun karena penghianat an suaminya.
Dhiwa memeluk tubuh istrinya yg bergetar hebat, dia tau saat ini hati Mirna sangat hancur, Mirna terdiam dalam tangisnya.
"Bun, ayah mohon izinkan ayah menikahinya, ayah janji akan adil kepada kalian berdua" bujuk Dhiwa
Mirna mengusap air matanya, dia mencoba untuk tegar di hadapan Dhiwa.
"Apa bunda boleh bertemu dengan nya? " tanya Mirna.
"Apa bunda yakin? "
"Kenapa? Ayah takut bunda berbuat jahat kepada nya? " tanya Mirna sinis.
"Tidak, ayah tau bunda wanita yg baik dan sholehah" jawab Dhiwa.
Mirna merasa muak dengan pujian Dhiwa, kalau dulu dia akan tersipu malu tapi sekarang rasanya muak sekali, karena rasa cinta kini telah berubah menjadi rasa kecewa.
.
.
__ADS_1
Mira sudah mulai sehat, dia sudah bersiap untuk ke toko hari ini, Sintia sudah berangkat duluan karena hari ini dia harus mengecek barang yg datang.
Bel rumah berbunyi, Mira yg sedang memakai kerudung segera berjalan menuju pintu, saat dia membuka nya dia pun diam mematung.