
Mira terbangun, dia mengerjapkan matanya yg terasa sedikit bengkak. Saat Mira menoleh dia melihat Dhiwa tengah tertidur sambil duduk di sofa miliknya.
Mira menatap Dhiwa dengan tatapan haru,begitu besar perhatian darinya untuk Mira, bahkan dia rela menunggu Mira tertidur karena mengkhawatirkan nya.
Mira bangkit dan menghampiri Dhiwa, dia duduk di tepi ranjang lalu menepuk punggung tangan Dhiwa perlahan.
Dhiwa menggeliat sambil mengucek matanya. Dia terkejut saat melihat Mira sudah bangun dan tengah duduk di hadapan nya.
"Kamu sudah bangun dek, maaf mas ketiduran" ucap Dhiwa sambil membenarkan posisi duduk nya.
"Kenapa mas masih disini? " tanya Mira.
"Mas takut kamu melakukan hal yg berbahaya, makanya mas tunggu sampai kamu bangun" jelasnya.
Mata Mira mulai mengembun kembali, dia merasa bersalah karena telah menyiksa Dhiwa dengan sikap nya. Sudah dia putuskan untuk menerima tawaran dari Dhiwa.
"Jangan menangis lagi, matamu sudah bengkak Dek" pinta Dhiwa sambil mengusap pipi Mira.
"Aku sudah pikirkan matang matang mas, aku bersedia menikah siri demi anak ini" ucap Mira sambil mengelus perutnya yg rata.
Dhiwa tertegun, dia merasa lega karena akhirnya Mira bersedia menikah dengannya.
"Mas janji akan adil, mas akan merawatmu dan calon anak kita" ucap Dhiwa senang sambil mengelus perut Mira.
"Kamu lapar tidak? Aku masakin kamu ya, anak kita perlu nutrisi untuk tumbuh dek" ucapnya.
"Memangnya mas bisa masak? " tanya Mira.
"Bisa sedikit, kamu tunggu ya mas siapkan dulu" Dhiwa bangkit mengecup kening Mira lalu pergi menuju dapur.
"Semoga aku bisa ikhlas menjalani hidupku ini, dan semoga keluarga ku bisa menerima mu mas" gumam Mira.
Tak lama Dhiwa pun kembali dengan membawa sepiring nasi goreng, aroma nya sangat lezat membuat perut Mira keroncongan.
"Sudah lapar ya, sini mas suapi" ujarnya.
"Aku makan sendiri saja mas, ini sudah malam nanti mereka menunggu" ucap Mira sedikit canggung saat menyebutkan kata 'mereka'.
"Tak apa, aku sudah bilang pulang agak malam. Nah sekarang buka mulutnya" titahnya, lalu Mira membuka mulutnya.
Mira membulatkan matanya, dia tak menyangka jika Dhiwa pandai memasak.
"Gimana? Enak tidak? " tanya Dhiwa penasaran.
"Enak mas" jawab Mira
__ADS_1
Dhiwa tersenyum senang lalu kembali menyuapi Mira, tapi baru beberapa suap Mira makan dia langsung merasa mual, dia pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Dhiwa panik lalu mengejar Mira dan memijat tengkuknya.
"Kita ke dokter ya dek" ajaknya.
"Ngga mas, nanti juga enakan" tolak Mira.
"Kalau ngga minum obat kamu pasti akan muntah terus dek, nurut ya kita ke dokter" paksa Dhiwa.
Akhirnya Mira pun mengalah, dia sudah lemas karena sering muntah dan lelah bekas menangis, dia pun salin baju lalu di tuntun Dhiwa masuk ke dalam mobil.
.
.
Sesampainya di klinik, Mira pun di periksa oleh dokter.
"Selamat ya, ibu sedang hamil dan usia kandungan nya 5 minggu, diusahakan jangan stres dan jangan capek capek ya bu" saran dokter.
"Terima kasih Dokter" ucap Dhiwa, sedangkan Mira hanya diam saja.
"Ini resep obat dan vitamin, di minum setelah makan ya" titah dokter.
Mereka mengangguk lalu pamit dari tempat itu, Dhiwa meminta Mira untuk duduk di ruang tunggu sementara Dhiwa pergi ke bagian farmasi untuk mengambil obat.
Tiba-tiba ada yg menyapa Mira, membuat Mira terkejut.
"Messa... " jawab Mira.
Messa mendekati Mira lalu duduk di samping nya, "lo ngapain ada disini? Lo sakit? " tanyanya heran.
"Hmm iya Sa, gue habis berobat" jawab Mira gugup.
"Lo sama siapa? Aa Ridwan ya? " tanya nya kembali.
Mira menggeleng, membuat Messa bingung, saat Messa ingin bertanya kembali tiba-tiba Dhiwa datang.
"Dek ayo kita pulang" ajak Dhiwa.
Messa menatap Mira dan Dhiwa bergantian,Mira yg melihat Messa bingung lalu memperkenalkan Dhiwa kepada nya.
"Ini calon suami gue Sa" ucap Mira.
"Ohh, hallo saya Messa temannya Mira" ucap Messa sambil mengulurkan tangan.
"Dhiwa, kami permisi dulu ya karena Mira harus istirahat" ucap Dhiwa membalas uluran tangan Messa lalu bergegas membawa Mira pulang.
__ADS_1
.
.
Sesampainya di rumah, Mira bersandar di ranjang, Dhiwa menyodorkan obat dan vitamin kepada Mira.
Dhiwa tak tega meninggalkan Mira sendiri apalagi kondisinya seperti ini, tapi dia bingung mencari alasan kepada Mirna jika dia tak pulang.
Mira dapat melihat kegelisahan Dhiwa lalu mengusap punggung tangan Dhiwa.
"Kamu pulang saja mas, aku tak apa apa" ucap Mira.
"Aku tak tega meninggalkan mu sendiri dek" ucap Dhiwa sendu,
"Tak apa mas, besok mas bisa kesini lagi. Pulanglah" bujuk Mira meskipun dalam hatinya tak rela.
Dhiwa menghela nafasnya berat, "baiklah, jika ada apa apa kabari mas ya, mas akan usahakan datang" ucap Dhiwa sambil menggenggam tangan Mira, dia menatap Mira sedih karena harus pergi meninggalkan Mira seorang diri.
"Iya mas, hati hati jalan pulang ya" ucap Mira, lalu Dhiwa mengecup bibir Mira sekilas dan mengecup perut Mira.
"Anak papa yg baik ya didalam sana, jangan siksa mama ya" bisiknya.
Mira merasa hangat mendengar ucapan Dhiwa, dia tak menyangka kalau Dhiwa sangat menyayangi calon anak mereka.
"Mas pulang dulu ya dek, Assalamu'alaikum" Dhiwa berpamitan dengan Mira,
"Wa'alaikumussalam" Mira menatap kepergian Dhiwa dengan sedih, akan tetapi dia berusaha kuat demi janin yg ada dalam perutnya.
"Sabar ya nak, nanti kita pasti akan berkumpul dengan papa" bisiknya sambil mengusap perutnya.
.
.
Dhiwa tiba di rumah pukul 10 malam, saat masuk ke dalam kedua anaknya sudah tertidur, Mirna bangun membukakan pintu untuk suaminya.
"Maaf mas baru pulang" ucap Dhiwa.
'Mas? Kenapa Ayah menyebut dirinya Mas? ' gumam Mirna dalam hati.
"Iya Yah, Ayah sudah makan? " tanya Mirna.
Dhiwa terkejut karena tadi dia keceplosan menyebutkan panggilan dirinya, dia pun terlihat sedikit gugup.
"Sudah tadi, Ayah mau mandi ya Bun" Dhiwa pun bergegas menuju kamar mandi.
__ADS_1
Mirna menatap punggung suaminya dengan bingung, tapi dia tak ingin berpikir lebih, dia pun menyusul suaminya ke dalam kamar.