Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 24.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum" sapa seseorang yg baru saja datang memotong ucapan Mira.


Mereka bertiga melirik ke arah pintu, ternyata yg datang adalah Mutia.


"Wa'alaikumussalam" jawab mereka berbarengan.


"Dek bagaimana kabarmu? " tanya Mutia menghampiri Mira.


"Alhamdulillah lebih baik teh, teteh sama siapa kesini? ".


"Sendiri, tadi di antar akang Ridwan sampai depan rumah sakit " Mutia melirik ke arah Dhiwa, Dhiwa tersenyum sambil menganggukkan kepala nya sopan.


"Ini teteh bawain buah, mudah mudahan bisa bikin kamu lebih segar" ucap Mutia sambil menyodorkan kantong berisi buah mangga, manggis dan buah naga.


"Wah makasih teh, aku memang lagi ingin makan buah" ujar Mira sumringah.


Mutia tersenyum, lalu Sintia menyodorkan kursi untuk Mutia.

__ADS_1


"Silahkan duduk bu Mutia" ucap Sintia.


"Makasih neng" jawabnya lalu dia pun duduk.


"Mau mas kupasin buahnya? " tanya Dhiwa.


"Mau mas" jawab Mira antusias, Dhiwa lalu mengupas buah untuk Mira, anehnya Mira tak merasa mual saat makan buah, berbeda dengan jika dia makan nasi pasti langsung mual.


Dhiwa menatap Mutia dengan tatapan yg menyelidik,dia merasa jika wanita itu seperti mengetahui sesuatu.


"Dek, sebelumnya teteh mau minta maaf sama kamu, bukan teteh ingin ikut campur urusan kalian, tapi sebaiknya kalian secepatnya memberitahu ibu dan juga akang tentang masalah ini, sebelum maaf... Kandungan mu bertambah besar" Mutia memberikan saran, mereka bertiga terkejut, Mira menatap Mutia bingung karena pasalnya tak ada yg tau tentang hal ini, baru Sintia saja.


"Kamu pasti bingung ya kenapa teteh bisa tau? " tanya Mutia sambil tersenyum, Mira mengangguk, lalu Mutia mendekatkan kursinya ke ranjang Mira.


"Teteh ngga sengaja mendengar nya waktu itu saat teteh mau mampir ke rumah mu sepulang dari supermarket, jujur teteh sangat terkejut. Sesungguhnya apa yg kalian perbuat adalah suatu kesalahan, mungkin ibu dan juga akang takkan menerima hal ini pada awalnya, tapi jika kalian memang ingin melakukannya karena tujuan ibadah dan juga bersungguh-sungguh ingin tanggung jawab atas kesalahan dan juga dosa kalian teteh do'akan semoga niat kalian bisa di Terima dan diberikan kelancaran." ucap Mutia panjang lebar.


Dhiwa dan Mira terdiam, merenungi setiap ucapan Mutia, hati Mira tersentil karena apa yg mereka lakukan seharusnya tak boleh di lakukan sebelum mereka menikah.

__ADS_1


"Dan untuk mas Dhiwa, maaf bukan saya hendak menggurui akan tetapi kalau bisa permasalahan ini harus di beritahukan kepada istri pertama mas, jangan sampai nanti mereka salah paham dan memojokkan Mira, karena disini mas Dhiwa yg salah karena telah berbohong dan membuat Mira jatuh cinta hingga kejadian ini tak bisa di hindari. Mintalah persetujuan istri pertama mas sebelum meminang adikku Mira, semoga keluarga mas Dhiwa bisa menerima nya dengan lapang dada meskipun saya tau akan sangat menyakitkan,perempuan mana yg mau di madu, tak akan pernah ada kecuali perempuan itu special di mata Allah" ucap Mutia memberikan saran.


Dhiwa menoleh ke arah Mutia, apa yg Mutia ucapkan semuanya benar, Dhiwa pun memantapkan hatinya untuk berbicara dengan Mirna.


"Baik, saya akan mencoba membicarakan hal ini secepatnya, sayang maafkan mas yg sudah membuat mu menderita seperti ini, mas benar-benar bersalah. Semoga kesalahan mas ini bisa menjadi teguran untuk mas supaya kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi" ucap Dhiwa sambil menatap Mira.


"Iya mas, aku sudah memaafkan mu. Kamu mau bertanggung jawab saja aku sudah bersyukur, dan semoga niat baikmu di mudahkan ya mas" Mira mengulurkan tangan ke arah Dhiwa, Dhiwa mendekati Mira dan memeluknya dari samping. Nampak jelas bahwa Dhiwa sangat mencintai Mira, hanya saja statusnya yg membuat keadaan menjadi rumit.


"Apapun yg terjadi, mas akan tetap menikahi kamu, mas janji Mira" ucap Dhiwa mantap.


Itulah cinta, kadang datang tanpa di duga, tak pernah terbesit sebelum nya dalam hati Dhiwa bahwa dia akan mencintai Mira sedalam itu, memang terkadang bisikan syetan itu bisa menggoyahkan iman seseorang, semakin tinggi iman semakin besar godaan yg datang.


Dhiwa pun pamit untuk kembali ke kantor karena dia sudah terlalu lama pergi, dia takut komandan mencurigai nya.


"Teh Mutia, menurut teteh apa aa ridwan akan menerima kondisi Mira? Mira takut aa akan murka dan mira juga takut kalau nanti mama syok dan penyakit mama kambuh bagaimana? " tanya Mira khawatir.


"Teteh juga bingung dek, mungkin sebaiknya kita beritahu akang ridwan dulu saja, karena memberitahukan ibu kita harus berhati-hati jangan sampai ibu menjadi syok jika tau kamu... "

__ADS_1


"Jika tau apa? " tanya seseorang tiba-tiba memotong ucapan Mutia, membuka Mutia dan yg lainnya terdiam dan gugup.


__ADS_2