Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 14.


__ADS_3

Sukri datang dengan membawa kantong plastik berisi buah manggis, lalu dia menyerahkan kepada Sintia.


Sintia membawa buah manggis tersebut kepada Mira, Mira tersenyum senang saat melihat pesanannya tiba.


"Wah buah manggis" serunya.


"Teteh bukannya gak suka manggis ya? " tanya Sintia heran.


"Engga tau Sin, tiba-tiba aku ingin manggis" jawabnya lalu langsung mengambil satu dan mengupas nya.


"Ehmmmm enaknya" gumamnya lalu mengambil kembali buah manggis.


Sintia menatap Mira dengan tatapan heran, karena biasanya Mira akan menolak jika di tawarkan buah manggis, tapi kali ini malah terlihat sangat menikmati.


"Teteh aneh deh, makin Sintia perhatiin kayak orang ngidam" celetuknya.


Mira menghentikan makannya, dia termenung memikirkan ucapan Sintia. Rasa takut kembali menyeruak di hatinya.


Sintia yg melihat perubahan ekspresi Mira langsung merasa bersalah.


"Teteh maafin neng ya, neng cuma asal ucap" ucapnya sambil memegang tangan Mira.

__ADS_1


Mira tersenyum kecut, bohong kalau Mira saat ini tak gelisah, dia pun sangat tegang saat ini, dia berdoa dalam hati semoga ini hanya keinginan semata bukan karena ngidam.


"Iya gapapa Sin, entah lah teteh mungkin mulai menyukai buah ini. kamu mau? Ambil nih" ujar Mira, Sintia lalu mengambil buah tersebut lalu menemani Mira makan bersama.


.


.


Dhiwa baru saja bangun dari tidur siangnya, dia mengambil ponsel dan mengecek pesan yg masuk.


Matanya membulat saat membaca pesan dari Mira.


Dhiwa mengacak rambutnya dan meremas wajahnya, jantung nya berdetak kencang, dia sangat khawatir jika Mira sampai hamil.


"Apa yg harus aku lakukan jika Mira sampai hamil? Bodohnya aku! " rutuknya.


Dia pun membalas pesan Mira, "coba kamu beli tespek Dek" lalu Dhiwa mentransfer sejumlah uang untuk Mira membeli tespek dan meletakkan kembali ponselnya.


Dhiwa termenung membayangkan jika nanti Mira hamil maka dia harus menikahi Mira, meskipun hanya bisa menikah siri karena seorang TNI tak boleh menikah lebih dari satu wanita, jika ketahuan maka dia akan di pecat dari jabatannya.


Dhiwa menghembuskan nafas dengan berat, dia saat ini sangat pusing memikirkan segalanya. Dia merutuki dirinya yg terlalu ceroboh saat itu.

__ADS_1


Jika saja dia bisa menahan diri mungkin saat ini dia takkan pusing memikirkan urusan nya dengan Mira, nasi sudah menjadi bubur. Dia harus siap dengan segala kemungkinan yg akan terjadi kedepannya.


.


.


Mira mampir ke apotik sebelum pulang ke rumah nya, dia membeli 2 tespek dengan merk yg berbeda, setelah membayar Mira pun segera pulang.


Esok paginya Mira sudah berada di kamar mandi sambil memegang 2 buah tespek di tangannya, jujur saat ini jantungnya sangat deg deg an, dia berharap hasilnya negatif.


"Ya Allah lindungi lah aku" ucapnya lalu menyelubkan tespek ke urin.


Dia menunggu dengan cemas, setelah beberapa saat garis nya mulai terlihat.


Mira tercengang, tangannya dan tubuhnya bergetar hebat, tangisnya pecah saat melihat tespek tersebut. Terpampang jelas 2 garis disana, Mira menjatuhkan tespek tersebut sambil terisak, dia memukul kepalanya berkali-kali karena merutuki dirinya, dia merasa bersalah, takut, semua menjadi satu.


"Bagaimana ini ya Allah? " rintihnya sambil bersandar di dinding toilet, dia menangis sejadi-jadinya. Jujur dia belum siap dengan semua ini.


"Mama dan aa pasti akan murka padaku, ini semua salahku" rutuknya sambil menangis.


Mira memungut kembali tespek itu dan membawanya ke kamar, dia berniat untuk menemui Dhiwa dan membicarakan soal ini kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2