Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 8.


__ADS_3

Dhiwa kembali ke kamarnya, dia mengambil ponsel dan ternyata ponselnya mati. Dia pun segera mengisi baterai ponselnya lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan sholat subuh.


Setelah selesai sholat, Dhiwa menyalakan ponselnya, dia terkejut karena banyak sekali panggilan dan juga pesan dari istrinya.


Dhiwa pun lalu menelpon Mirna, sekali tak di angkat, kedua kalinya Mirna pun mengangkat nya.


"Assalamu'alaikum bunda, maaf ponsel Ayah semalam mati. Ada apa Bunda?" tanya Dhiwa saat telpon tersambung.


"Wa'alaikumussalam, ya Allah Ayah! Bunda kemarin khawatir banget, Bunda gelisah Yah" ucap Mirna sambil terisak.


"Bunda kenapa? Kok nangis? " tanya Dhiwa bingung.


"Bunda kepikiran sama Ayah, Ayah ngga kenapa napa kan? " jawab Mirna sambil sesegukan, Dhiwa merasa tidak enak hati mendengar istrinya menangis.


"Maafin Ayah ya, semalam HP Ayah mati, Ayah lupa bawa charger. Ini baru sampai penginapan mau siap siap untuk pulang. Bunda jangan nangis lagi ya sebentar lagi kita ketemu" ucap Dhiwa mencoba menghibur istrinya.


Istri mana yg tidak akan gelisah saat suaminya tidur bersama wanita lain, Dhiwa dapat merasakan kegelisahan istrinya, dia juga menyadari kesalahannya tapi mau gimana. Nasi sudah menjadi bubur, Dhiwa sudah terjerat nafsu nya sendiri.


"Iya Ayah, Bunda tunggu. Ayah hati hati pulang nya ya" ucap Mirna di seberang sana lalu mengakhiri telponnya.


Dhiwa membuang nafasnya kasar sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Dia merasa bersalah karena telah membohongi Mirna. Tetapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia sudah jatuh cinta kepada Mira.


Dhiwa kemudian berganti pakaian, tak lama pintu kamarnya di ketuk oleh Mira.


Dhiwa segera menuju pintu dan membukakan pintu.


"Mas sudah siap? " tanya Mira sambil membawa tasnya.


"Sudah dek, ayo kita berangkat" jawab Dhiwa lalu dia mengambil kunci mobil di atas meja. Mira tertegun saat Dhiwa memanggilnya dengan sebutan "Dek".


Mira terus saja menatap Dhiwa, Dhiwa yg merasa di perhatikan kemudian balik menatap Mira.


" kamu kenapa kok liatin aku kayak gitu? "Tanya Dhiwa sambil tersenyum.


" Tadi mas manggil aku apa? "Tanya Mira balik.

__ADS_1


" Dek "Jawab Dhiwa lalu Dhiwa pun balik bertanya " kenapa? Kamu ngga suka ya? "


" Engga kenapa napa kok Mas" ucap Mira, entah kenapa hatinya merasa menghangat saat Dhiwa memanggilnya dengan sebutan itu.


Dhiwa menyerahkan kunci kepada reseptionis lalu mereka berjalan menuju parkiran mobil.


"Nanti di Bandung kita mampir dulu ya Mas" ucap Mira.


"Mau ngapain? " tanya Dhiwa penasaran.


"Mau beli oleh oleh untuk karyawan aku" jawab Mira sambil memainkan ponselnya.


"Ohh, siap Ibu Ratu! " seru Dhiwa sambil menempelkan tangan di keningnya seperti sedang hormat.


"Kok Ibu Ratu sih? " tanya Mira sambil melotot.


"Kan kamu calon Ibu dari anakku" jawab Dhiwa sambil tersenyum ke arah Mira.


Mira terkejut saat mendengar perkataan Dhiwa, kemudian dia teringat kejadian semalam kalau mereka melakukan hubungan tersebut tanpa pengaman.


"Mas soal semalam... Kalau aku hamil gimana Mas? " tanya Mira ragu ragu.


Mira hanya mengangguk tapi biar bagaimanapun hatinya merasa cemas, di satu sisi dia senang karena Dhiwa tegas berjanji akan bertanggung jawab jika dia sampai hamil. Tapi Mira juga takut kalau sampai dia hamil duluan sedangkan hubungan mereka baru seumur jagung.


Begitupun dengan Dhiwa,Meskipun Dhiwa berjanji akan bertanggung jawab tapi dia masih ada rasa takut kalau benar Mira sampai hamil bagaimana respon Mirna dan orang tuanya saat mengetahui perselingkuhannya.


'Semoga Mira tidak hamil, bodohnya aku tak memakai pengaman semalam' bisik Dhiwa dalam hati.


.


.


Sesampainya di Bandung, Dhiwa mampir ke salah satu apotek.


"Kamu tunggu sebentar ya" ucap Dhiwa.

__ADS_1


Mira hanya mengangguk lalu Dhiwa bergegas turun dari mobil.


Tak lama Dhiwa pun kembali dengan membawa sebuah kantong plastik kecil berisi obat kontrasepsi.


"Kamu minum ini dulu ya" titahnya.


"Ini obat apa mas? " tanya Mira bingung.


"Kontrasepsi, supaya kamu tidak hamil" jawab Dhiwa, Mira mengambil pil tersebut lalu meminumnya.


Dhiwa menghembuskan nafasnya lega sambil berdo'a dalam hati semoga dengan meminum pil itu Mira tak cepat hamil.


"Kita lanjut lagi ya" ucap Dhiwa.


Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali, mereka sempat berhenti kembali beberapa kali untuk sholat dan beli oleh oleh.


Akhirnya mereka pun sampai di toko milik Mira, Sintia segera berlari menghampiri Mira.


"Assalamu'alaikum" ucap Mira.


"Wa'alaikumussalam, Alhamdulillah teteh udah sampai" jawab Sintia lalu membantu Mira membawa barang barang dari dalam mobil.


"Mas makasih ya kamu udah nemenin aku dan mengantarkan aku pulang" ucap Mira.


"Sama sama Dek, Mas pulang dulu ya" jawab Dhiwa lalu mengecup kepala Mira, Sintia yg melihat nya langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya sedangkan Mira hanya terpaku saat di cium oleh Dhiwa.


Mira pun tersadar lalu mencium tangan Dhiwa "hati hati di jalan ya Mas, kabari aku kalau sudah sampai" Mira menatap Dhiwa penuh cinta.


"Iya Dek, Assalamu'alaikum" ucap Dhiwa.


"Wa'alaikumussalam" Mira melambaikan tangan saat Dhiwa pergi mengendarai motor nya.


"Teteh, teteh sama Pak Dhiwa udah jadian ya? " tanya Sintia penasaran.


"Hussttt... Jangan keras keras ngomong nya" jawab Mira sambil berbisik.

__ADS_1


"Cie.... Alhamdulillah doa aku terkabul, semoga teteh sama Pak Dhiwa langgeng sampai menikah ya. Hihi aamiin" ucap Sintia sambil tersenyum sumringah.


"Aamiin, semoga ya Sin, yuk masuk" ajak Mira.


__ADS_2