Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 22.


__ADS_3

Mereka berempat masuk ke dalam kamar tersebut, Dhiwa yg melihat ada yg datang langsung berdiri dan menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Assalamu'alaikum" sapa mereka.


"Wa'alaikumussalam" jawab Dhiwa gugup.


Terlihat ketegangan di antara mereka, Ibu Khadijah langsung menghampiri ranjang dan memeluk tubuh Mira.Mutia pun kemudian mengambil inisiatif menyenggol bahu suaminya, Ridwan tersadar lalu mendekati Dhiwa.


"Maaf anda siapa? " tanya Ridwan.


"Perkenalkan saya Dhiwa, kekasih Mira" Jawab Dhiwa mengulurkan tangan nya.


Bu Khadijah melirik ke arah Dhiwa, Mutia menyodorkan kursi untuk ibu mertua nya duduk.


"Sebenarnya apa yg terjadi? Kenapa Mira bisa pingsan? " tanya bu Khadijah sambil menitikan air mata.


"Tadi Mira menghubungi saya, dia meminta tolong saat saya tiba di rumah nya Mira sudah tergeletak di lantai, saya langsung membawanya kesini" ucap Dhiwa menjelaskan, sedangkan perasaan Mutia saat ini sedang cemas dan takut, sementara Sintia termenung tak mengerti apa yg terjadi.


"Apa kata dokter? " tanya Ridwan kembali.


"Mira demam dan dehidrasi dan harus di rawat inap"jawab Dhiwa sedikit gugup.


Ridwan menatap wajah Dhiwa dengan tajam, dia merasa seperti ada yg pria itu sembunyikan darinya.


Ridwan menghampiri adiknya yg sedang tertidur dengan wajah yg pucat, dia menggenggam tangan adiknya dan mengelus pipinya.


" maafkan aa yg tak bisa menjagamu dek, kenapa kamu ngeyel sekali, selalu merasa sok kuat padahal kamu sangat lemah" bisik Ridwan sambil menatap adiknya sendu.


Dhiwa menatap Ridwan dan bu Khadijah dengan perasaan bersalah, dapat terlihat bahwa mereka sangat menyayangi Mira. Entah bagaimana reaksi mereka saat tahu kalau sebenarnya Mira tengah hamil.

__ADS_1


"Ibu mengucapkan banyak Terima kasih karena nak Dhiwa sudah membawa Mira kesini" ucap bu Khadijah.


"Sama-sama Bu, itu sudah kewajiban saya" balas Dhiwa.


Tak lama perawat pun datang membawakan makanan untuk Mira, Dhiwa mengambil nampan tersebut dan menaruhnya di atas nakas.


"Ini makan siang untuk ibu Mira ya pak, di usahakan di makan sampai habis, jika mual dan muntah kembali bapak bisa panggil saya nanti saya berikan obat anti mual nya ya" ucap sang perawat.


"Terima kasih suster" ucap Dhiwa sambil menundukkan kepalanya.


Ridwan dan yg lain merasa heran, lalu Ridwan memberanikan diri bertanya kepada perawat tersebut.


"Maaf suster, tadi suster bilang mual muntah, memangnya adik saya sakit apa sus? " tanya Ridwan penasaran.


"Ibu Mira sedang ..."


"Mungkin efek demam jadi mual muntah mah, Terima kasih banyak suster" potong Mutia tiba-tiba.


Tak lama Mira pun tersadar, dia membuka matanya perlahan, dia menatap heran karena ada ibu, kakak, kakak ipar, Sintia dan juga Dhiwa disana.


"Mah... " ucapnya lirih.


"Nak, kamu sudah siuman? " tanya bu Khadijah.


"Dek apa yg kamu rasakan? " tanya Ridwan cemas.


Dhiwa hanya terdiam sambil menatap Mira, sedangkan Sintia menatap Dhiwa penuh tanda tanya.


'Sebenarnya teh Mira sakit apa sih? Kok aku merasa ada yg janggal ya' batin Sintia.

__ADS_1


"Mas Dhiwa" panggil Mira lirih, Dhiwa tersadar lalu mendekati Mira.


"Iya dek" ucap Dhiwa.


"Makasih ya mas udah bawa Mira kesini" ucapnya dengan nada yg lemah.


"Jangan bilang makasih, itu sudah jadi tanggung jawab ku dek" Dhiwa menatap Mira sedih.


"Mah, aa ini kekasih Mira" ucap Mira memperkenalkan Dhiwa.


"Iya nak kami sudah berkenalan tadi, kamu jangan banyak bicara dulu, istirahat dulu saja ya" ujar bu Khadijah sambil menaikan selimut di tubuh Mira.


"Maaf ibu, pak Ridwan. Sebaiknya ibu sama pak Ridwan pulang saja biar Sintia sama pak Dhiwa yg nungguin teh Mira, kasihan ibu Khadijah nanti ikutan sakit" usul Sintia.


"Iya benar apa kata Sintia mah, mama di rumah saja, biar nanti Wan dan Mutia yg bergantian menjaga Mira" ucap Ridwan.


"Yasudah kalau begitu, nak mama pulang dulu ya, kamu baik baik disini semoga cepat sehat kembali ya, itu mama ada bawa rendang kesukaan kamu nanti di makan ya" ucap bu Khadijah sambil menunjuk kotak makanan di atas meja.


Mira terharu, dia pun menitikan air mata namun segera di hapus oleh ibunya.


"Maafkan Mira mah" ucapnya lirih sambil terisak.


"Jangan seperti ini, kamu anak yg kuat. Kalau mau apa bilang sama aa mu nanti mama buatkan" ucap bu Khadijah lalu dia mencium kening putrinya.


"Nak Dhiwa ibu titip Mira ya, Sintia kamu bantu jaga Mira ya nak" titah bu Khadijah.


"Baik bu" ucap Dhiwa, " iya ibu tenang saja ada Sintia teteh pasti cepat sembuh " ucap Sintia sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Ridwan hanya tersenyum lalu dia mengusap kepala adiknya, dan mereka bertiga pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


'Kenapa aku merasa ada sesuatu yg sedang mereka tutupi ya? Apa cuma perasaan ku saja? 'Ucap Ridwan bertanya dalam hati nya, dia pun melirik sekilas ke arah istrinya, dia merasa kalau istrinya itu mengetahui sesuatu.


__ADS_2