Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 19.


__ADS_3

Pagi pagi sekali Dhiwa sudah bersiap untuk berangkat bekerja, dia sengaja berangkat lebih pagi karena ingin mengunjungi Mira terlebih dahulu.


"Ayah mau kemana pagi pagi sekali? " tanya Mirna heran.


"Ayah mau berangkat lebih awal bun, karena ada urusan dulu, kamu yg antar anak anak dulu ya" jawabnya lalu mengecup bibir Mirna dan bergegas pergi.


"Ayah ngga sarapan dulu? " tanya Mirna.


"Nanti saja di kantor, ayah berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum" Dhiwa pun pergi dengan motornya.


Mirna merasa bingung, karena suaminya beberapa hari ini terlihat agak berbeda. Tika terbangun mencari Ayahnya.


"Ayah mana bunda? " tanya tika sambil mengucek matanya.


"Ayah sudah berangkat Sayang, ayo kita mandi abis itu kita sarapan" ajak Mirna, tak lupa dia membangunkan Alvaro.


.


.


Dhiwa Sampai di rumah Mira, dia memencet bel tak lama Mira membukakan pintu.


"Assalamu'alaikum dek" ucap Dhiwa.


"Wa'alaikumussalam mas" jawab Mira.


Dhiwa pun masuk dan meletakkan bubur di atas meja, "Bagaimana kondisi kamu dek? Masih muntah? " tanya Dhiwa khawatir.


"Masih mas tapi ngga terlalu sering" jawab Mira lesu.


"Sarapan dulu ya habis itu minum obatnya lagi" Dhiwa mengambil bubur tersebut lalu dengan telaten menyuapi Mira. Mira sangat terharu dengan sikap Dhiwa yg sangat bertanggung jawab terhadap nya.

__ADS_1


Selepas makan, Dhiwa menyodorkan obat dan vitamin untuk Mira, Mira pun meminumnya.


"Kamu istirahat di rumah saja, jangan ke toko dulu ya. Ingat jangan capek capek dulu" perintah Dhiwa.


"Iya mas" jawab Mira singkat.


Dhiwa mendekatkan wajahnya ke perut Mira, lalu menciumnya.


"Assalamu'alaikum anak papa, jaga mama ya karena papa mau cari nafkah dulu untuk kalian" bisik Dhiwa.


Mira hanya tersenyum sambil memegang rambut Dhiwa, Dhiwa mengangkat wajahnya lalu mencium kening Mira, ciuman yg lama dan mendalam.


Mira memejamkan matanya merasakan desiran hangat dalam tubuhnya, Dhiwa melepaskan ciuman nya lalu menatap Mira.


"Mas mencintai kamu dek, sampai kapanpun" ucapnya tulus.


Mira menatap kedua mata milik Dhiwa, tak ada kebohongan yg nampak dikedua mata itu.


"Mas kerja dulu ya, kalau kamu ingin sesuatu kamu hubungi mas saja ya" perintah nya. Mira hanya mengangguk lalu dia mencium tangan Dhiwa takjim.


.


.


Ridwan datang ke toko Mira bersama dengan Mutia, saat dia sampai di toko dia tak melihat keberadaan adiknya.


"Mira tak kesini Sin? " tanyanya.


"Tidak pak, teh Mira bilang lagi kurang sehat" jawab Sintia.


"Tumben dia ngga ngasih kabar" gumam Ridwan, sedangkan Mutia merasa sedikit panik takut suaminya merasa curiga dengan kondisi Mira.

__ADS_1


"Bagaimana toko rame terus? " tanyanya kembali.


"Alhamdulillah pak ada saja yg datang berbelanja" jawab Sintia.


"Syukur, kalau begitu kami permisi dulu ya" ucap Ridwan lalu segera pergi dari sana.


Ridwan dan Mutia masuk ke dalam mobil, Ridwan mengeluarkan ponselnya hendak menelpon Mira tapi Mutia menahannya.


"Akang mau telpon siapa? " tanyanya pura pura.


"Mau telpon Mira, mau menanyakan kabarnya" jawab Ridwan.


Mutia merasa gelisah, dia takut suaminya tahu tentang permasalahan Mira dan marah kepada Mira.


'Ya Allah, semoga kekhawatiran ku tak terjadi' bisiknya dalam hati.


Tak lama telpon nya tersambung,


"Assalamu'alaikum aa" ucap Mira di seberang sana.


"Wa'alaikumussalam, aa tadi ke toko, kata Sintia kamu sakit? " tanya Ridwan khawatir.


"Gapapa aa, Mira hanya masuk angin saja" bohong Mira.


"Apa perlu kakak ipar mu menemanimu di rumah? " ucap Ridwan.


"Tidak usah aa, Mira ngga mau merepotkan teh Mutia, Mira baik baik saja insya Allah besok udah sehat" ucap Mira.


"Ya sudah, kalau ada apa apa kabarin aa ya, jangan di rasa sendiri" ucap Ridwan lalu memutuskan telponnya.


Mira menitikan air mata, dia merasa bersalah karena telah berbohong kepada kakaknya.

__ADS_1


"Maafkan Mira aa, Mira belum berani memberitahukan yg sebenarnya" gumam Mira sambil terisak.


__ADS_2