
Dhiwa melirik ponselnya, muncul nama Mira pada layarnya, Dhiwa tersenyum lalu segera mengangkat nya.
"Assalamu'alaikum sayang" sapa Dhiwa.
"Wa'alaikumussalam, mas dimana? " tanya Mira, Dhiwa mengerutkan kening nya merasa heran dengan pertanyaan istri keduanya.
"Di Kodim sayang, ada apa? Seperti kamu agak panik"
"Gapapa mas, cuma ngga tau kenapa perasaan aku sejak tadi gelisah" ucap Mira.
Dhiwa tersenyum,ingin rasanya dia pulang dan memeluk istrinya dengan erat.
"Mas gak apa apa sayang, tadi abis rapat ni baru selesai, mungkin cuma perasaan kamu saja, jangan banyak pikiran ya nanti kamu stres bisa berpengaruh ke kandungan kamu".
Mira bernafas lega karena suaminya baik baik saja, mungkin benar ucap Dhiwa itu cuma perasaan dia saja karena perbawa usia kandungan yg semakin membesar jadi membuat nya mudah overthinking.
"Maafin aku ya mas, aku cuma takut mas kenapa napa, aku sangat takut kehilangan mas" suara Mira terdengar berat.
"Mas ngga akan kemana-mana sayang, jangan risau. Tunggu mas pulang ya" bujuk Dhiwa, Mira tersenyum sambil mengelus perutnya yg membuncit.
Telpon pun terputus, Dhiwa merasakan sesuatu yg mengganjal di hatinya, menurutnya firasat seorang istri itu tak pernah salah.
"Kenapa sekarang jadi aku yg overthinking, semoga semua baik baik saja, lindungi kami ya Allah" gumamnya sambil termenung.
.
.
__ADS_1
Mira datang ke rumah Bu Khadijah, sudah lama dia tak datang ke rumah itu. Disana juga ada Ridwan dan Mutia.
Mutia juga tengah hamil besar sama seperti Mira, hanya beda 1 bulan saja.
Saat semua sedang berkumpul tiba-tiba adik almarhum Ayahnya Mira datang berkunjung untuk bertemu dengan Bu Khadijah, beliau bernama Bu Meris.
Bu Meris menatap heran ke arah Mira, pasalnya dia tak tahu kalau Mira sudah menikah, tapi dia merasa heran kenapa perut Mira membuncit seperti sedang hamil.
"Teteh, maaf kalau saya lancang bertanya. Itu nak Mira kok perutnya buncit ya? Apa dia sedang hamil? " tanya nya penasaran.
"Benar Dek, Mira memang sedang hamil" jawab Bu Khadijah.
"Astaghfirullah! Bukannya Mira belum menikah ya Teh? " Bu Meris sangat terkejut.
Mira dan yg lain terdiam, Mira menundukkan kepala nya menahan rasa sedih dan kesal.
"Ohh seperti itu, saya pikir nak Mira hamil di luar nikah, ngga mungkin lah ya kan nak Mira itu anak yg sholehah dan penurut, juga dari keluarga baik baik seperti keluarga kita ya teh jadi mana mungkin dia mempermalukan keluarga kita" sindirnya.
Mira mengepalkan tangannya merasa panas, memang Bu Meris itu orang yg ceplas ceplos. Dia kurang di sukai oleh keluarga nya karena gemar bikin onar.
"Ngomong ngomong suamimu kerja nya apa nak Mira? " tanya nya lagi.
"Tentara Bibi" Jawab Mira.
"Loh kok tentara nikahnya cuma ijab kobul aja sih, bukannya setau bibi kalau nikah dengan tentara pakai acara pedang pora ya? Kamu bukan istri simpanan kan nak Mira? " ejeknya.
"Cukup bibi Meris, berhenti mengejek Mira. Lagipula kenapa kalau Mira menikah hanya ijab kobul yg penting kan pernikahannya sah dan mereka tidak berbuat zina, kenapa bibi ikut campur dengan urusan keluarga kami? " bentak Ridwan, sedari tadi dia menahan kesal. Tapi semakin di diamkan Bu Meris semakin melunjak.
__ADS_1
"Loh kok kamu marah sih Wan? Bibi kan cuma bertanya, jika memang tak ada masalah ya sudah tidak perlu membentak seperti itu. Malah bikin bibi semakin curiga loh" ejeknya sambil melirik ke arah Mira.
Mira sudah tidak tahan, dia pun berdiri lalu berjalan mendekati Bu Meris.
"Bibi sebelumnya Mira minta maaf, tapi dari pada bibi mengurusi hidup Mira lebih baik bibi urus anak perempuan bibi yg menjadi kupu kupu malam di bandung, Mah Mira pamit pulang ya takut mas Dhiwa pulang Mira belum masak untuk makan malam. Aa dan teteh, Mira pamit duluan ya. Assalamu'alaikum" Mira menatap Bu Meris tajam lalu dia segera pergi meninggalkan rumah ibunya.
Bu Meris membelalakan matanya, dia merasa kikuk saat Mira menyindir putrinya Lina, Bu Khadijah menatap Bu Meris dengan tatapan menyelidik.
"Apa benar Dek kalau Lina jadi kupu... "
"Ahh tidak teteh, Mira hanya mengada ngada saja" Bu Meris memotong pertanyaan Bu Khadijah, Bu Khadijah dapat melihat kebohongan di mata Bu Meris juga dari sikapnya yg berubah gugup.
"Dek, tak baik menghina orang lain jika kita sendiri pun mempunyai sesuatu yg mungkin lebih hina darinya, introspeksi diri dulu sebelum mencela kekurangan orang lain. Karena jika kekurangan mu sendiri tercium mungkin kau akan lebih malu" Bu Khadijah menasihati Bu Meris.
Ridwan benar-benar geram, dia ingin sekali memaki bibinya itu tapi Mutia memberikan isyarat lewat matanya meminta Ridwan untuk menahan diri.
Bu Meris tersenyum canggung, dia tak menyangka Mira akan menyerang balik dan dia merasa di skak oleh Mira.
Mira menangis sambil menyetir, masih terngiang ucapan Bu Meris yg begitu menusuk hatinya.
"Apakah aku salah jika aku menjadi istri kedua? Memangnya kenapa? Aku pun tak pernah menginginkan posisi ini tapi semua sudah terjadi" tangisnya sesegukan.
Mira menepikan mobilnya, dia menangis meratapi hidup yg dia jalani, sungguh tak mudah dan juga berat. Mira menyesali perbuatannya di masa lalu tapi dia tak bisa berbuat apa apa selain pasrah dan ikhlas.
"Mas Dhiwa.... " liriknya sambil meremas stir mobil, hatinya terasa sakit dan perih, perempuan mana pun takkan pernah mau di jadikan madu dan juga bahan ejekan. Bu Meris memang sudah sangat keterlaluan, dia membuat Mira stres dan sedih.
Mira melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah, dia mengusap air matanya mencoba untuk tegar, dia tak mau berlarut dalam kesedihan. Dia harus kuat demi anak dalam kandungan nya, dia tak ingin sindiran dan cacian orang lain melunturkan cinta nya pada Dhiwa.
__ADS_1