Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 16.


__ADS_3

"Mas Alpian" gumamnya.


Alpian tersenyum saat Mira membukakan pintu, tapi kemudian senyumnya memudar saat melihat Mira yg tampak seperti bekas menangis.


"Kamu kenapa Mira? " tanyanya khawatir.


"Ahh ngga kenapa napa kok Mas, ayo masuk" jawab Mira lalu mengajak Alpian masuk.


"Rumah kamu masih seperti dulu ya? Tidak ada yg berubah" ucapnya sambil melihat sekeliling.


"Iya Mas, aku buatin minum dulu ya" ucap Mira lalu dia berjalan menuju dapur.


Alpin pun duduk di sofa lalu meletakkan kantong bawaannya.


Tak lama Mira kembali dengan membawa secangkir teh hangat untuk Alpian.


"Itu apa Mas? " tanya Mira saat melihat kantong di atas meja.


"Ini cemilan kesukaan kamu dulu" jawabnya lalu menyerahkan kantong tersebut kepada Mira.


Mira membuka nya lalu tersenyum, sudah sangat lama tapi Alpian masih saja ingat cemilan kesukaan Mira yaitu keripik emping pedas.


"Mas masih ingat aja" ucap Mira.


"Masih dong, bahkan dalaman favorit kamu aja aku ingat" ledek nya.


Mira tertawa saat Alpian mengatakan itu, "mana ada? Liat aja ngga pernah. Mas ngada ngada deh" celetuknya.


Alpian hanya terkekeh, kemudian dia tersenyum sambil menatap Mira.


"Nah gitu dong tertawa, dari tadi aku lihat kamu sedih terus. Ada apa Mira? " tanya Alpian penasaran.


"Aku.. Ngga ada apa apa kok Mas" elak Mira sambil menunduk.


Alpian tidak percaya, dia sangat paham tentang Mira sejak dulu, jika Mira murung pasti ada sesuatu.

__ADS_1


"Kamu masih belum percaya ya sama aku? Padahal kita berteman sudah sangat lama" tanyanya dengan nada yg dibuat lirih agar Mira mau bercerita.


Mira bingung harus bercerita atau tidak, karena ini adalah aibnya. Mira takut Alpian akan ilfeel dan menjauh darinya.


"Maaf mas aku belum bisa cerita sekarang" ucap Mira lirih.


Alpian mengerti, dia bangkit dan berpindah duduk ke samping Mira. Dia lalu memegang tangan Mira, Mira tertegun dan memandang Alpian.


"Jika ada masalah jangan di pendam sendiri, aku siap jadi tempat berbagi untuk mu" ucap Alpian dengan tatapan yg dalam.


Mira merasa terharu akan sikap Alpian, dia sadar hanya Alpian yg bisa membuatnya tenang dan ceria akan tetapi Mira sangat sulit untuk membuka hati untuk Alpian.


Mira ingin menangis tapi ia tahan, dia tak ingin membuat Alpian semakin curiga. Dia akhirnya hanya menganggukkan kepala nya saja sambil berusaha untuk tersenyum.


"Ekhem.. " tiba-tiba seseorang datang mengejutkan Mira dan Alpian.


.


.


Iya orang itu adalah Dhiwa, Dhiwa datang ke rumah Mira karena dia merasa khawatir Mira melakukan hal nekad, saat dia sampai di teras rumah Mira dia melihat ada mobil yg terparkir di samping mobil Mira.


Dhiwa pun penasaran dan mendekati pintu yg sengaja di biarkan terbuka oleh Mira. Dhiwa mengintip ke dalam dan melihat Mira sedang duduk dengan seorang pria.


Dhiwa mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras saat tangan Mira di genggam oleh pria itu.


"Assalamu'alaikum, apa aku mengganggu? " tanyanya canggung.


"Wa'alaikumussalam, tidak Mas" jawab Mira gugup, Mira pun tadi langsung melepaskan tangannya dari genggaman Alpian.


"Dia siapa Mir? " tanya Alpian.


"Anda yg siapa? Berani pegang pegang tangan calon istri saya" tanya Dhiwa balik dengan tatapan mendominasi.


"Mas jangan salah paham, dia mas Alpian temanku, mas Alpian ini mas Dhiwa, pacarku" ucap Mira setengah panik, karena dia melihat Dhiwa seperti tengah cemburu pada Alpian.

__ADS_1


"Ohh jadi dia yg udah bikin kamu nangis" ucap Alpian seperti meledek Dhiwa, membuat Dhiwa menatap Mira, Mira merasa kikuk lalu memalingkan wajahnya.


"Sayang kamu kenapa? " tanya Dhiwa pura-pura, Mira merasa kesal dengan pertanyaan Dhiwa.


'Ck pake pura pura nanya, udah jelas karena kamu' gerutu Mira dalam hati.


Dhiwa pun merangkul Mira di depan Alpian, dia sengaja memanas manasi Alpian, Alpian hanya tersenyum sinis menyadari sikap Dhiwa.


"Mira kalau begitu aku permisi dulu ya, aku takkan mengganggu kalian" ucap Alpian lalu pamit pergi dari rumah Mira.


Mira menatap kepergian Alpian dengan rasa tak enak, Dhiwa yg melihat tatapan Mira pada Alpian merasa tak suka.


"Kenapa? Kamu tak rela dia pergi? " tanya Dhiwa ketus.


"Kamu apa apaan sih mas? Dan juga kamu tau darimana rumah ku? " ucap Mira sinis.


"Kenapa jika denganku kamu sesinis ini sedangkan dengan nya tadi kamu tersenyum bahkan tertawa" ucap Dhiwa menatap Mira tajam.


Mira yg di tatap Dhiwa langsung memalingkan wajahnya, Dhiwa menghela nafasnya lalu memeluk Mira.


"Aku kesini karena aku khawatir sama kamu dan calon anak kita, aku telpon kamu berkali-kali tapi tak aktif, tolong jangan siksa aku dek" ucapnya lirih.


Mira tertegun mendengar penuturan Dhiwa, hatinya kembali sakit saat Dhiwa menyebut 'Calon anak kita', Mira berusaha melepaskan pelukan Dhiwa tapi tak bisa karena pelukan Dhiwa sangat erat.


"Mau kamu apa sih mas? Belum puas kamu nyakitin aku? " tanya Mira sinis.


"Aku tak pernah berniat menyakiti kamu dek" jawab Dhiwa tegas.


"Tapi kenyataan nya kamu sudah menyakiti ku, bahkan menghancurkannya Mas" bentak Mira.


Dhiwa sangat mengerti Mira sedang terguncang saat ini, dia berusaha sebisa mungkin untuk menghibur Mira.


"Dek... "


"Aku akan menggugurkan anak ini" ucap Mira memotong ucapan Dhiwa.

__ADS_1


__ADS_2