
Sintia ikut mang maman mengirim barang kesebuah alamat, dia memegang ponsel lalu mengirim pesan kepada sang penerima.
Mobil tiba di sebuah rumah yg lumayan besar, Sintia terkagum-kagum melihat rumah tersebut.
"Masya Allah, seandainya ini rumah ku. Aku pasti sangat bahagia" gumamnya takjub.
Sintia turun dari mobil, ada seorang wanita di atas usianya datang menyambutnya.
"Permisi teh, saya mau antar barang pesanan atas nama Bapak Tio Haryanto" ucap Sintia sopan.
"Ohh iya teh, silahkan di susun di sana dulu aja ya" sang pembantu menunjukkan tempat nya.
Sintia mengangguk lalu mengikuti arahan sang pembantu tadi, sesekali Sintia melirik ke rumah tersebut, dia tak berhenti mengucap rasa kagum terhadap rumah itu.
Sintia mengeluarkan kertas invoice dari dalam mobil untuk di berikan kepada Tio,saat dia menutup pintu dia tertegun melihat Tio yg sedang berdiri sambil mengecek pesanannya.
"Sudah semua ya pak? " tanya Tio kepada mang maman.
"Sudah mas" balas mang maman.
__ADS_1
Tio tersenyum senang, senyum nya sangat tampan membuat Sintia mematung, sungguh dia sangat mengagumi ciptaan Tuhan yg satu ini, hatinya berdebar kencang, Mungkin Sintia sudah jatuh cinta padanya.
"Teh... Teh... " Tio memanggil Sintia sambil melambaikan tangan di depannya, sedangkan Sintia masih terpaku dalam lamunannya.
Mang maman terkekeh lalu beliau menyenggol lengan Sintia.
"Astaghfirullah" Sintia tersadar, dia tersipu malu saat menyadari kalau Tio sudah ada di depannya.
"Maaf boleh saya melakukan pembayaran sekarang? " tanya Tio sopan.
"Ahh iya, maaf tadi saya bengong" jawab Sintia kaku lalu dia menyerahkan invoice tersebut kepada Tio.
Tio mengeluarkan sejumlah uang di dalam amplop, lalu menyerahkan kepada Sintia.
"Iya sama-sama teh, mau minum dulu di dalam? " Tio menawarkan minum kepada Sintia dan mang maman.
"Ahh tidak usah mas, kami harus kembali ke toko untuk kirim barang lagi, kalau begitu kami permisi ya. Assalamu'alaikum" Sintia menundukkan kepala lalu bergegas masuk ke dalam mobil, dadanya naik turun menahan malu dan gugup di hadapan Tio.
Tio tersenyum menatap tingkah Sintia yg lucu, entah kenapa dia seperti menyukai Sintia.
__ADS_1
"Gadis yg manis, sangat sopan" bisiknya lalu Tio pun masuk ke dalam rumah setelah mobil Sintia sudah menghilang dari pandangan nya.
.
.
Di markas, Dhiwa dan yg lain sedang membahas sebuah misi penting. Dimana mereka sedang merencanakan sebuah penyerangan ke sebuah tempat yg sangat berbahaya. Di tempat itu ada sebuah rumah besar yg isinya bandar narkoba yg memiliki senjata.
Mereka sedang mengatur strategi untuk menyerang tempat tersebut, karena kasus narkoba semakin marak dan harus di musnahkan.
Dhiwa dan Roni di pilih untuk ikut andil bersama team yg lain, telah di tetapkan ada 5 team penyerang. Mereka mengatur strategi dan juga menentukan timing yg pas untuk kesana.
"Semoga berjaya! " teriak mereka saat meeting di tutup.
Dhiwa sedang termenung memikirkan misi yg berbahaya ini, pasalnya waktu penyerangan bertepatan dengan bulan Mira akan melahirkan.
'Semoga aku bisa menyelesaikan misi ini dengan selamat dan bisa menemani Mira saat melahirkan bayi kami nanti' gumam Dhiwa dalam hati.
Iya misi ini sangat berbahaya, taruhannya adalah nyawa. Orang yg di pilih adalah orang yang memiliki keberanian dan kekuatan khusus karena bandar tersebut memiliki senjata api dan juga sangat licik.
__ADS_1
Mira duduk di sofa dengan perasaan gelisah, entah kenapa dia merasakan sesuatu yg tidak enak dalam hatinya.
"Semoga mas Dhiwa ngga kenapa napa, aku telpon aja deh" mira mengambil ponsel dan menelpon Dhiwa.