Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 12.


__ADS_3

BAB 12.


Sintia sedang melayani customer yg berbelanja di tokonya, tiba-tiba datang seorang wanita dengan membawa 2 anaknya.


Sintia terpaku melihat anak laki-laki tersebut, 'wajahnya mirip... 'Terka nya.


Saat wanita itu sedang memilih milih pot Sintia datang mendekati nya.


"Ada yg bisa saya bantu teh? " tanya Sintia.


"Ahh iya, saya cari pot yg seperti kendi untuk tugas sekolah, ada? " ucapnya.


"Ohh ada teh, sebentar saya ambilkan.


Sintia pun pergi mengambil kendi kecil lalu membawanya ke wanita tadi.


"Ini teh kendi nya" ucap Sintia.


"Nah benar yg ini, saya beli satu ya" ucapnya lalu mengeluarkan uang dari dalam dompet.


Sintia membungkus kendi tersebut, lalu menyerahkan kepada anak laki-laki itu.


"Anak tampan, siapa namanya? " tanya Sintia.


"Alvaro tante" jawabnya sambil malu malu.


"Wah nama yg bagus, lain waktu mampir kesini lagi ya" puji Sintia membuat Alvaro mengumpat di belakang Bundanya.

__ADS_1


Iya wanita itu adalah Mirna dan kedua anaknya, Alvaro dapat tugas dari sekolah untuk membawa kendi. Saat pulang sekolah dia mampir untuk mencari kendi karena di beberapa tempat sudah habis terjual.


"Anak saya memang agak pemalu mbak, mohon di maklumi ya" ucap Mirna tak enak.


"Gapapa teh, Terima kasih ya sudah mampir di toko kami" ucap Sintia kepada Mirna.


Mirna pun pamit undur diri, lalu Sintia kembali melanjutkan kerjaannya, sambil berpikir dalam hati tentang Alvaro yg mirip dengan Dhiwa.


"Masa sih itu anaknya Pak Dhiwa? Klo dia sudah menikah kenapa dia mendekati teh Mira ya? Semoga saja bukan" gumamnya lalu dia mengirimkan pesan kepada Mira.


.


.


Mira sedang memotong motong sayuran untuk masak makan malam, terdengar suara pesan masuk, dia pun langsung mengambil ponselnya.


Seketika matanya membulat saat membaca pesan dari Sintia, lalu dia berpikir jangan jangan anak laki-laki itu yg dia temui di supermarket.


.


.


Dhiwa baru selesai rapat, lalu merogoh ponsel di sakunya karena ada pesan masuk.


"Mas aku mau cerita, tadi pas di supermarket aku ketemu sama anak kecil ya wajahnya mirip sekali dengan kamu".


Dhiwa mengangkat alisnya, seketika dia menjadi gugup.

__ADS_1


"Jangan jangan Mira bertemu dengan Mirna dan anak anak" gumamnya.


Dhiwa mencari alibi, dia tidak ingin Mira mengetahui kalau Dhiwa sudah menikah.Dhiwa pun membalas pesan Mira.


"Mungkin hanya kebetulan saja Dek" ujarnya.


Mira hanya manggut-manggut saja lalu dia kembali melanjutkan memasak.


Dhiwa merasa gelisah, pasalnya dia saat ini sedang menunggu waktu. Dia khawatir kalau Mira sampai hamil bagaimana nasib karir dan juga rumah tangga nya dengan Mirna.


Dhiwa segera menepis pikiran itu, karena dia yakin Mira takkan hamil, dia memutuskan untuk tidak melakukan lagi sampai Mira datang bulan.


Dhiwa tiba di rumah, Tika langsung menghampiri dan memeluk Ayahnya. Dhiwa lalu menggendong Tika dan mencium pipi putrinya.


"Ayah tadi di mall Adek ngga sengaja nabrak tante cantik" celoteh nya.


Dhiwa seketika berkeringat dingin, wajahnya berubah tegang.


"oh ya? terus Adek minta maaf ngga sama tantenya? " tanyanya gugup.


"iya, bunda yg suruh minta maaf" ucapnya.


Mirna muncul lalu mencium tangan Dhiwa, dia melihat gelagat aneh suaminya tak seperti biasanya.


"Ayah kenapa? " tanya Mirna menyelidik.


"kenapa gimana maksud Bunda? "

__ADS_1


"Ahh ngga apa apa, Ayo masuk sebentar lagi magrib" ajak Mirna lalu Dhiwa pun mengangguk dan masuk ke dalam untuk bersih bersih dan bersiap sholat magrib berjamaah di masjid.


'kenapa Ayah tadi seperti gugup ya, apa cuma perasaan ku saja? 'pikir Mirna dalam hati.


__ADS_2