Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 20.


__ADS_3

Sejak semalam Bu Khadijah merasa gelisah, dia terus saja memikirkan anak bungsunya Mira, entah kenapa dia seperti merasakan sesuatu yg menyayat hatinya.


Tak lama Ridwan pun datang bersama Mutia, Bu Khadijah sangat senang melihat kedatangan putra dan menantunya.


"Assalamu'alaikum Mah" ucap Ridwan dan Mutia bersamaan lalu mereka mencium tangan Bu Khadijah takjim.


"Wa'alaikumussalam, kalian berdua darimana? " tanyanya.


"Habis dari toko nya Mira, tapi Mira nya gak ke toko" jawab Ridwan.


"Loh kemana adikmu? " Ibu menatap Ridwan bingung.


"Tadi Wan telpon katanya Mira gak enak badan" ucap Ridwan sambil menyeruput teh yg di suguhkan oleh bi tuti.


"Apa dia sudah berobat? Kenapa kamu ngga temui adikmu Wan? " ucap bu Khadijah cemas.


"Dia bilang hanya masuk angin Mah, nanti juga sembuh katanya. Tadi Wan sudah menawarkan Mutia untuk menemaninya tapi di tolak nya" ujar Ridwan di balas anggukan Mutia.


"Adikmu itu selalu seperti itu, merasa sok kuat padahal dia sangat rapuh, ibu sejak semalam sangat mencemaskan adikmu Mira, Wan" ucap bu Khadijah sambil menatap sendu.


Ridwan mendekati ibunya lalu merangkulnya, "iya nanti kita kesana ya Mah, sekalian bawain makanan kesukaan Mira" ujar Ridwan membuat bu Khadijah tersenyum senang, tapi tidak dengan Mutia. Dia sedang merasa takut dan khawatir tentang Mira.


'Ya Allah, semoga Engkau berikan kelapangan hati serta kemudahan jalan untuk adik ipar hamba Mira, semoga kang Ridwan dan mama Khadijah bisa menerima dengan lapang dada kehamilan Mira' Mutia berdo'a dalam hati sambil menatap suami dan ibu mertua nya.

__ADS_1


.


.


Dhiwa sedang termenung memikirkan nasibnya yg sebentar lagi akan beristri dua,dia sedang mencari cara untuk memberitahukan kepada Mirna tentang kehamilan Mira,dia membuang nafasnya berat karena merasa pusing, pasti Mirna takkan mau menerima jika dia di madu.


Saat Dhiwa tengah termenung tiba-tiba datang seseorang menegurnya.


"Jangan bengong pak nanti kesambet loh" ucap seseorang.


"Ehh pak Roni,saya kira siapa" jawab Dhiwa terkejut.


Roni lalu duduk di samping Dhiwa," Saya perhatikan seperti nya lagi ada masalah,ceritalah" tebak Roni.


"Kita berteman sudah lama, sering bertukar cerita, jadi saya tau saat kau ada masalah pasti kau murung, ada apa Wa,ceritalah" bujuknya,


Dhiwa menarik nafas berat, lalu menatap ke depan.


"Permasalahan ini terlalu rumit Ron, aku yakin kau pasti akan terkejut" ucap Dhiwa.


"Serumit apa? Kau selingkuh? " tanyanya penasaran.


"Lebih dari itu" jawab Dhiwa.

__ADS_1


"Maksudnya gimana? Kau menghamili anak orang?" tebak Roni, Dhiwa refleks membekap mulut Roni, Roni menepuk-nepuk tangan Dhiwa.


"Hustt jangan keras keras, nanti di dengar komandan" bisik Dhiwa.


"Hehe oke oke, tapi apa benar begitu? " tanya nya kembali.


"Iya" jawab Dhiwa singkat.


"Astaga! Lalu bagaimana WA? Kau tak mungkin menceraikan istrimu dan menikahinya, karirmu di pertaruhkan Wa" Roni sangat terkejut.


"Aku takkan menceraikan istriku, aku akan menikahi dia tapi menikah diri hanya demi anak dalam perutnya" ucap Dhiwa.


"Wah gila kau Wa, mampukah kau beristeri 2? Kalau sampai tercium komandan habis kau Wa" ancam Roni.


"Maka dari itu, tolong bantu aku rahasiakan hal ini dari siapa pun, cuma kau satu satunya yang tau tentang ini, dan aku juga mau minta tolong, jadilah saksi di pernikahan ku nanti" bujuk Dhiwa memohon kepada Roni.


Roni yg merasa kasihan kepada temannya itu lalu menepuk bahu Dhiwa.


"Tenang saja, saya akan bantu kau. Kapan pernikahannya akan di lakukan? "


"Aku harus menemui orang tua nya dulu, nanti aku kabari kau waktunya" ucap Dhiwa.


Dia merasa bersyukur mempunyai teman sebaik Roni, dia merasa lega karena sedikit masalah sudah teratasi oleh nya, tinggal masalah masalah yg lainnya sedang menunggu untuk di pecahkan.

__ADS_1


__ADS_2