Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 38.


__ADS_3

Sintia saat ini sedang berada di rumah Mira, dia memberitahukan Mira tentang laporan penjualan tokonya, Mira sangat senang karena sekarang Sintia sudah bisa di andalkan.


"Ini bonus untuk kamu neng, makin semangat ya jaga tokonya" ucap Mira.


"Wah Alhamdulillah, makasih banyak teteh" seru Sintia senang.


"Emm teh, neng pingin curhat boleh? " tanya Sintia ragu.


"Boleh, mau curhat apa? "


"Hm, waktu itu ada customer datang ke toko membeli beberapa pot, ternyata dia itu langganan tetap di tempat kita cuma neng tuh baru engeh orang nya, ganteng banget deh terus kaya lagi. Salah ngga sih teh kalau neng suka sama orang itu? " tanya Sintia malu malu.


"Ngga salah kok neng, asalkan jangan suami orang ya. Teteh ngga mau neng bernasib sama seperti teteh" ucap Mira sendu.


"Ihh teteh ngga boleh ngomong begitu, itu namanya teteh menyalahi takdir, iya neng juga ngga mau gegabah teh neng mau selidiki dulu statusnya single apa duda" ucap Sintia sambil terkekeh.


"Emangnya kalau dia duda kamu mau neng? " ledek Mira.


"Kalau ganteng gitu mah neng ngga nolak teh, orang gantengnya melebihi pak Dhiwa tau" seru Sintia.


"Masa sih? Teteh jadi penasaran. Kenalin dong" bujuk Mira.


"Ehm! Kenalin sama siapa Dek? " Dhiwa tiba-tiba muncul menghampiri Mira dan Sintia.


"Ehh itu mas gebetan nya Sintia" jawab Mira kikuk.


"Ohh, jadi karena dia lebih ganteng daripada mas, kamu pingin kenalan gitu ya? Lupa sama suamimu ini? " ledek Dhiwa sambil melipat kedua tangannya di depan dada berpura-pura marah.


"Habislah teteh, kamu sih yg mulai" bisik Mira sambil menyenggol Sintia.


"Lah kok jadi neng yg kena, kan teteh yg minta di kenalin" Sintia mengelak sambil berbisik.


"Bukan begitu kok mas, kamu tetap paling ganteng di hati aku, yg bilang kan Sintia bukan aku mas, jangan marah dong" rengek Mira takut suaminya marah padanya.


"Hahaha! " tiba-tiba Dhiwa tertawa.


"Kok mas ketawa sih? " tanya Mira kesal.


"Abis muka kamu lucu kalau lagi panik gitu" Dhiwa menoel hidung Mira, Mira memanyunkan bibirnya ke depan merasa jengkel karena Dhiwa mengerjai nya.

__ADS_1


"Cup cup, kok sekarang jadi kamu yg marah, hehe.. Sini sini mas peluk sayang" bujuk Dhiwa.


"Aduh pak Sintia pulang dulu deh kalau begitu, nanti mata suci neng ternoda melihat keromantisan kalian" ledek Sintia.


Mira menyikut perut suaminya membuat Dhiwa meringis, Sintia tertawa melihat tingkah mereka berdua. Sintia pun pamit pulang setelah selesai menyerahkan uang penjualan kepada Mira.


"Kamu pulang sama siapa neng? " tanya Mira.


"Neng pesan ojol aja teh,motor neng lagi di servis" jawab Sintia.


"Motornya mogok? "


"Iya teh, neng pamit ya teh, pak Dhiwa. Assalamu'alaikum" Sintia pergi menuju gerbang depan perumahan Mira untuk menunggu ojol.


Sintia mencoba memesan ojol lewat aplikasi tapi di tolak terus, Sintia mulai kesal, dia mencoba menelpon sukri tapi tak aktif.


"Aduh gimana sih ini sudah banget dapat ojol nya" protes Sintia.


Dari kejauhan, Tio sedang mengendarai motornya melihat sosok Sintia, dia pun mendekat dan berhenti di depan Sintia berdiri. Sintia terpaku, awalnya dia pikir Tio adalah ojol, setelah Tio membuka helmnya Sintia membulatkan matanya.


"Kamu yg bekerja di toko pot kan? " tanya Tio.


"Jangan panggil pak, panggil mas aja" ujar Tio.


"I-iya mas" Sintia makin gugup.


"Kamu lagi apa disini sendirian? " tanya tio kembali.


"Emm itu saya abis dari rumah bos, ini mau pulang" jawab Sintia, jantungnya rasanya ingin loncat, tangannya berkeringat.


"Ayo saya antar, jam segini ojol susah dapat nya loh" Tio menawarkan diri.


"Ngga usah pak eh mas, saya ngga mau ngerepotin" tolak Sintia.


"Ngga ngerepotin kok, daripada kamu disini sendiri nanti ada orang jahat nyulik kamu bagaimana? " Tio menakut-nakuti Sintia.


Sintia menggidig ngeri, dia pun akhirnya mau di antar oleh Tio.


"Pegangan ya" titah Tio, Sintia malu malu memegang ujung jaket yg di pakai oleh Tio, Tio pun melajukan motor nya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


'Aduh jantung ku rasanya pengen copot ya Allah, ini mimpi bukan sih' ucap Sintia dalam hati.


Dia tak menyangka kalau dia bisa bertemu dengan Tio dan bahkan sampai di antar pulang ke toko olehnya, Sintia sangat senang bisa berboncengan dengan pujaan hatinya.


Sepanjang jalan Tio mengajak ngobrol Sintia, Sintia menjawabnya dengan malu malu karena merasa gugup dan juga grogi pada Tio, Tio tersenyum melihat ekspresi wajah gugup Sintia dari spion motornya.


'Apa dia sedang gugup? 'Batin Tio, tio menarik tangan Sintia agar memeluk perutnya, Sintia tertegun dan wajahnya seketika bersemu merah.


'Astaghfirullah aku ngga kuat rasanya pingin pingsan' batin Sintia.


Tio melihat wajah Sintia yg memerah merasa yakin jika Sintia sedang gugup saat bersama nya. Entah kenapa Tio merasa senang saat berdua dengan Sintia,dia semakin berniat untuk menjahili Sintia.


"Apa kamu sudah punya pacar? " tanya Tio.


Sintia menggelengkan kepala, Tio tersenyum senang.


"Kalau mas Tio sendiri? " tanya Sintia balik.


"Saya masih single" jawab Tio.


'Yes! ' batin Sintia teriak histeris, jawaban Tio sesuai dengan permintaan hatinya.


Sintia senyum senyum sendiri sambil menundukkan kepala nya, dalam hati dia berharap bisa berjodoh dengan Tio.


Akhirnya mereka pun sampai di toko, Sintia turun perlahan lalu Tio memarkirkan motornya.


"Makasih ya mas Tio udh nganterin saya pulang" ucap Sintia.


"Sama-sama, emm... Apa boleh lain waktu saya mengajak kamu makan di luar? " bujuk Tio, Sintia membulatkan matanya menatap Tio tak percaya, Tio pun balas menatap Sintia berharap Sintia berkata iya.


"Insya Allah mas, jika saya ngga sibuk" jawab Sintia malu malu.


"Alhamdulillah, baiklah nanti kabarin saya ya jika kamu ada waktu. Sudah malam kamu masuk, saya pamit dulu ya" ucap Tio senang.


"Iya mas, hati hati di jalan" sahut Sintia.


"Iya, Assalamu'alaikum" Tio menyalakan motornya lalu bergegas pergi.


"Wa'alaikumussalam" Sintia melambaikan tangan sambil tersenyum menatap kepergian Tio.

__ADS_1


Sintia berjingkrak senang, akhirnya apa yg dia nantikan akhirnya jadi kenyataan, Sintia masuk ke dalam sambil bersenandung, betapa bahagianya hati Sintia karena cinta nya bersambut.


__ADS_2