
Dhiwa sangat terkejut mendengar ucapan Mira, Mira menangis sambil memalingkan wajahnya dari Dhiwa.
"Katakan sekali lagi" pinta Dhiwa.
Mira tak menjawab permintaan Dhiwa, membuat Dhiwa sedikit kesal.
"Aku bilang, katakan sekali lagi Mira" bentak nya membuat Mira terjingkat.
"Kamu mau membunuh anak kita Mira? Kenapa? Apa segitu bencinya kamu sama aku Mir? Apa aku tak layak bersama dengan kamu? Jawab Mira! " bentak Dhiwa, hati Dhiwa merasa sakit saat mendengar Mira ingin menggugurkan kandungan nya.
"Mas pikir aku ngga sakit, HAH? Kalau aja dari awal mas bilang ke aku kalau mas sudah menikah tak mungkin aku mau menerima hubungan ini mas, sekarang aku harus gimana? Aku hamil dan orang tua ku pasti akan murka padaku, mereka akan murka karena aku sudah menjadi pelakor mas! " bentak Mira sambil menitikan air mata nya. Nafasnya naik turun menahan amarah dalam hatinya.
"Aku mengerti Mira, aku juga ikut andil dalam hal ini, aku tau aku bersalah karena aku tak jujur, tapi aku ingin bertanggung jawab, aku akan menikahi mu, membiayai hidupmu dan calon anak kita, aku akan menyayangi kalian" ucap Dhiwa.
"Lalu bagaimana dengan keluarga mas? Bagaimana dengan anak dan istri mas Dhiwa? Apa mas pernah berpikir bagaimana jika mereka tau tentang hubungan kita ini, mereka pasti menyalahkan aku mas" cecar Mira.
Dhiwa memegang tangan Mira, dan menatapnya. Sedangkan Mira tak ingin menatap mata Dhiwa dia pun membuang wajahnya ke samping.
"Aku pasti akan memberitahu mereka tapi tidak saat ini, yg aku pikirkan saat ini adalah segera menikahimu, aku akan menemui orang tuamu dan meminta restu untuk menikahimu" ucap Dhiwa dengan tatapan serius, akan tetapi Mira tak melihat tatapan itu.
Mira masih terdiam dalam kegundahan dan kesedihannya, Dhiwa memeluk tubuh Mira mencoba menenangkan nya, perempuan mana yg takkan sakit jika harus di madu, Mira pun tak menginginkan hal ini terjadi pada dirinya.
"Astaghfirullah, kasihan Mira. Bagaimana ini? Apakah aku harus memberitahu kang Ridwan tentang Mira atau tidak? Aku yakin kang Ridwan pasti akan sangat marah jika tahu tentang hal ini" gumam seseorang yg tak lain adalah Mutia istri kakaknya.
__ADS_1
Sepulang dari supermarket Mutia ingin mampir ke rumah adik iparnya untuk membawakannya buah, akan tetapi tidak di sangka Mutia malah mendengar kejadian yg menimpa Mira. Sebagai seorang kakak ipar Mutia sangat kasihan juga khawatir kepadanya.
Mutia pun akhirnya hanya berdiam di luar tak berani untuk masuk ke dalam, lalu dia memutuskan untuk pulang ke rumah.
.
.
Mutia sampai di rumah nya, setelah memarkirkan mobil dia pun masuk ke dalam dengan membawa 2 tentengan besar.
"Assalamu'alaikum" ucapnya, bi Surti sang pembantu langsung berlari menghampiri nya.
"Wa'alaikumussalam, Non jangan angkat berat berat, biar bibi aja" ucap bi Surti lalu mengambil kedua tentengan itu.
"Ngga apa apa kok bi, ngga berat kok. Kang Ridwan sudah pulang belum? " tanya nya.
Mutia mengangguk lalu dia duduk di ruang makan, dia termenung memikirkan nasib adik iparnya tadi, tak bisa dia bayangkan bagaimana perasaan Mira saat ini, pasti bercampur aduk.
Tak lama terdengar suara mobil diluar, dan itu mobilnya Ridwan. Mutia segera bangkit menghampiri suaminya yg baru datang.
"Assalamu'alaikum" ucap Ridwan lembut.
"Wa'alaikumussalam akang" Mutia mencium tangan suaminya.
__ADS_1
"Loh kamu di rumah? Katanya mau ke tempat Mira? " tanya Ridwan bingung.
"Iya kang, tadinya mau mampir tapi eneng urungkan" jawabnya gugup.
"Loh kenapa? " Ridwan merasa ada yg aneh dengan istrinya.
"Gak apa apa akang, lain waktu saja. Yuk kita ke kamar biar neng siapkan air hangat untuk akang mandi" ucapnya mencoba mengalihkan kecurigaan suaminya.
'Maafkan neng, akang. Neng ngga berani memberitahukan hal Mira kepadamu' gumam Mutia lalu dia berjalan ke kamar mandi dan menyalakan shower untuk mengisi bathup.
Ridwan merasa seperti ada yg di sembunyikan oleh istrinya tapi segera ia tepis dia tak ingin berpikir negatif tentang istrinya, karena di matanya Mutia adalah sosok istri yg sholehah dan nurut kepada suami.
.
.
Mira tertidur pulas karena kelelahan menangis, Dhiwa menggendong tubuh Mira dan meletakkan nya di atas tempat tidur, dia pun menyelimuti tubuh Mira dan mengecup keningnya.
Dhiwa menatap wajah Mira dengan tatapan penyesalan, ponsel Dhiwa berdering ada sebuah pesan masuk dari Mirna.
"Ayah pulang jam berapa? " tanya Mirna.
"Ayah pulang agak malam bunda, masih ada kerjaan" balasnya.
__ADS_1
Dia lalu mematikan ponselnya lalu dia menarik sofa ke dekat ranjang lalu duduk di sofa tersebut sambil menatap Mira yg sedang tertidur.
Dia tak tega meninggalkan Mira sendiri, dia masih khawatir jika Mira melakukan hal yg membahayakan dirinya dan calon bayinya. Tak lama Dhiwa pun ikut tertidur.