
Dhiwa bersandar di sandaran ranjang nya, dia terus saja memikirkan Mira dan Alpian.
"Bagaimana bisa kamu menghianati ku Mira? " gumamnya hampir tak terdengar, dia meremas rambutnya merasa bimbang, entah kenapa dia jadi seorang yg posesif sekarang.
Mirna masuk ke dalam kamar, dia melihat Dhiwa sedang memejamkan matanya sambil duduk bersandar, Mirna menghampiri nya lalu mengusap pundak suaminya.
"Ada apa Ayah? Bunda liat ayah seperti sedang kesal? " tanya Mirna lembut, Dhiwa menoleh lalu memeluk tubuh Mirna dari samping.
"Cerita sama bunda, mungkin bunda bisa bantu" bujuknya.
"Mira selingkuh" bisiknya, Mirna memelototkan matanya tak percaya.
"Selingkuh gimana maksud ayah? " tanya Mirna bingung.
Dhiwa pun menceritakan semua yg dia lihat, dia sangat menggebu-gebu merasa kesal dan cemburu, Mirna tersenyum pahit tapi dia berusaha untuk memaklumi suaminya.
"Mungkin ayah cuma salah paham" ucap Mirna, Dhiwa menatap Mirna dengan heran.
"Bukan bunda membela Mira, tapi mungkin juga itu cuma kesalah pahaman saja, bisa jadi memang benar Mira terpeleset dan Alpian membantunya agar tidak jatuh, harusnya ayah mendengarkan dulu penjelasan Mira, kasihan loh yah Mira sedang hamil besar sekarang, dia pasti sangat butuh ayah disana" ucap Mirna sambil mengelus kepala suaminya.
Mirna memang sedikit mulai menerima keberadaan Mira di rumah tangga mereka, mirna memiliki pemikiran yg dewasa dan sabar, meskipun Mira telah merebut suaminya tapi dia tetap baik terhadap Mira.
Dhiwa menimbang ucapan Mirna, dia pun lalu mengecup pipi Mirna dan memeluknya.
"Makasih ya bunda, karena bunda sudah menenangkan hati ayah. Love you bunda" ucap Dhiwa lalu merebahkan tubuh istrinya di kasur, Mirna terkejut lalu menatap mata Dhiwa, Dhiwa menyatukan bibirnya ke milik Mirna dan pergumulan panas itu pun berlangsung sampai mereka lelah dan tertidur.
.
.
__ADS_1
.
Mira terdiam sambil mengusap perutnya yg buncit, dia masih merasa bingung dengan sikap Dhiwa yg tiba-tiba saja berubah jadi kasar.
Mira melirik ponselnya, sudah jam 2 pagi tapi tak ada tanda kedatangan suaminya.
Saat dia hendak menaruh ponselnya, tiba-tiba ada panggilan dari Alpian. Mira segera mengangkat nya.
"Assalamu'alaikum mas pian" sapa Mira.
"Wa'alaikumussalam, kamu belum tidur? " tanya nya, sepulang dari rumah Mira tadi Alpian merasa gelisah, dia terus saja memikirkan Mira. Dia ingin menemani Mira tapi Mira menolak karena takut menjadi fitnah jika Alpian bermalam di rumah nya.
"Belum mas" jawab Mira singkat.
"Kenapa belum tidur? Ini hampir pagi loh. Kasihan bayi kamu" ucapnya.
Terdengar helaan nafas yg berat di seberang telpon, Alpian mengerti apa yg di rasakan Mira saat ini.
"Belum mas, mungkin takkan pulang" jawab Mira sendu.
"Lalu kenapa kamu menunggunya jika kamu tahu dia takkan pulang? Mira ingat kandungan kamu, aku ngga mau terjadi apapun sama kamu, jika kamu sampai sakit aku akan datang kesana dan membawamu jauh dari hidupnya Dhiwa seperti janjiku pada ibumu" tegas Alpian.
Mira cukup terkejut dengan ucapan Alpian, Mira merasa heran kenapa Alpian menyebut nama ibunya.
"Mas pian, aku baik baik saja. Sebentar lagi aku akan tidur. Makasih ya mas udh perhatian sama aku dan calon bayiku.makasih juga karena mas udah menghawatirkan aku" ucap Mira merasa sungkan kepada Alpian.
"Tak usah sungkan, sudah menjadi tanggung jawab ku menjaga mu Mira, meskipun kau sudah milik orang lain tapi hatiku hanya padamu" ucap Alpian bersungguh-sungguh.
Mira merasa tak enak lalu dia pun segera mengakhiri panggilan tersebut. Dia takut jika berlama-lama nanti dia akan terbawa perasaan karena semakin kesini sikap Alpian selalu membuat nya tersentuh.
__ADS_1
.
.
Pagi hari Dhiwa sudah siap untuk berangkat kerja, dia sudah selesai sarapan dan juga mengantarkan kedua anaknya.
Dhiwa ingin pulang dulu untuk melihat Mira, dia juga merasa bersalah karena sudah berkata kasar pada Mira semalam.
Dhiwa melihat ada mobil mertuanya di halaman rumah Mira, Dhiwa memarkirkan motor nya lalu dia segera masuk ke dalam, tapi langkah nya terhenti saat dia mendengar suara seseorang di dalam.
"Pokoknya setelah anak ini lahir, kamu harus bercerai dengan suamimu dan pergi dengan Alpian, Mama takkan sudi melihat mu terus menerus menjadi madu Mira. Setidaknya Alpian mempunyai masa depan yg bagus untuk mu dan anakmu nanti" ucap Bu Khadijah tegas.
Dhiwa mengepalkan tangannya, dia tak habis pikir kenapa bu Khadijah sangat tidak menyukai nya padahal dia sudah berani untuk bertanggung jawab meskipun karir nya di militer di pertaruhkan.
"Tidak mah, Mira hanya mencintai mas Dhiwa, Mira ngga keberatan menjadi seorang madu yg penting mas Dhiwa bertanggung jawab dan menafkahi Mira dan anak Mira mah" tolak Mira mencoba meyakinkan ibunya.
"Keputusan mama sudah bulat Mira bahkan sebelum kalian menikah mama sudah merencanakan ini semua".
DEG!
Mira terkejut mendengar ucapan ibunya, begitupun dengan Dhiwa. Sejak awal bu Khadijah memang ingin menjodohkan Mira dengan Alpian, bahkan bu Khadijah sempat meminta Alpian untuk membawa Mira sebelum hari pernikahan siri Mira dan Dhiwa waktu itu. Tetapi Alpian menolak dan bersedia untuk menunggu.
"kenapa mama lakuin ini sama Mira? Kenapa mah? Mira ngga cinta sama mas pian Mira hanya cinta sama mas Dhiwa mah! " bentak Mira dengan kesal.
Dhiwa merasa tersentuh mendengar pengakuan Mira, dia tersenyum sambil menunduk.
"Karena Alpian lebih pantas untuk kamu Mira, Dhiwa sudah beristri dan pernikahan kalian takkan pernah di akui oleh negara, apa kamu mau mama menanggung malu jika ada orang yg mengetahui pernikahan siri kalian? Kamu mau lihat mama sedih Mira? "
Bu Khadijah memegang dadanya yg mulai terasa sakit, Mira panik lalu menghampiri ibunya, bu Khadijah bersandar di sofa sambil mencoba menetralkan amarahnya.
__ADS_1
"Mah jangan seperti ini, Mira ngga mau kehilangan mama" pinta Mira sambil menangis. Dhiwa yg melihat mertuanya kambuh lalu langsung masuk ke dalam.
Mira terkejut saat melihat Dhiwa masuk, Dhiwa langsung menghampiri mertuanya dan mengambilkan air yg ada di atas meja dan menyodorkan kepada bu Khadijah.