Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 43


__ADS_3

Dhiwa terdiam sambil bersandar di kursi, dia terus saja mengingat ucapan Airin saat di rumah ibunya tadi.


Mirna datang mendekati suaminya, dia mengerti bagaimana perasaan dhiwa saat ini.


"Di minum dulu yah" mirna menyodorkan segelas teh manis hangat untuk dhiwa, dhiwa tersenyum lalu mengambil teh tersebut.


"Terima kasih bunda" ucap dhiwa.


"Jangan di pikirkan ya yah ucapan Airin, dia berbicara seperti itu karena dia perduli sama bunda aja, dia kan ngga tau bagaimana kondisi mira saat itu" ucap mirna.


"Ayah cuma takut Airin berbuat nekad sama mira bun, bunda tau kan Airin orang nya seperti apa, kasihan mira sedang hamil besar kalau sampai Airin berbuat yg tidak tidak ayah akan menindak dia dengan tegas" kesal dhiwa.


"Wanita mana pun takkan ada yg rela di madu, yah. Semua pasti merasa kesal dan ingin mencelakai selingkuhan suaminya sama seperti yg Airin ingin lakukan" ucap mirna sambil menyeruput teh miliknya.


"Jadi dulu bunda juga sempat berpikir begitu kepada mira? " tanya dhiwa terkejut.


"Awalnya iya, tapi setelah melihat kondisi mira hati bunda jadi merasa kasihan, mira hanya korban keegoisan ayah" sindir mirna.


Dhiwa merasa tak enak mendengar sindiran istrinya, dia lalu memeluk tubuh mirna, dia tau bagaimana perasaan mirna saat itu, hanya saja dia bersyukur karena mirna sangat berbesar hati mau menerima mira sebagai madunya.

__ADS_1


"Tak ada wanita sehebat dirimu, bunda. Kamulah bidadari syurga nya ayah" puji dhiwa, mirna hanya tersenyum sambil mengaminkan dalam hati nya.


"Bagaimana kabar mira? Bunda sudah lama belum kesana lagi" tanya mirna mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah dia baik, cuma sekarang sudah tidak bisa ke toko karena hamilnya mulai besar dan harus sering istirahat di rumah, bulan ini masuk 8 bulan" jawab dhiwa.


"Sudah di USG yah laki-laki atau perempuan? " tanya mirna kembali.


"Tidak bunda, sengaja tidak mencari tahu supaya surprise" jawab dhiwa.


"Iya juga ya, mau laki-laki maupun perempuan sama saja, sudah lahir pasti sayang" ucap mirna.


.


.


Alpian baru saja tiba di ciamis, dia berencana untuk menemui mira besok sekalian membawakan nya oleh-oleh.


Alpian merebahkan tubuhnya di kasur, semenjak pertemuan nya hari itu dengan chika membuat alpian muak, dia sangat tidak sabar menunggu mira menjadi janda dan segera menikahinya.

__ADS_1


"Aku tak ingin berurusan lagi dengan chika, dia wanita yg posesif dan menyebalkan" rutuk alpian.


Dulu alpian sangat mencintai chika, tapi sekarang rasa itu sudah berubah menjadi rasa benci karena ulah chika sendiri.


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, membuat alpian memicingkan alisnya.


.


.


Pagi hari, mira sedang menyiram bunga di halaman rumah nya, banyak tetangga yg lewat di depan rumah nya dan menyapa nya, mira memang ramah dengan siapa pun sehingga banyak yg menyukai nya.


Sintia keluar dari dalam dan menghampiri mira, dia mengambil selang yg sedang di pegang oleh mira.


"teteh di dalam aja, biar neng yg nyiram bunganya" ucap Sintia.


"udah gapapa biar teteh aja" tolak mira.


"jangan teteh, nti pak dhiwa marah kalau tau teteh capek capek kayak gini, udah sini neng aja yg nyiram" paksa Sintia.

__ADS_1


mira tersenyum lalu menyerahkan selang tersebut, tak lama terdengar suara klakson mobil, mereka berdua menoleh dan melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah mira.


__ADS_2