Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 3.


__ADS_3

Pagi hari Mirna sudah sibuk mengurus kedua anaknya yg akan bersekolah, Alvaro sudah menginjak kelas 2 sedangkan Tika baru Taman Kanak-kanak, Dhiwa sudah siap dengan baju dinasnya, lalu dia mengambil tas ransel yg biasa dia gunakan untuk bekerja dan mengambil sepatu untuk di pakai nanti.


Dhiwa menghampiri istri dan kedua anaknya di meja makan, lalu dia mencium pipi Tika dan juga Mirna, sedangkan Alvaro hanya di usap kepalanya saja.


"Bun, hari ini Ayah jadwal piket malam" ucapnya sambil meminum kopi yg sudah dibuat oleh Mirna.


"Iya Ayah, nanti Bunda minta tolong Puspa buat nemenin Bunda sama anak anak di rumah " balas Mirna, dia selalu minta tolong Puspa untuk menemani nya kalau Dhiwa piket malam karena sudah pasti Dhiwa menginap di Markas.


Setelah sarapan, Dhiwa membawa kedua anaknya ke sekolah, Tika dan Alvaro mencium tangan Bundanya bergantian " jangan nakal ya di sekolah " titah Mirna sambil mengusap kepala kedua anaknya.


"Iya Bunda, kami berangkat ya. Assalamu'alaikum" ucap Tika dan Alvaro bersamaan, "Ayah jalan dulu ya" ucap Dhiwa lalu Mirna mencium tangan Dhiwa, "Wa'alaikumussalam, hati hati ya Ayah, anak anak " jawab Mirna sambil melambaikan tangan lalu dia masuk ke dalam rumah saat mereka bertiga sudah tak terlihat lagi.


.


.


Mira dan Sintia sedang sibuk melayani para pembeli yg datang ke toko mereka, ada juga Afan dan Sukri yg tugasnya membawakan pesanan pembeli ke dalam mobil mereka, terlihat senyum semangat dari mereka berempat. Bagaimana tidak, toko pot dan tanaman nya selalu laris manis setiap hari, bahkan Mira bisa membeli rumah dan juga mobil baru untuk dirinya pribadi dan satu mobil lagi untuk armada toko.


Mira merasa kelelahan lalu dia meminta Sintia mengambil air di dapur, Sintia menurut lalu mengambil 4 botol teh pucuk lalu di bagikan kepada Mira, Afan dan Sukri. Mira menenggak teh itu sampai habis lalu dia menetralkan nafasnya yg ngos ngosan.


"Alhamdulillah ya Teh, penjualan hari ini lumayan banyak " ucap Sintia sambil melihat buku catatan penjualan. Mira tersenyum sambil menatap sekeliling dalam toko nya.


"Iya Alhamdulillah, sepertinya besok Aku harus belanja lagi nih. Udah banyak yg kosong" jawab Mira lalu dia mengambil selembar kertas lalu mulai mencatat barang yg akan dia beli besok.


Sintia berjalan ke depan merapihkan pot pot yg berantakan, tiba-tiba saja pintu terbuka, Sintia menoleh dan tatapan nya terpaku saat melihat sosok pria tampan di hadapan nya.


'Ganteng banget' pusing dalam hati. Pria itu masuk ke dalam lalu Sintia segera menghampiri nya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" ucap Pria tersebut yg tak lain adalah Dhiwa.


"Wa'alaikumussalam, ada yg bisa Saya bantu Pak? " tanya Sintia sambil menatap kagum.


"Teh Mira nya ada? " tanya Dhiwa sambil celingukan, Sintia menatap Dhiwa dengan tatapan bingung karena dia merasa heran kenapa pria tersebut mencari Mira.


"Oh Teh Mira, ada Pak. Sebentar Saya panggilkan" jawabnya lalu pergi meninggalkan Dhiwa. Sintia masuk ke ruangan Mira lalu menghampiri nya.


"Teteh, ada yg nyariin di depan" seru Sintia antusias.


"Siapa Neng? " tanya Mira penasaran.


"Enggak tau, tapi orang nya ganteng pisan ihh bikin gemes" seru Sintia sambil jejingkrakan. Mirna mengangkat alisnya lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju keluar.


"Mas Dhiwa! " seru Mira kaget saat melihat Dhiwa.


Dhiwa menoleh lalu mendekati Mira, "Assalamu'alaikum Mira" sapanya dengan lembut membuat hati Mira berdesir hangat.


"Astagfirullah, maaf mas. Silahkan duduk. Sin tolong buatin teh ya" pinta mira kepada Sintia.


"Iya Teteh" jawab Sintia lalu segera pergi ke dapur, Sintia tak berhenti bergumam sepanjang di dapur 'oh jadi itu Pak Dhiwa, ganteng pisan ihh Aku juga mau yg kaya gitu satu ya Allah' gumam Sintia tak henti henti karena merasa kagum dengan ketampanan Dhiwa.


"Ada apa Mas Dhiwa sampai datang mencari Saya? " tanya Mira penasaran. Tak lama Sintia datang membawakan teh manis hangat " Silahkan di minum Pak " ucap Sintia.


"Terima kasih " Dhiwa lalu meminum teh tersebut lalu meletakkan kembali di atas meja.


"Begini Teh Mira, Saya rencananya mau pesan pot lagi 50 buah sama seperti yg kemarin, tapi untuk kantor cabang yg di Jakarta, kebetulan atasan yg disana tertarik dengan harga yg kemarin Teteh tawarkan dan juga pot nya cantik cantik dan bagus " jawab Dhiwa panjang lebar, Mira terkejut dan juga termangu saat mendengar Dhiwa akan memesan kembali, pasalnya baru 3 hari yg lalu Dhiwa membeli padanya sekarang sudah memesan kembali.

__ADS_1


"Aduh mohon maaf sebelumnya Mas Dhiwa, pot yg kemarin habis Saya baru mau belanja besok. Gini aja Mas, Mas kirimkan aja alamatnya nanti Saya kirim langsung dari toko langganan Saya. Kebetulan mereka ada mobil khusus kok. Nanti Saya kawal sampai ke tujuan" ujar Mira merasa tak enak, Dhiwa manggut manggut sambil memegang dagunya.


"Teteh kesana naik apa? " tanya dhiwa.


"Saya bawa mobil pribadi Mas, sudah biasa kalau belanja nyetir sendiri" jawab Mira sambil tersenyum.


'Gadis yg mandiri, benar benar tipeku' gumam Dhiwa dalam hati.


"Sudah pernah bawa mobil jauh sampai jakarta? " tanya Dhiwa kembali, Mira menggelengkan kepala sambil nyengir menahan rasa malunya, "Bagaimana kalau begini, Saya temani Teteh berbelanja dan nanti biar Saya ikut kawal ke Jakarta, supaya aman biar Saya yg nyetir, gimana? " usul Dhiwa. Modus banget si Dhiwa 🤣


"Betul tuh Teh, daripada nanti Teteh kenapa napa di jalan kan, kalau sama Pak Dhiwa Teteh pasti aman, iya kan Pak? " timpal Sintia ikut ikutan menyerobot obrolan, Mira memelototi Sintia karena di anggap tak sopan karena ikutan nimbrung.


"Tapi Saya ngga enak sama Mas Dhiwa, kan Mas kerja kalau nemenin Saya nanti di marahin bos nya gimana? " tanya Mira ragu ragu.


"Ngga akan di marahin kok, kan Saya nanti izin ke Atasan Saya untuk perjalanan Dinas, ya itu sih terserah Teteh kalau ngga keberatan Saya siap menemani " jawab Dhiwa sedikit menekankan, Mira sedikit ragu tapi dia juga berpikir tak mungkin dia menyetir sejauh itu, Mira belum berani.


"Baiklah jika memang tidak merepotkan, besok pagi kita berangkat ya Mas" ucap Mira akhirnya membuat perasaan Dhiwa sedikit lega, entah kenapa rasanya dia selalu ingin berdekatan dengan Mira.


Setiap kali bertemu Mira, Dhiwa merasakan desiran aneh. Dhiwa juga tak bisa mengusir bayangan wajah Mira dari dalam pikiran nya. Dan kesempatan ini sangat di manfaatkan oleh Dhiwa untuk bisa lebih dekat dengan Mira.


"Baiklah kalau begitu, hari sudah sore Saya izin pamit karena harus piket malam di kantor. Sampai ketemu besok Mira, Assalamu'alaikum" ucap Dhiwa sambil menundukkan kepala lalu segera pergi dari toko Mira.


"Wa'alaikumussalam, hati hati di jalan Mas" jawab Mira, setiap perlakuan Dhiwa selalu membuat hati Mira menghangat. Mira semakin yakin kalau dia sudah jatuh cinta dengan Dhiwa.


"Cie yg besok mau jalan bareng, pulang pulang jadian nih kayaknya" ledek Sintia sambil terkekeh. Mira mencubit lengan Sintia sambil tersenyum malu.


"Kamu ini suka banget ngeledekin Saya, udah ahh Saya mau pulang dulu mau nyiapin buat besok " ujar Mira lalu dia pergi meninggalkan Sintia yg masih terkekeh, 'semoga mereka berdua berjodoh, Aamiin' gumam Sintia dalam hati.

__ADS_1


Sepanjang jalan Dhiwa terus saja tersenyum, entah kenapa dia merasa sangat senang karena bisa berduaan dengan Mira besok. Dhiwa sedang memikirkan alasan untuk izin ke Mirna supaya dia bisa pergi ke Jakarta bersama dengan Mira, karena Mirna takkan mengijinkan jika Mirna tahu kalau Dhiwa hanya pergi berduaan dengan seorang wanita.


"Aku tak sabar menunggu besok" gumam Dhiwa sambil menatap jalanan.


__ADS_2