
Mutia sedang harap harap cemas, dia memegang tespek yg ada di tangannya sambil memejamkan matanya.
Ridwan menunggu di luar kamar mandi dengan cemas, tak lama Mutia keluar dengan tatapan sendu.
"Dek bagaimana? " tanyanya tak sabar, Mutia hanya diam saja, ridwan berpikir hasilnya tak sesuai harapan.
Mutia menyerahkan tespek tersebut kepada ridwan, seketika mata ridwan membulat menatap Mutia.
"Akang akan jadi ayah" ucap Mutia dengan senyum merekah, ridwan langsung memeluk istrinya dan menciumnya bertubi-tubi.
"Masya Allah, alhamdulillah Terima kasih ya Allah" ucap ridwan sambil mencium istrinya lalu dia sujud syukur.
Mutia menangis bahagia karena dia hamil, ridwan kembali memeluk istrinya dengan rasa bahagia.
"Terima kasih sayang sudah menjadi pelengkap hidup akang, akang akan menjaga kalian selamanya" ucap ridwan.
"Aamiin, aku juga bahagia menjadi istrinya akang, dan calon ibu dari anak anak akang" Mutia tersenyum lalu ridwan mencium bibir Mutia.
"Kita harus kasih tau ibu, beliau pasti senang karena cucunya akan bertambah satu lagi" ucap ridwan antusias, lalu dia langsung mengambil ponselnya.
Ridwan menelpon ibunya memberi kabar kalau Mutia tengah hamil, ibu Khadijah sangat bahagia mendengar menantunya sedang mengandung calon cucunya.
"Jaga kandungan mu ya nak, semoga Allah berikan kesehatan, dan kemudahan untuk mu dalam melewati masa masa kehamilan mu" ucap bu Khadijah mendo'akan Mutia.
"Aamiin ya Allah, Terima kasih atas do'anya ibu, semoga ibu sehat selalu panjang umur agar bisa menggendong putra putri kami kelak" jawab Mutia.
"Aamiin ya mujiibasaailiin" ucap bu Khadijah.
Ridwan membawa Mutia ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, dia sudah tidak sabar untuk melihat buah hatinya bersama dengan Mutia.
.
.
Dhiwa pulang ke rumah nya untuk mengambil beberapa buah baju, baju kerja dan baju ganti karena dia akan sering tidur di rumah Mira.
Mirna masuk ke dalam kamar, untung saat ini anaknya sudah berangkat ke sekolah jadi mereka tak akan curiga jika melihat ayahnya pergi dengan membawa tas.
__ADS_1
Dhiwa menoleh ke arah mirna dan mendekati nya, dia memeluk tubuh istri pertama nya dengan perasaan yg tidak bisa di jelaskan.
"Ayah ngga pulang lagi malam ini? " tanya Mirna.
"Tidak bun, insya allah besok malam ayah pulang dan tidur disini" jawab Dhiwa, Mirna merasa perih di hatinya.
'Sabar Mirna, tahan.. Demi anak anakmu' bisik Mirna dalam hati.
Mirna membantu memasukkan baju ke dalam tas, biar bagaimana dia adalah istri Dhiwa, tugasnya adalah berbakti kepada suaminya meskipun berat dirasakan nya.
"Ayah berangkat dulu ya, bunda jaga diri" Dhiwa mengecup kening Mirna lalu pergi.
Mirna menitikan air mata, sekuat apapun dia menahan semakin sakit yg dia rasakan, dia pun masuk dan menangis dalam diam, bagaimana bisa seorang suami yg selalu nampak sholeh dan menyayangi nya bisa tega menghianati nya. Tak ingin berlarut-larut Mirna pun mengusap kedua pipinya lalu dia beranjak ke dapur dan memasak untuk kedua anaknya.
.
.
Ridwan sangat senang saat mengetahui kehamilan istrinya yg memasuki minggu ke 4,bahkan sudah terlihat di USG walau belum besar tapi dia sangat bahagia.
Mutia merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, dokter memberikan resep vitamin karena Mutia tidak mengidam separah Mira.
Mira sedang menonton TV sambil memakan buah kedondong yg di cocok garam, beberapa hari ini dia memang sedang ngidam yg asam asam.
Bel rumah berbunyi, Mira bangkit dan menaruh kedondong di atas meja. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya, ternyata yg datang ridwan dan Mutia.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka berdua.
"Wa'alaikumussalam, mari masuk" ajak Mira.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang TV dan melihat ada kedondong di atas meja, "Dek kamu makan itu? " tunjuk ridwan.
"Iya a, Mira lagi pengen makan yg asem asem, oh iya ngomong ngomong kalian darimana? "
"Kami habis dari rumah sakit" jawab Mutia.
"Loh siapa yang sakit teh? " tanya Mira cemas, ridwan lalu menuntun istrinya untuk duduk dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Bukan sakit, tapi teteh mu sedang hamil" jawab ridwan.
"Hah serius? Alhamdulillah sebentar lagi Mira punya keponakan" seru Mira merasa senang, dia lalu memeluk kakak iparnya tersebut, "selamat ya teh, semoga teteh dan calon bayi nya sehat sampai waktunya melahirkan " ucap Mira.
"Aamiin, makasih ya dek, do'a yg sama untuk mu dan calon bayimu" balas Mutia.
"Wah berarti nanti lahirannya bisa bareng dong" ucap Mira.
"Duluan kamu kayak nya, beda sebulan kan" tebak ridwan.
"Ohh iya ya" Mira menggaruk kepala nya yg tak gatal.
"Dimana suamimu? " tanya ridwan.
"Mas Dhiwa sudah berangkat kerja aa" jawab Mira.
"Ohh" ucap ridwan sambil membulat kan bibirnya.
Mira dan Mutia saling bertukar cerita seputar ibu hamil, mereka berdua sudah tidak sabar menanti kelahiran buah hati mereka.
.
.
Alpian baru saja keluar dari kantornya, rencananya dia akan kembali ke ciamis untuk bertemu dengan Mira.
Seseorang sedang memperhatikan nya dari kejauhan, tiba-tiba orang tersebut menepuk bahunya.
"Pian... " panggilnya, Alpian menoleh dan terkejut,
"Chika! " gumamnya, chika adalah teman kuliah nya Alpian waktu di luar negeri, dia selalu mengejar Alpian meskipun sudah di tolak beberapa kali.
"Apa kabar? Ngga nyangka bisa ketemu disini" ucap chika.
"Baik, kamu apa kabar? Btw maaf aku lagi buru buru, aku duluan ya" ucap Alpian membuat alibi padahal dia malas bertemu dengan chika.
"Pian tunggu! " teriak chika tapi Alpian sudah masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Chika menatap kepergian Alpian sambil tersenyum miring, lalu dia pergi dari sana.