
Bu Khadijah nampak ragu untuk mengambil air yg di sodorkan oleh Dhiwa, tapi melihat tatapan tulus dari menantunya dia pun mengambil dan meminumnya.
Mira merasa lega karena kondisi ibunya berangsur-angsur membaik, Dhiwa duduk di sofa seberang sementara Mira duduk di samping ibunya.
"Bu, saya tau ibu tidak suka kepada saya, tapi saya mencintai Mira dengan tulus. Meskipun saya tidak bisa mempublikasikan hubungan kami tapi saya sudah berjanji akan menjaga dan menyayangi Mira selamanya" ucap Dhiwa membuat Mira dan bu Khadijah sedikit terkejut.
Bu Khadijah tersenyum kecut, dia merasa muak mendengar ucapan Dhiwa.
"Mencintai dan menyayangi? Sedangkan semalam kau memaki anakku tanpa memikirkan perasaan nya" sindir bu Khadijah.
Dhiwa merasa kikuk, dia yakin pasti Alpian yg sudah mengadukan hal ini kepada ibu mertuanya.
"Saya akui saya bersalah, karena saya sudah salah paham kepada Mira. Saya membentak nya tanpa mendengarkan terlebih dahulu" ucap Dhiwa merasa bersalah.
Bu Khadijah mencebik, dia yakin Dhiwa berbicara seperti itu hanya untuk membela dirinya agar tak disalahkan.
"Mah sudah cukup, Mira mohon jangan ada perdebatan lagi. Bukan Mira mengusir mama tapi lebih baik mama pulang ya istirahat di rumah, nanti biar Mira datang ke rumah mama ya" bujuk Mira.
Bu Khadijah berdecak sebal, lalu dia pun segera pulang dari rumah Mira dengan di antar supirnya. Mira menatap kepergian ibunya dengan tatapan sedih.
Dhiwa memeluk tubuh Mira dari belakang membuat Mira terkejut, Mira membalikkan tubuhnya, Dhiwa langsung memeluknya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Maafkan mas ya, karena sudah memakimu dan membentak mu semalam" ucapnya meminta maaf.
"Gapapa mas, Mira ngerti kok mas sedang cemburu" Mira memeluk suaminya erat.
Dhiwa melepaskan pelukan dan mencium Mira, dia menatap kedua mata Mira dengan tatapan mendalam.
"Makasih ya kamu sudah membela mas di depan ibu" ucapnya.
"Mas denger semuanya ya? " tanya Mira. Dhiwa mengangguk manja, Mira tersenyum lalu mengusap kedua pipi suaminya.
"Sampai kapanpun aku hanya mencintaimu mas" Mira lalu mengecup bibir Dhiwa lembut, Dhiwa merasa gemas lalu menggendong istrinya ke dalam kamar.
"Boleh mas menengok anak kita? " bisik Dhiwa di telinga Mira membuat Mira merinding, Mira mengangguk malu lalu Dhiwa pun memulai aksinya.
.
.
Saat Sintia sedang mundur tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang, Sintia hampir terjatuh tapi ada tangan yg menangkap tubuhnya dengan sigap.
"Arghh! " teriaknya sambil memejamkan mata, Sintia merasa aneh karena tubuhnya tak merasa sakit.
__ADS_1
Sintia mengintip, seketika matanya membulat saat melihat pria yg memegangnya.
Sintia langsung berdiri tegap dan melepaskan diri, dia merasa malu karena pria tersebut sangat tampan. Jantung Sintia hampir copot saat memandang wajah pria itu tadi.
"Maaf" ucap Sintia gugup. Pria itu tersenyum.
"Tak apa, lain kali hati hati ya" ucap pria tersebut, lalu langsung pergi dari toko. Sintia menatap kepergian pria itu, dia bahkan tak memperhatikan jika ada pria tampan yg datang ke tokonya.
"Lagi liatin apa serius amat? " ledek sukri, Sintia menoleh sambil tersipu malu, sukri paham lalu dia mengangguk angguk kepala nya.
"Ohh cowok yg tadi ya? Namanya mas Tio, dia abis borong pot tadi" ucap sukri.
"Masa sih? Kok saya gak lihat ya" tanya Sintia.
"Kan kamu sibuk cek barang, mana engeh atuh" ledek sukri, Sintia menggaruk kepalanya yg tak gatal.
"Kalau penasaran nanti ikut aja pas antar barang" ucap sukri, Sintia mengangguk dengan antusias.
"Boleh boleh" serunya.
"Yeay dasar jomblo gatel" sindir sukri membuat Sintia marah lalu memukul tangan sukri, sukri tertawa lalu pergi meninggalkan Sintia yg masih tersenyum senyum.
__ADS_1
"Semoga dia jodohku, aamiin" gumam Sintia bahagia.