Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 28


__ADS_3

Alpian menghela nafas nya dengan berat, permintaan Ibu Khadijah sangat membuat nya gusar, pasalnya Mira saat ini tengah mengandung anak Dhiwa.


"Ibu tahu kamu sangat mencintai Mira kan? Mira takkan bahagia bersama dengan lelaki itu, karena dia sudah beristri, jaga dan sayangi Mira Ibu kan membantu kalian untuk bersama" ucap bu Khadijah.


"Tapi bu, anak yg di kandung Mira bukan anak saya, saya takkan tega melihat Mira frustasi jika saya membawa nya jauh dari Dhiwa" tolak Alpian.


"Bu, biarlah Mira menikah dahulu dengan Dhiwa, jika memang dia tak bahagia maka saya berjanji akan membawa Mira jauh dari hidup Dhiwa, dan saya akan menyayangi anak itu seperti anak saya sendiri" ucap Alpian.


Bu Khadijah menghela nafas, tak ada pilihan lain selain menikahkan Mira dengan Dhiwa meskipun dalam hati nya tak rela melihat anaknya di madu.


"Baiklah , Ibu pegang ucapan mu nak Alpian. Hanya kamu satu satunya yg bisa Ibu percaya saat ini" ucap Bu Khadijah sambil mengelus punggung Alpian.


Alpian mengangguk, lalu dia izin pamit dari rumah Ibu Khadijah. Sepanjang jalan Alpian terus saja memikirkan Mira, dia merasa sedih dan kasihan terhadap Mira, yg dia cintai selama bertahun-tahun.


"Aku tak menyangka akan seperti ini, aku janji akan merebutmu darinya Mira" gumam Alpian sambil meremas setir mobilnya.


.


.

__ADS_1


Hari yg di tunggu pun tiba, saat ini mereka sedang berkumpul di rumah Mira, ada Mira, Dhiwa, Mirna, Sintia, Ridwan, Mutia, Bu Khadijah, Roni, dan Sukri sebagai saksi. Pak penghulu memulai acara ijab kabul. Dengan sekali tarikan nafas Dhiwa sudah berhasil mempersunting Mira sebagai istrinya.


Mirna menitikan air mata, dia tak kuasa menahan sakit dalam dadanya, meskipun bibirnya berucap ikhlas tapi hatinya sangatlah sakit.


Mira bersujud di depan Ibunya sambil menangis, lalu Ibu Khadijah memeluknya dan mencium kedua pipinya,lalu dia bergantian memeluk kakaknya Ridwan dan kakak iparnya Mutia, dia juga memeluk Sintia sambil menangis.


"Sintia do'akan semoga teteh bahagia dan kuat" ucap Sintia sambil menangis.


"Aamin neng, makasih" jawab Mira.


Mira menatap Mirna lalu dia memeluk wanita itu, Mirna menangis tak bisa berkata kata saat memeluk madunya.


"Semoga kalian bahagia" ucap Mirna.


"Jangan meminta maaf terus, aku sudah memaafkan mu" ucap Mirna sambil berusaha tersenyum.


Setelah selesai ijab kobul,Mirna pun ijin pamit karena dia meninggalkan anak anaknya di rumah bersama adiknya dengan alasan arisan di rumah temannya.


"Ayah ngga pulang malam ini" ucap Dhiwa, Mirna tersenyum kecut. Dia hanya mengangguk lalu segera berpamitan dengan yg lain, Mira menatap kepergian Mirna dengan perasaan sakit.

__ADS_1


"Kalian istirahat lah, kami pulang dulu" ucap Ridwan mewakili yg lain, Dhiwa dan Mira pun mengantarkan mereka sampai ke pintu depan.


Mira menatap kepergian mereka dengan tatapan sedih, dia masih tak menyangka bahwa kehidupan nya akan dramatis seperti ini, meskipun Dhiwa bertanggung jawab akan kehamilan nya akan tetapi hatinya terasa sakit.


Dhiwa menuntun Mira ke kamar, dia membantu Mira duduk di tepi ranjang. Dhiwa menatap wajah Mira yg saat ini sudah menjadi istrinya.


"Mas akan menjaga kalian, semampu mas" ucapnya, Mira mengusap wajah Dhiwa, tak dia pungkiri ada sedikit rasa bahagia karena lelaki yg di cintai nya saat ini sedang bersama nya.


Dhiwa mengecup bibir Mira sekilas, lalu menatap kedua mata Mira, Mira merasa gugup di tatap oleh Dhiwa.


"Apakah boleh? " tanya Dhiwa sambil menelan ludahnya.


"Aku ngga tau mas" jawab Mira malu malu.


"Mas lakuin pelan pelan supaya anak kita tidak terluka" bisiknya membuat Mira merona malu, Dhiwa lalu membuka kebaya Mira dan merebahkan tubuh Mira di ranjang.


Mira memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan pada dirinya, Dhiwa mencium kening Mira berkali-kali, hingga akhir nya dia pun melakukan pelepasan yg sempurna.


Dhiwa meremas jemari tangan Mira, keringat bercucuran dari wajah dan tubuhnya.

__ADS_1


Mirna tertidur pulas setelah melakukan hubungan badan dengan Dhiwa, Dhiwa memeluk Mira dari belakang dengan dibalut selimut.


Ponsel Mira berdering, Dhiwa menoleh ke arah meja di samping ranjang dan menatap kesal saat nama seseorang terpampang di layar ponsel milik Mira.


__ADS_2