Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 15.


__ADS_3

Mira mengirimkan pesan kepada Dhiwa mengajaknya untuk bertemu, tapi Dhiwa belum membalas nya.


Mira memutuskan untuk menemuinya di Kodim, setelah sampai Mira pun parkir di tempat yg agak jauh sedikit dari Kodim.


Mira menelpon Dhiwa, kemudian Dhiwa pun mengangkat nya.


"Assalamu'alaikum dek, ada apa? "


"Wa'alaikumussalam, Mas aku ada di dekat Kodim, bisa ketemu sebentar" tanya Mira.


Dhiwa menarik nafas, lalu dia pun melihat sekeliling, "baiklah tunggu ya dek" titahnya. Mira menutup telponnya lalu menyimpan nya dalam tas.


Tak lama Dhiwa pun datang, dia melihat mobil Mira dan menghampiri nya.Dhiwa langsung masuk ke dalam mobil, Mira langsung mencium tangan Dhiwa takjim.


"Mas ada yg mau aku omongin sama kamu" ucap Mira, Dhiwa menghela nafasnya dengan pelan, dia seperti sudah tau apa yg akan Mira bicarakan padanya.


Mira mengeluarkan tespek yg dia pakai tadi pagi, dan menyerahkan kepada Dhiwa, terlihat ekspresi Dhiwa yg nampak tak terkejut membuat Mira sedikit bingung.


"Mas aku hamil" ucapnya lirih, bahkan dia sudah tidak bisa menahan air mata nya.


"Sesuai dengan janji Mas, Mas akan tanggung jawab, tapi ada satu hal yg harus Mas kasih tau ke kamu" jawab Dhiwa.


"Apa Mas? " tanya Mira penasaran.


"Sebenarnya Mas sudah menikah" jawab Dhiwa dengan nada berat.


DUAR!!!


Mira sangat terkejut mendengar penuturan Dhiwa, rasanya seperti disambar petir di siang bolong, Mira menangis histeris merasakan sesak di dalam dadanya, rasanya seperti mimpi tapi inilah kenyataannya.


"Mas minta maaf sebelumnya karena Mas tidak jujur sama kamu, karena Mas sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu dek, Mas tau Mas egois tak memikirkan perasaan mu, setelah Mas tau kamu juga punya perasaan sama Mas, Mas berniat mempertahankan kamu" jelas Dhiwa dengan tatapan bersalah.


Mira tak bisa berkata kata, hatinya hancur lebur, bagaimana bisa dia menjalani hubungan dengan Dhiwa yg berstatus suami orang, bahkan saat ini dia sedang mengandung anak Dhiwa.

__ADS_1


"Mas akan menikahimu dek, tapi mas hanya bisa mengajakmu untuk menikah siri" ucap Dhiwa sambil memegang tangan Mira.


Mira menepis tangan Dhiwa, dia benar-benar kecewa dan marah, dia juga merutuki dirinya yg begitu bodoh karena mudah terlena karena cinta dan sekarang dia sendiri yg menyesal.


"Dek tolong jangan seperti ini" ucap Dhiwa khawatir karena sejak tadi Mira tak berhenti menangis. Dia berusaha untuk memeluk tubuh Mira tapi Mira segera mendorongnya.


"Keluar! " tirah Mira tanpa menoleh.


"Dek tolong jangan seperti ini, Mas mencintai kamu dek" bujuk Dhiwa.


"Keluar ku bilang! " bentak Mira sambil menatap Dhiwa tajam, bahkan mata Mira sudah memerah dan bengkak karena terus menangis.


Dhiwa mengacak rambutnya frustasi, dia bingung harus berbuat apa, akhirnya Dhiwa pun keluar dari mobil.


Sebenarnya Dhiwa tak ingin meninggalkan Mira karena Dhiwa takut Mira akan melakukan hal yg nekad, tapi dia juga ingin memberikan ruang untuk Mira berpikir.


Saat Dhiwa keluar dari mobilnya, Mira langsung tancap gas meninggalkan tempat itu, Dhiwa menatap kepergian Mira dengan tatapan sedih dan bersalah.


"Mas tau kamu kecewa dek, tapi hanya ini yg bisa mas lakukan sebelum kamu mengetahui nya belakangan" ucapnya lirih lalu Dhiwa berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Mira menepikan mobilnya lalu dia memukul stir mobil nya berkali-kali, dia berteriak histeris meratapi nasibnya, bagaimana tidak karena Dhiwa hanya bisa menjadikan dia seorang madu.


"Kenapa kamu lakuin ini ke aku mas, kenapa?! " teriaknya.


"Kamu jahat mas, kamu benar benar jahat! " makinya.


Mira benar-benar merasa frustasi, dia putuskan untuk tidak kemana-mana dulu, dia ingin menenangkan dirinya dirumah. Dia pun mengirimkan pesan kepada Sintia bahwa dia ingin istirahat dulu.


Mira ingin menenangkan pikiran nya yg kacau, sampai dia merasa tenang dan siap untuk menentukan bagaimana kedepannya nanti.


.


.

__ADS_1


Dhiwa mencoba menelpon Mira beberapa kali, tapi ponsel Mira tak bisa di hubungi, Dhiwa merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Mira maka dia akan semakin merasa bersalah, akhirnya dia putuskan untuk datang ke toko Mira, berharap Mira ada disana.


Dhiwa sampai di toko milik Mira, tapi dia tak melihat adanya mobil Mira, Dhiwa pun turun dari motor nya dan menghampiri Sintia.


"Pak Dhiwa" gumamnya.


"Assalamu'alaikum neng, teteh nya ada? " tanya Dhiwa.


"Wa'alaikumussalam, teteh ngga kesini pak, katanya lagi sakit" jawab Sintia.


"Boleh saya minta alamat rumah teteh? " tanya nya kembali.


Awalnya Sintia ragu untuk memberikan alamat rumah Mira, tapi karena melihat tatapan memohon dari Dhiwa akhirnya Sintia memberikan nya.


"Tapi jangan bilang bapak tau dari saya ya, nanti saya di marahin sama teteh" pintanya.


"Iya tenang saja, Terima kasih ya saya permisi dulu" ucap Dhiwa lalu bergegas pergi dari sana.


.


.


Mira sedang duduk di sofa di kamarnya sambil menatap keluar jendela,salah satu tangannya mengelus elus perutnya yg masih rata.


"Ya Allah apa yg harus aku lakukan dengan benih ini?aku bingung ya Allah" lirihnya sambil mengelus dan menatap perutnya.


Terbesit dalam hati nya untuk menggugurkan nya karena dia yakin Bu Khadijah dan kakaknya Ridwan pasti akan murka padanya, tapi dia juga takut dia akan semakin dosa karena telah membunuh calon bayinya.


Mira dirundung bingung, apakah dia harus menerima tawaran Dhiwa atau dia akan membesarkan anak itu seorang diri tanpa suami.


Saat Mira sedang termenung tiba tiba bel rumah nya berbunyi, dia pun menatap aneh ke arah pintu, dia segera mengusap kedua pipinya yg basah karena bekas menangis lalu berjalan ke lantai bawah.


Mira merasa was was, takut kalau yg datang adalah Ibu ataupun kakaknya.

__ADS_1


Mira menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan lalu dia membukakan pintu. Betapa terkejutnya Mira saat melihat siapa yg datang.


__ADS_2