
Mira terus saja muntah muntah, hingga tubuhnya terasa lemas, dia tak kuasa untuk berdiri, dia pun merangkak menuju meja di samping tempat tidurnya dan mengambil ponselnya.
Mira menekan nomer Dhiwa, tak lama telpon nya tersambung.
"Assalamu'alaikum dek" sapa Dhiwa, tapi tak ada jawaban dari Mira.
"Dek, kamu gapapa kan? " tanyanya mulai panik.
"Mas... Tolong" ucap Mira lirih hampir tak terdengar, Dhiwa yg panik langsung menutup telpon dan berlari menuju motor nya, dia tak menghiraukan tatapan sangat komandan yg menatapnya heran.
Tak lama Dhiwa sampai di rumah Mira, dia pun langsung menerobos masuk ke dalam menuju kamar Mira, betapa terkejutnya dia saat melihat Mira yg sudah tergeletak di lantai.
"Mira! " teriaknya lalu berlari menghampiri Mira,
"Mira bangun sayang! Mir.. Astagfirullah badannya panas sekali" Dhiwa menepuk nepuk pipi Mira dan terkejut saat memegang kening Mira yg panas, dia pun langsung menggendong tubuh Mira dan membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu Bu Khadijah, Ridwan dan Mutia saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Mira, mereka ingin menengok keadaan Mira yg kurang sehat.
Bu Khadijah sudah membawa daging rendang kesukaan Mira.
.
__ADS_1
.
Mira dilarikan ke unit gawat darurat karena kondisinya yg sangat lemah, Dhiwa tak di perbolehkan ikut ke dalam, dia hanya bisa menunggu di luar ruangan.
Dhiwa mengambil ponsel Mira dan mencari nomer Sintia, dia pun mengirimkan pesan kalau Mira saat ini sedang di rawat di rumah sakit.
Sintia terkejut membaca pesan dari Dhiwa, dia pun berencana mengunjungi Mira di rumah sakit. Tapi saat dia hendak pergi tiba-tiba ponselnya berdering.
"Pak Ridwan" gumamnya lirih.
"Assalamu'alaikum pak" sapanya.
"Wa'alaikumussalam, Sin apa Mira ada disitu? " tanya Ridwan.
"Dhiwa? Siapa Dhiwa? Mira ngapain di rumah sakit? " tanya Ridwan bertubi-tubi.
'Mampus aku keceplosan' rutuknya dalam hati.
"Hmm itu pak, anu... Teh Mira di rawat tadi pingsan" jawab Sintia tergagap.
"Apa? Mira pingsan? " Ridwan berteriak membuat bu Khadijah terkejut.
__ADS_1
"Ada apa Wan? Kenapa Mira pingsan? " tanya bu Khadijah cemas.
"Ngga tau mah, ayo kita susul dia di rumah sakit" ajak Ridwan lalu mereka berangkat menuju rumah sakit.
Sintia menutup telpon nya lalu bergegas ke rumah sakit dengan menggunakan motor nya, sementara itu bu Khadijah sangat mencemaskan keadaan putrinya. Mutia memegang tangan ibu mertua nya, "kita berdoa untuk Mira ya mah, semoga Mira baik baik saja" ucap Mutia, dia berusaha menenangkan mertua nya padahal hatinya sama cemas nya.
"Iya nak, semoga Mira tidak kenapa napa" ucap bu Khadijah.
.
.
Dhiwa sedari tadi mondar mandir di depan ruang UGD, dokter yg memeriksa Mira belum juga keluar.
Tak lama dokter pun keluar, Dhiwa segera menghampiri dengan tatapan cemas.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter? "
"Kondisi nya sangat lemah, pasien kekurangan cairan karena terlalu sering muntah, sangat berbahaya untuk janin dalam kandungan nya. Untuk sementara harus di rawat inap" ujar dokter membuat Dhiwa lemas.
Perawat keluar membawa ranjang yg terdapat Mira sedang berbaring tak sadarkan diri, dia akan di pindah kan ke ruang rawat inap. Dhiwa mengikuti nya sambil memegang tangan Mira yg di infus.
__ADS_1
Ridwan, bu Khadijah dan Mutia tiba di rumah sakit, bersamaan dengan Sintia. Mereka bertanya ke bagian informasi untuk menanyakan ruangan saat ini Mira di rawat.
Mereka berempat berjalan tergesa-gesa menuju ruang melati di lantai 2, Ridwan membuka pintu kamar tersebut dan dia menatap heran kepada seorang pria yg sedang menggenggam tangan adiknya.