
"Btw, bagaimana kabar menantu gue? " tanya Nila.
"Ha, siapa menantu lo?" tanya Vina.
"Lah siapa lagi kalau bukan, baby boy Arsakha." ucap Nila.
Ziya yang mendengar penuturan sahabatnya itu geleng-geleng kepala.
"Dasar lo ya, masih ingat aja lo." ucap Ziya.
"Tentu donk, gimana kabarnya? udah bisa lah yakan nikahin anak lo sama anak gue? " tanya Nila antusias.
"Dasar emak satu ini, nanti aku tanya mas akmal dulu bagaimana, jika mas akmal setuju gue bolehin lah jodohkan anak gue dengan anak lo." ucap Ziya.
"Ye, gitu donk kan gue punya mantu tampan." ucap Nila.
"Jadi lo nyari mantu cuma tampan donk gitu? " tanya Vina.
"Ya gak lah, kalau anaknya Ziya dan ustadz akmal mah gue percaya, ya gak mungkin anaknya Ziya nyasar kan kelakuannya." ucap Nila.
"Tapi........ dengan catatan kalau anak lo sesuai kriteria gue." ucap Ziya.
"Kalau itu mah, tenang aja." ucap Nila.
__ADS_1
"Hihiihiii, tapi satu gue gak jamin zi kalau anak gue gak buat lo sakit jantung." batin Nila sambil tersenyum nakal membayangkan nanti anaknya membuat Ziya darah tinggi.
"Baiklah, astagfirullah gue lupa bentar lagi anak gue pulang." ucap Ziya mengingat jam sudah jam 4 sore dimana anaknya sudah pulang dari kantor.
"Yaudah, gue juga mau pulang suami gue pasti udah pulang." ucap Nila.
Mereka bertiga berjalan, menuju kasir membayar pesanan mereka,lebih tepatnya Ziya yang mentraktir mereka, sampai diparkir Ziya dan vina berpisah dengan Nila karena jalan rumah mereka dengan Nila berlawanan arah.
Seperti biasa Arsakha dan Arsyad, pulang dari kantor jam 4 sore namun terkadang mereka harus lembur dihari tertentu.
Pagi hari yang cerah, secerah senyum seorang gadis, memandangi pantulan dirinya di cermin dengan stelan jas, dan hijab menutupi kepalanya.
Ia terlihat begitu cantik, gadis itu tak lain Dila yang sudah siap, akan berkerja sebagai sekretaris meski ia masih anak magang.
sampai dibawah ia juga tidak lupa menyapa sang papa dan mamanya tak lupa seperti biasa mereka serapan bersama, selesai serapan Dila berpamitan dengan menyalami kedua orang tuanya.
"Ma pa, Dila. berangkat dulu ya, assalamu'alaikum. " ucap Dila sambil memberi kecupan dipipi kedua orang tuanya.
"Iya sayang, hati-hati mengemudinya dan ingat kerja yang baik." ucap ikhsad.
"Ingat apa yang papa kamu bilang." timpal Nila kembali mengingatkan.
"Iya ma pa, Dila akan selalu ingat nasehat papa dan mama." ucap Dila.
__ADS_1
"Iya kamu selama ini ingat, tapi selalu saja kamu langgar heran mama." ucap Nila mengomeli sang putri, ikhsad hanya geleng geleng kepala lihat istrinya yang selalu ada saja yang mau ia omeli tentang putrinya itu.
"Heheheee, kalau yang satu itu belum bisa." ucap Dila cengengesan.
"Iya, kalau mama sampai lihat kamu ikutan tinju-tinjuan lagi, lihat saja kamu bakalan mama hukum kamu biar gak bisa macam-macam lagi." ucap Nila menakuti putrinya itu.
"Ih seram deh ma, udah ah Dila mau berangkat tar telat lagi, assalamu'alaikum." ucap Dila mengakhiri percakapannya dengan sang mama jika tidak sampai besok pun tidak akan kelar diomelin terus.
"Waalaikumsalam," ucap mereka bersamaan.
"Hehehe, mama harap kamu ikutan tinju hihihi." gumam Nila tersenyum jahat.
"Kali ini apa yang kamu rencanakan ma? " tanya Ikhsad, saat mendengar gumaman istrinya itu.
"Kamu akan tau nanti pa." ucap Nila sambil merangkul tangan suaminya manja.
"Ais, semoga itu hal baik." ucap Ikhsad.
"Oh gitu, jadi selama ini mama lakuin tidak terbaik gitu." ucap Nila menghempaskan lengan suaminya lalu pergi meninggalkan sang suami yang masih berdiri didepan pintu.
"Eh, bukan begitu sayang...." ucap Ikhsad namun sudah ditinggal oleh istrinya.
"Ais, salah lagi." keluh Ikhsad.
__ADS_1