
Sudah lima belas tahun mereka berpisah, Lila terpaksa berpisah dari sahabatnya karena dia harus ikut suaminya yang memiliki kontrak kerja di kairo sehingga dia harus mengikuti suaminya.
15 tahun waktu yang cukup lama di tinggal jauh seorang sahabat baik,mereka cukup lama berpelukan melepas rindu sampai sebuah suara menyadarkan mereka.
"Khem.... khem... " sebuah deheman seorang pria di belakang Lila menyadarkan mereka.
"Lebih baik kita lanjut acaranya, setelah itu baru diteruskan melepaskan rindunya mi!! " ucap pria itu yang tak lain suami Lila yaitu Fatih.
"Ah iya pi, maaf. " ucap Lila sadar.
"Lebih baik kita lanjutkan acaranya kasihan, keponakan tampan ku, yang sudah gak sabar untuk melihat wanita tercintanya." ucap Lila dengan gaya bicara yang sedikit genit masih tidak pernah berubah.
Akhirnya mereka kembali duduk di tempat yang telah disediakan, acara berlangsung begitu lancar meski tadi terdapat sedikit drama dara sahabat Amy nya itu.
Begitu kata Sah kembali bergema di ruangan itu, Didalam kamar Dila bisa mendengar kata sah yang begitu bergema membuat ia sekali lagi menitikkan air matanya.
"Selamat tinggal cintaku, dan aku akan memenuhi kewajiban ku sebagai istri meski aku belum bisa mencintainya." Batin Dila menguatkan hatinya.
__ADS_1
Dila menarik nafas dalam dalam, sebelum dia dijemput untuk bertemu suaminya, suara ketukan pintu membuat Dila tersenyum meski bukan senyum bahagia itu hanya senyum ramah.
"Apa kamu siap untuk bertemu suami kamu nak? " ucap Nila.
"Siap Ma." ucap Dila dengan pasti.
Dila keluar dari kamarnya dengan di pandu oleh mamanya dan sahabat mamanya itu yaitu Vina, mereka membantu Dila turun dari tangga dengan Vina mengangkat sedikit gaun Dila agar tidak terinjak,satu demi satu anak tangga ia turunin dan menguatkan hati dengan menundukkan kepalanya.
Hingga ia tiba didepan pengantin pria,sang mama dan Vina meninggalkan Dila didepan pria yang sudah berstatus kan suami anaknya itu.
"Assalamu'alaikum istriku." ucapan salam Arsakha seketika membuat Dila menaikan kepalanya menatap pria yang di depannya.
Dila begitu syok dia tidak dapat menjawab salam dari Arsakha, Dila hanya menatapnya dan terus menangis terisak isak.
"Hiks.... hiks.... hiks...
" Sayang,kenapa kamu menangis? " ucap Nila menenangkan putrinya itu, Nila merasa bersalah di dalam pikirannya mungkin putrinya belum siap melupakan orang yang ia cintai.
__ADS_1
"Maafkan Mama, ma...
" K.... kenapa kau mempermainkan ku? " ucap Dila memotong perkataan sang mama dan menatap Arsakha dengan tatapan tajam.
"Kenapa? jangan mempermainkan ku! jika kamu tidak mencintaiku jangan lakukan seperti ini! ini sangat menyakitkan.. hiks... hiks" ucap Dila yang sudah menarik kerah baju Arsakha.
"Apa kau tau, susah payah aku menata hati ku, tapi kamu membuatnya runtuh."
"Apakah hati ku hanya sebuah lelucon mu ha? " dengan marah Dila memukul dada bidang Arsakha.
Semua orang yang hadir hanya diam mereka tidak mengerti apa yang telah terjadi, begitu juga kedua orang tua Dila dan keluarga Arsakha kecuali tiga orang itu yang tidak lain Arsyad, Ziya dan Vina.
"Apa aku sebuah lelucon mu? hiks... hiks... hiks." ucap Dila menangis dan melonggarkan tangannya yang mengekang kerah baju Arsakha dan menjatuhkan tubuhnya kelantai secara perlahan.
"Maaf... maaf, aku tidak pernah mempermainkan mu apa lagi menganggap perasaan mu sebuah lelucon." ucap Arsakha mendekap tubuh Dila yang kini telah menjadi istrinya.
"Aku hanya ingin mencintai mu secara halal, memiliki mu secara halal,mengagumimu secara halal,menatapmu, menyentuh mu secara halal, maaf maaf jika sikap dan diamnya aku melukaimu." Arsakha mengungkapkan semua keluhan hatinya yang ia tahan selama ini.
__ADS_1