
Jam 09:30 wib,Arsyad berada di parkiran butik Clathria, salah satu butik langganan Ziya di jakarta.
Sebelum berangkat ke kantor Ziya meminta tolong pada Arsyad untuk mengambil pesanan Ziya, dan disini lah Arsyad berada didepan butik siap untuk masuk.
Namun begitu dia meletakkan tangannya di gagang pintu, tangan seorang wanita juga ingin menarik gagang pintu, sehingga membuat mereka tak sengaja bersentuhan.
Arsyad menoleh ke samping kiri nya,sehingga ia dapat melihat seorang wanita berhijab dengan stelan gamis moderen, wanita itu terlihat lembut namun sangat dingin bahkan bisa melebihi sikap dingin kakaknya.
"Ah, maaf s... saya akan tanggung jawab." ucap Arsyad gugup,dan segera menundukkan pandangannya.
Wanita itu yang mendengar perkataan Arsyad, sedikit mengangkat alisnya.
"Tidak apa,dan juga tidak sengaja kan." ucap Wanita itu yang tak lain Vani.
"Tapi, Saya sungguh akan bertanggung jawab." ucap Arsyad tanpa ragu.
"Ha? " ucap Vani kebingungan, dan pergi masuk meninggalkan Arsyad.
"Aneh itu orang," ucap Vani merasa aneh dengan sikap Arsyad.
__ADS_1
"Tapi.... kanapa aku sepertinya familiar dengan wajahnya." gumam Vani,Namun segera ia tepis Vani langsung meletakkan tasnya dimeja kerja dan melakukan tugasnya.
Vani terlihat serius, saat mengukur kain berwarna biru dimeja setelah mengukur Vani menggunting, kain yang telah diukur dengan hati hati, agar kain tidak kusut dan rusak.
Meski telah satu tahun berlalu dan mereka tidak pernah bertemu lagi, perubahan vani sangat jauh saat Arsyad mengenalnya di kampus.
Begitu juga dengan Arsyad yang memiliki perubahan yang sangat besar, dari wajahnya sangat jauh berbeda dari saat ia satu kampus dengan Vani.
Arsyad yang sekarang terlihat lebih dewasa, maskulin,jika dibandingkan dengan wajah kekanakannya satu tahun lalu.
Vani lebih, terlihat wanita yang feminim, terlihat lembut saat berbicara, namun itu saat hanya berbicara dengan orang yang tidak ia kenal.
"Maaf, permisi? masnya cari apa ya? " tanya wanita itu dengan lembut.
"Ah iya mbak, saya juga lupa tujuan saya datang kesini." ucap Arsyad tersenyum canggung.
Wanita itu terdiam untuk sesat saat mendapat jawaban Arsyad yang aneh pikirnya.
"Ini orang bukan gila ya? eh tapi tidak mungkin jika dilihat dari pakaiannya,tapi masa tidak tau tujuan dia kesini? ." gumam wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal namun perkataannya masih bisa didengar Arsyad.
__ADS_1
"Maaf mbak, saya bisa dengar." ucap Arsyad dengan senyum menampakan sedikit giginya, membuat wanita itu menjadi malu.
"Hehee, maaf ya mas." ucap Wanita itu.
"Gak apa mbak...... " ucap Arsyad dan saat ia ingin melanjutkan perkataannya suara ponselnya berdering.
Arsyad segera menggeser layar menerima ponselnya yang tertera nama si pemanggil yang tidak lain Amynya.
"Assalamu'alaikum, Amy." ucap Arsyad.
"Waalaikumsalam, apa sudah ambil pesanan Amy di butik Clathria." ucap Ziya dibalik telpon.
"Astagfirullah Arsyad sudah di butik Amy, cuma tadi Adek lupa kalau ke butik ambil pesanan Amy." ucap Arsyad.
"Ha, kenapa Adek bisa lupa, apa Adek buat salah? " tanya Ziya.
"A... nu... it.... itu..." ucap Arsyad terbata bata.
"Anu... itu apa? " tanya Ziya yang sudah sedikit meninggikan suaranya, meskipun Ziya terlihat bertingkah seperti teman didepan anak anaknya, namun ada saatnya Ziya bersikap tegas saat anak anaknya melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Sekarang setelah ambil pesanan Amy, segera pulang dan jelaskan kesalahan apa yang kamu perbuat." ucap Ziya dan mengakhiri panggilan setelah mengucapkan salam.