
Pak darmin, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang seperti yang diperintahkan majikannya untuk mengendarai mobil tidak ngebut, sebenarnya Arsakha dan Arsyad bisa saya mengendarai mobil mereka masing masing.
Tapi, Akmal tidak mengizinkan putra putranya menyetir, kecuali hal yang mendesak.
"Pak, tolong antarkan kita ke kantor dulu ya pak. " ucap Arsakha yang duduk dibelakang.
Sedangkan Gibran yang disamping Arsakha hanya diam tak bersuara, dia merasa canggung.
sedangkan Arsyad duduk di bangku depan sebelah pak darmin.
"Baik nak arsa." ucap Pak darmin.
Sesampai di kantor Pak darmin menurunkan Kedua pria tampan itu setelah itu kembali melajukan mobilnya membawa gibran kediaman Akmal dan Ziya.
"Kenapa kamu kemaren tiba-tiba menerima perjodohan itu Dil? " Vani bertanya kepada sahabatnya itu, tapi terlihat Dila hanya menatap kearah luar dari jendela kafe yang ia kunjungi, dimana tempat favorit nya.
Kafe, yang terlihat seperti rumah kaca, semua dinding terbuat dari kaca, di setiap sisi terdapat hiasan dedaunan dan ditengah ruangan terdapat bunga dan burung di sangkar, meski hanya benda mati itu dapat membuat penglihatan tak ingin beralih.
__ADS_1
"Dila." Sudah lima kali Vani memanggil namanya, namun ia tak kunjung sadar hingga saat Vani menepuk pundaknya barulah ia sadar dari alam khayalan nya.
"Ha, apa Van? " Dila tersentak kaget saat Vani menepuk pundaknya.
"Lo kenapa sih? jika lo gak bahagia lalu kenapa lo terima perjodohan itu? " Vani juga merasa sedih melihat sahabatnya itu seperti kehilangan jiwanya.
"Entahlah Van,gue juga tidak tau, yang gue tau saat itu hati gue berkata terima." Dila mengungkapkan apa yang ia rasakan saat itu, ia hanya mengikuti hatinya.
Dila menghempaskan nafasnya dengan kasar, dan sesekali menikmati minumannya.
"Gue, tidak tau keputusan lo ini benar atau salah, tapi yakinlah gue akan selalu ada untuk lo, senang sedih maupun susah kita akan hadapi bersama." Vani menyakinkan Dila jika dia akan selalu mendukung Dila apapun itu.
"Cupcupcup,sini peluk." ucap Vani menirukan suara anak anak.
Mereka berpelukan melepaskan beban hati mereka dan tanpa sadar mereka berdua meneteskan air mata.
"Udah ah, dasar cengeng." ejek Vani yang tau jika sahabatnya itu menangis.
__ADS_1
"Ye, elo juga cengeng malah ngak nyadar dia! " ucap Dila tak mau kalah.
"lo duluan sih." ucap Vani kembali.
"Cengeng ya cengeng aja weekkk. " ucap Dila menjulurkan lidahnya.
"Sialan lo Dil." kesal Vani dan berakhir mereka tertawa bersama.
"Sial sial sial, bandot satu itu bisa bisanya dia ninggalin gue, awas aja kalau ketemu gue, buat jadi adonan lu. " umpat wanita itu kesal, yang tak lain suzan teman satu kelas Khairul.
Suzan kesal, karena ditinggal Andi saat ia lagi piket kelas, padahal Andi juga piket tapi pria itu meninggalkan tugasnya.
"Lihat aja besok kalau lo datang, hehehe siap siap mendapatkan kejutan dari gue hehee, salah sendiri siapa suruh ninggalin. " umpat Suzan dengan niat jahatnya yang sudah terancang di otaknya.
Tidak tau bakalan seperti apa nasib Andi jika dia melihat kejutan itu,Andi yang lagi makan dikantin bersama rudi dan khairul, merasa merinding.
"Ada apa ndi? " tanya Rudi melihat tingkah aneh Andi.
__ADS_1
"Gak tau gue, tiba tiba aja gue merinding." ucap Andi.
"Kebanyakan nonton horor sih lo, jadi ya gitu." umpat Rudi, yang tau jika sahabat satunya itu suka sekali nonton horor(horor yang dimaksud bukan film hantu tapi 18+)