
Dila menatap, wajah basahnya yang habis ia cuci karena habis menangis, ia mengingat kembali satu tahun lalu saat Arsakha telah menyelesaikan studinya, Dimana ia mengungkapkan perasaannya pada Arsakha,namun Arsakha tidak meresponnya.
FLASHBACK......
Arsakha dan Arsyad hari ini telah menyelesaikan studinya yang jangka waktu satu tahun itu,Arsakha dan Arsyad begitu terlihat tampan dengan seragam wisudanya.
Dan mereka mengabdikan momen wisuda mereka dengan kedua orang tuanya juga bersama Akhmar dan vina serta khairul.
"Satu.... dua... tiga... creek. " ucap seorang fotografer mengambil gambar mereka.
Disaat Selesai mengambil foto Dila datang menghampiri Arsakha di temani sahabatnya vani.
"Arsa." panggil Dila malu-malu, Namun saat ia melihat kedua orang tua Arsakha dan Arsyad tidak lupa ia menyapa dengan sopan.
"Assalamu'alaikum, om tante." ucap Dila canggung karena baru menyadari jika masih ada keluarga Arsakha.
"Waalaikumsalam,"ucap mereka semua menjawab salam dari Dila dengan senyum ramah.
" kalau gitu, Arsa Amy tinggal ya, mungkin teman kamu ada yang mau disampaikannya."ucap Ziya tersenyum menggoda sang putra.
"Amy," ucap Arsakha dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Udah gak usah pasang wajah datar kamu, sudah seperti Abi kamu aja." keluh Ziya.
"Loh, kenapa Abi di bawa bawa Amy? " tanya Akmal gemas dengan istrinya yang selalu menyamakan sikap anaknya dengan dia, ya meski ia akui putranya yang satu itu hampir sama semua sifatnya melekat pada diri Arsakha sangat berbeda dengan kedua kembarannya.
Jika Arsakha duplikat Akmal maka Arsyad duplikat Ziya yang manjanya dan kadang emosian, Kalau Aiyra dia duplikat sisi lemah Ziya.
"Sudah, ayo kita ke mobil duluan! " ucap Ziya menggandeng tangan Akmal dan Arsyad meninggalkan Arsakha dan Dila di lapangan dengan Dila ditemani Vani.
"Ada apa? " tanya Arsakha dengan wajah datarnya membuat Dila mengangkat bibirnya.
"Dasar kaku." umpat Dila.
"Apa kamu bilang? " ucap Arsakha yang mendengar umpatan Dila.
"Hem." ucap Arsakha lalu ingin pergi meninggalkan Dila yang masih berdiri mematung.
"Eh tunggu dulu." Ucap Dila dan tanpa sengaja menarik tangan Arsakha, Arsakha menatap pergelangan tangannya yang digenggam Dila dan kemudian melihat Dila membuat mata mereka saling bertemu.
"Ah maaf," ucap Dila kemudian melepaskan tangannya.
"Hem, ada apa? " tanya Arsakha masih dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Aku... a.... aku suka sama kamu." ucap Dila sambil menunduk, tapi saat ia mengatakan perasaannya ia dapat melihat jika Arsakha telah pergi meninggalkannya tanpa satu kata pun.
Itu membuat Dila terdiam dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya, Dila berjongkok dan memeluk erat lututnya dan menangis, vani hanya dapat memeluk sahabatnya itu membiarkannya mencurahkan semua kekesalannya.
"Kenapa.... hiks... apa aku salah jatuh cinta padanya," ucap Dila menangis dalam pelukan sahabatnya.
"Kamu tidak salah kok." ucap Vani menghibur Dila.
"Lalu, jika dia tidak menyukaiku setidaknya hargai aku, hiks... hiks... dia pergi begitu saja tanpa menerima mau pun menolak." ucap Dila.
"Setidaknya penolakan dia lebih baik, dari pada dia pergi begitu saja tanpa satu patah kata pun, itu sangat menyakitkan, itu seolah ia menginginkanku dan juga tidak menginginkan." ucap Dila dengan tangisan meluapkan semua isi hatinya hanya itu yang dapat ia lakukan.
BACK AGAIN....
Dila kembali mencuci wajahnya dan menatap cermin, seolah ia berkata bahwa ia baik baik saja.
Setelah membersihkan wajah Dila kembali ke ruangannya, Namun belum sempat ia mendudukkan bokongnya, dering telepon di mejanya membuat ia menghempaskan nafasnya.
"Assalamu'alaikum, selamat siang." ucap Dila
"Waalaikumsalam, tolong antarkan saya berkasnya." ucap si penelpon yang tak lain Arsakha.
__ADS_1
"Baik Pak sidiq. " ucap Dila. dengan ramah seolah mereka tidak saling kenal, Dila berprilaku layaknya sebagai bawahan.