Istriku Seorang Putri Dewa

Istriku Seorang Putri Dewa
11. Tidak Berharap


__ADS_3

Kelahiran putri kedua raja Jonas dan putri Manolia sama seperti kelahiran sang pangeran yang tidak sesuai dengan kelahiran bayi biasa pada umumnya. Sekitar enam bulan, ratu Manolia sudah melahirkan putrinya yang sehat dan sangat cantik.


Kebahagiaan mewarnai seluruh Istana itu ketika putri kerajaan itu lahir. Namun sayang, raja Jonas sepertinya terlihat sangat kecewa karena jauh di dalam hatinya, raja Jonas berharap ia akan dikaruniai seorang pangeran, bukan seorang putri yang harus meneruskan kedudukannya sebagai ratu di istananya itu.


"Sayang...! Lihatlah, dia sangat cantik bukan? Nama apa yang ingin kamu berikan kepada putri kita?" Tanya ratu Manolia pada suaminya yang terlihat bersikap datar padanya.


"Terserah padamu saja! Kamu selalu memberi yang terbaik, cukup kamu yang berikan nama padanya." Ucap raja Jonas masih terdengar hangat walaupun hatinya sangat sakit.


"Baiklah. Aku akan menamakannya, dengan nama putri Titania." Ucap ratu Manolia sambil mengecup pipi putrinya.


"Kamu tidak ingin menggendongnya, sayang?" Tanya ratu Manolia yang tidak mengerti kalau suaminya tidak begitu peduli dengan kelahiran bayi mereka.


"Aku lelah. Aku ingin istirahat. Apakah aku boleh tidur sekarang?" Sahut Raja Jonas yang sudah merebahkan tubuhnya.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Iya! Aku baik-baik saja."


"Tapi, aku merasa kamu tidak begitu bahagia dengan kehadiran putri kita. Apakah kamu menginginkan aku melahirkan seorang pangeran untukmu?" Tanya ratu Manolia.


"Aku hanya merindukan putraku pertamaku. Jika dia masih hidup, pasti saat ini dia sudah besar dan berlatih pedang denganku." Ujar raja Jonas.


Putri Manolia menarik nafas dalam. Ia tidak bisa menjawab apapun karena dia akan menerima hukumannya dari sang ayah dewa Yulius, jika dijelaskan tanpa ditanya oleh suaminya.


"Apakah kamu masih penasaran dengan misteri kematian putra kita?"


Raja membalikkan tubuhnya memunggungi istrinya yang sedang menyusui putri mereka." Tidak perlu. Aku tidak butuh penjelasanmu." Ucap raja Jonas terdengar ketus.


"Baiklah. Aku tidak akan mengusik mu lagi. Tapi, jika kamu tidak peduli dengan putri kita, aku akan membawanya pergi. Kamu tahu itu artinya apa, bukan?" Ancam ratu Manolia membuat raja Jonas merasa sesak.

__ADS_1


"Apakah dia akan membunuh putriku juga seperti dia membunuh putraku?" Batin Raja Jonas tidak tenang dengan perkataan istrinya.


Sementara itu ratu Manolia merasakan kalau saat ini suaminya mengabaikan lagi dirinya karena ia tidak melahirkan seorang bayi laki-laki." Cih..! Apakah kamu kira aku yang bisa menentukan jenis kelamin bayiku sesuai keinginanmu, itu?" Umpat ratu Manolia lalu memejamkan matanya.


Dari hari ke hari, putri Titania tumbuh dengan cepat. Usianya yang baru enam bulan seperti usia bayi yang sudah satu tahun karena putri Isabella sudah bisa berjalan. Tentu saja semua itu peran dari peri yang menjaga putri dari ratu Manolia itu.


"Kenapa kamu membiarkan putriku bisa langsung bisa berjalan?" Protes ratu Manolia pada perinya.


"Ingat tuan putri, kalau putrimu Isabella memiliki darah keturunan Dewa." Ucap peri.


"Istana ini akan heboh jika kamu melakukan sesuatu diluar nalar mereka." Imbuh ratu Manolia.


"Jika terlihat oleh manusia, putri Isabella tetap terlihat seperti bayi manusia pada umumnya."


"Kau...!" Geram ratu Manolia menghadapi keisengan perinya pada putrinya.


"Itu hanya ada di alam dewa, bukan di bumi ini." Pukas ratu Manolia lalu mengambil putrinya dari gendongan peri.


"Kenapa dia tidak pulang saja ke alamnya? Kenapa dia terus saja membayangi kehidupanku." Umpat ratu Manolia pada perinya.


...----------------...


Berjalannya waktu, saat putri Titania berusia lima belas tahun, ratu Manolia tidak bisa mengandung lagi. Wajah ratu Manolia yang tetap terlihat usia yang sama seperti gadis berusia dua puluh tahun, membuat jadi tanda tanya besar penghuni istana, khususnya para bangsawan.


Putri bangsawan yang lain begitu penasaran dengan kecantikan ratu Manolia. Mereka pun menanyakan rahasia kecantikan istrinya Raja Jonas ini." Yang mulia...! Maafkan kalau aku lancang. Krim apa yang digunakan ratu untuk merawat kulit wajah ratu agar terlihat tetap awet muda?" Tanya putra Lucia.


"Meminum air keabadian." Jawab ratu Manolia membuat putri Lucia dan lainnya mengerutkan dahi mereka.


"Apakah ada air seperti itu di dunia ini, ratu?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak ada. Aku hanya bercanda pada kalian." Sahut ratu Manolia mengulum senyumnya.


"Ratu ...! Kami serius ingin tahu rahasia kecantikanmu. Usia ratu seakan masih seperti usia kami saat ini. Ibu-ibu kami menyuruh kami untuk menanyakan langsung kepada yang mulia. Kiranya yang mulia bersedia menjawab rasa penasaran kami pada kecantikannya yang mulia." Timpal putri Laura.


"Tidak ada yang aku rahasiakan tentang kecantikan ku. Jika kecantikan aku masih terlihat awet muda, itu karena cinta suamiku yang selalu utuh untukku hingga hatiku selalu bahagia setiap saat." Ucap ratu Manolia.


Ratu Manolia pamit untuk kembali ke kamarnya. Ia sedikit malas meladeni pertanyaan dari para putri bangsawan. Putrinya Titania tidak terlepas dari pantauan para pangeran. Usia putri Titania yang sudah lima belas tahun menjadi incaran mereka untuk mendapatkan putri Titania.


Ternyata benar yang dikatakan ratu Manolia, kecantikan putrinya tidak mewarisi kecantikan yang dimilikinya karena darah murni yang dimiliki ratu Manolia yang merupakan putri dari seorang Dewa.


Walaupun ratu Manolia masih terlihat cantik di usianya yang sudah tiga puluh lima tahun, namun raja Jonas tidak lagi tertarik dengan istrinya hanya karena ratu Manolia tidak bisa mengandung lagi. Perdebatan akhirnya terjadi diantara keduanya.


"Apakah kamu benar-benar tidak bisa memberikan aku seorang putra Manolia?" Tanya raja Jonas saat mereka menyelesaikan ritual percintaan panas mereka.


"Maafkan aku, Jonas! Ini diluar dari kemampuanku yang tidak bisa mengandung lagi. Bukankah kita sudah memiliki putri cantik yang sudah berusia remaja? Biarkan dia yang akan mewarisi kerajaanmu." Ucap ratu Manolia namun tidak membuat raja Jonas puas.


"Aku hanya menginginkan seorang pangeran bukan seorang putri." Tegas ratu Jonas berulangkali.


"Mengapa kamu meminta sesuatu yang tidak bisa lagi aku perjuangkan. Jika kamu memang menginginkan seorang pangeran, silahkan kamu menikah dengan putri bangsawan lainnya!" Pinta ratu Manolia yang sudah menyerah pada permintaan suaminya itu setiap saat.


"Aku tidak akan menikah dengan wanita manapun, Manolia! Aku ingin anak darimu bukan mereka. Jika dulu kaku tidak membunuh putraku, mungkin saat ini dia akan dinobatkan menjadi seorang raja." Ucap raja Jonas kalap.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menjelaskan kepadamu bahwa alasan aku membunuh putra kita karena...?" Putri Manolia terlihat cemas. Ia menarik nafasnya dalam agar bisa mengatakan kebenarannya pada sang suami.


Namun sayang, raja Jonas rupanya tidak sabar menunggu penjelasan dari ratu Manolia. Ia akhirnya bertanya juga pada istrinya." Mengapa kamu membunuh putra kita Manolia?"


Pertanyaan itu menjadi akhir dari ikatan pernikahan mereka.


Duarrrr....

__ADS_1


__ADS_2