
Wajah pucat kedua ratu itu menatap perubahan wujud cucu perempuan mereka yang sangat menegangkan. Seorang bayi merah yang awalnya terlihat cantik kini menjadi makhluk berbeda berkaki empat yaitu kucing.
"Apa yang harus kita lakukan pada cucu kita yang sudah berubah wujudnya, Manolia?" tanya Angelica.
"Dewa yang akan mengambilnya dari kita. Ia akan dibawa ke masa depan. Entah ke tahun berapa. Yang jelas ia akan mencari pria yang tulus mencintainya. Biar saja seperti itu. Toh kita akan di utus oleh dewa untuk melindunginya di masa depan," ucap Manolia yang sudah tahu bagaimana ayahnya merencanakan segalanya menurut ingatannya apa yang pernah dipinta ayahnya.
Dalam beberapa menit kemudian, ada kilatan cahaya yang secepat kilat datang mengambil bayi cantik yang sudah berubah menjadi seekor kucing cantik yang akan menempuh perjalanan waktu ke masa depan entah abad ke berapa dari abad mereka saat ini.
Seolah tidak terjadi apa-apa saat proses persalinan yang sudah melahirkan seorang pangeran tampan, kini Manolia dan Angelica tidak memperlihatkan kesedihan mereka sama sekali. Mereka yang sudah di bentuk menjadi wanita dari turunan dewa pasti sudah terlatih untuk tidak larut dalam kesedihan karena bukan menjadi bagian dari wanita bumi.
Sekelebat menghilangkannya bayinya putri Titania, cuaca gelap yang menyelimuti wilayah itu kembali terang dan orang-orang yang tadi buat tidur kecuali kedua bidadari yang sudah ditugaskan untuk menolong persalinan putri Titania kini mulai sadar dengan keadaan yang mereka kira sedang mengalami mimpi karena mereka baru bangun tidur.
__ADS_1
Suara tangisan bayi itu menggema di kamar putri Titania hingga menyusup keluar kamar membuat Raja Sidharta langsung bangkit menghampiri kamar istrinya.
"Ayah, papa sepertinya istriku sudah melahirkan dengan selamat. Aku ingin melihat bayi dan Istriku," ucap raja Sidartha.
"Selamat nak! Kamu telah resmi menjadi seorang ayah dan kami berdua adalah seorang kakek," ucap raja Jonas pada menantu dan besannya yang saling mengucapkan selamat dengan saling berpelukan.
"Terimakasih ayah, papa. Aku masuk dulu," ucap raja Siddharta.
"Apakah dia seorang pangeran ibu?" tanya raja Sidharta tanpa mengalihkan perhatiannya pada sang bayi.
"Dia seorang pangeran. Dia sangat tampan sepertimu, nak. Selamat sudah menjadi seorang ayah," ucap ratu Manolia pada menantunya.
__ADS_1
Angelica memindahkan cucunya ke tangan Sidartha yang menerimanya dengan suka hati. Mereka membereskan keadaan sekitarnya di dekat Titania seperti kain alas lahiran dan juga peralatan medis lainnya. Setelah beres mereka baru meminta pelayan untuk mengangkutnya keluar.
"Baiklah Sidartha. Rasanya kami sudah cukup membantu Titania hari ini. Kami mau istirahat. Dan kamu temani istrimu. Jika dia sudah bangun beri dia makanan yang sudah disiapkan pelayan lalu berikan bayimu padanya untuk disusui istrimu," ucap Angelica pada putranya.
"Baik Bu. Terimakasih untuk kerja keras kalian yang sudah membantu istriku melahirkan. Sidharta sangat sayang pada kalian berdua," ucap raja Sidharta.
Keduanya meninggalkan kamarnya Titania untuk menemui suami mereka. Baik Angelica maupun Manolia tidak menyinggung bayi perempuannya Sidarta karena itu menjadi rahasia mereka berdua. Diceritakan hanya akan menambah luka dan kenangan buruk seumur hidup pasangan raja dan ratu kerajaan itu.
Tidak lama kemudian, putri Titania sudah sadar dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya dan memperhatikan wajah suaminya yang sedang tersenyum padanya penuh kebahagiaan.
"Hai... sayang! Selamat istriku karena sudah berhasil melahirkan pangeran tampan penerus dua kerajaan ini. Selamat juga menjadi seorang ibu," ucap raja Sidartha sambil mengecup bibir istrinya lembut.
__ADS_1