
Akhirnya kata-kata yang berisikan pertanyaan itu diajukan juga oleh raja Jonas pada putri Manolia. Wajah cantik itu langsung berkabut dengan suaranya yang sudah terdengar parau.
"Kau tahu apa konsekuensinya dari pertanyaan mu itu, Jonas?"
Raja Jonas baru tersadar dengan ucapannya barusan." Tidak...! Itu hanya sebuah ancaman bukan? Kamu tidak mungkin meninggalkan aku bukan?"
"Aku harus menjawab pertanyaan mu dulu sebelum aku aku pergi."
"Tidak...tidak perlu menjawabnya, Manolia. Aku tidak ingin mendengarnya. Asalkan kamu tidak pergi meninggalkan aku." Jelas Jonas.
"Sudah terlambat Jonas. Sekarang dengarkan aku baik-baik. Aku terlalu mencintaimu. Itulah sebabnya aku membunuh anak kita karena suatu hari nanti dia yang akan membunuhmu." Ujar ratu Manolia membuat raja Jonas menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak..! Itu tidak benar Mano. Bagaimana kamu bisa tahu kalau putraku tega membunuhku?"
"Dari mimpiku. Dan sekarang tutup matamu! Aku akan memperlihatkan mu tentang kebenaran mimpiku!" Pinta Manolia.
Raja Jonas menuruti permintaan istrinya. Manolia mengusap mata suaminya dan dalam seketika ia melihat bagaimana putranya tega memenggal kepalanya tepat di atas singgasananya. Raja Jonas terhenyak lalu membuka matanya dan melihat istrinya sudah lenyap begitu saja dari hadapannya.
"Manolia....! Manolia...! Manolia...!" Teriak Raja Jonas.
Tidak lama terdengar sesuatu yang jatuh berdering di lantai kamarnya membuat raja Jonas melihat benda apa yang jatuh memutar begitu cepat lalu tergeletak di lantai. Ia memungut benda itu yang merupakan cincinnya yang pernah menjadi mas kawin untuk istrinya.
"Manolia..! Aku yakin kamu masih berada di kamar kita. Jangan pergi begitu saja dariku! Bagaimana caraku menjawab pertanyaan putri kita dengan cara kamu menghilang seperti ini? Maafkan aku, sayang. Aku tidak tahu cintamu yang terlalu besar untukku membuatmu harus membunuh darah daging kita sendiri." Ucap raja Jonas dengan mata berkaca-kaca.
"Rawatlah putri kita! Aku tidak bisa kembali padamu. Carilah jodoh yang baik untuknya. Jangan biarkan putriku bersedih atas kepergian ku." Ucap putri Manolia lalu melepaskan syalnya sebagai kenangan untuk sang suami yang memiliki aroma harum yang sangat di sukai oleh suaminya.
"Manolia....! Tidak, jangan pergi sayang! Manoliaaaaa....!" Pekik raja Jonas saat aroma tubuh istrinya menghilang dari penciumannya.
__ADS_1
Putri Titania dan beberapa pelayan berhamburan keluar menuju kamarnya Raja Jonas." Ayah...! Buka pintunya ayah! Pinta putri Titania.
Para pengawal istana ikut masuk dan berdiri tidak jauh dari pintu kamar Raja Jonas. Mereka tidak berani mendekat karena ada putri Titania. Raja membuka pintu kamarnya." Titania...! Ibumu..!"
"Ada apa dengan bunda, ayah? Ke mana bunda?" Tanya Titania sambil melongok ke dalam kamar orangtuanya dan tidak mendapat ibunya.
"Ibumu telah meninggalkan kita. Dia kembali ke langit." Ucap Raja Jonas membuat Titania merasa ambigu mendengar perkataan ayahnya.
"Ayah bicara apa? Mana mungkin ibu ke langit? Ibu terbang? Mana mungkin ibu bisa terbang." Ucap Titania masih bingung.
Raja melirik para prajurit dan pelayannya tanpa berkata-kata. Mereka langsung mengerti bahwa raja tidak ingin diganggu oleh mereka. Raja mengajak putrinya untuk bicara secara rahasia pada putrinya.
"Ayah ..! Bunda ke mana? Kenapa ayah teriak memanggil nama bunda?"
"Ibumu adalah keturunan Dewa, Titania. Darahmu sudah mewarisi darah ibumu yang merupakan putri dari seorang Dewa." Ucap raja Jonas membuat Putri Titania tercengang.
"Iya sayang. Makanya, bunda bisa menghilang begitu saja tanpa terlihat oleh mata kita." Ucap raja Jonas.
"Ayah...! Ini masih membuat aku bingung ayah. Bagaimana mungkin manusia bisa menikah dengan seorang anak dewa?"
"Karena darah ayah juga mengalir darah seorang ibu dari kalangan dewa. Begitu juga dengan kamu nak. Kita tidak bisa menikahi manusia biasa karena mereka tidak bisa menyatu dengan darah kita." Ucap raja Jonas.
"Apakah bunda tidak akan kembali lagi pada kita ayah?"
"Entahlah nak. Perpisahan ini sangat menyakitkan untuk ayah dan juga untuk dirimu."
"Bagaimana cara aku untuk bisa bertemu dengan bunda kalau aku kangen sama bunda, ayah?"
__ADS_1
"Ayah tidak tahu cara meminta ibumu untuk kembali pada kita." Ucap raja Jonas." Wajahnya terlihat sendu membuat putrinya juga ikut menangis.
"Apa yang harus aku lakukan tanpa dirimu Manolia? Bagaimana aku menghadapi rakyat kita, jika mereka menanyakan tentang keberadaanmu? Jika aku bisa menahan diriku, mungkin aku tidak akan sesedih ini." Batin raja Jonas.
Sementara itu putri Titania kembali ke kamarnya dan memikirkan perkataan ayahnya tentang ibunya yang merupakan putri seorang dewa.
"Putri seorang Dewa? Jika di lihat dari perawakan ibu yang tetap kelihatan muda dan sangat cantik, di usianya yang sudah memasuki setengah abad, tentunya masuk akal juga." Gumam putri Titania yang mulai menghubungkan beberapa keanehan yang ia bisa temukan saat bersama dengan ibunya.
Saat kecil, Ibunya bisa memanggil burung perkutut yang sedang terbang untuk menghampiri mereka. Atau mengusir ular yang seakan sedang bersujud padanya dan dia meminta ular itu untuk kembali ke sarangnya. Dan yang lebih aneh lagi ibunya bisa meminta beberapa buah persik untuk jatuh saat Titania ingin makan buah itu.
"Bunda...! Tolong buah itu untuk Titania!"
"Baiklah sayang. Tunggu sebentar! Bunda akan meminta buah persik itu jatuh di tangan bunda." Ucap ratu Manolia.
"Hai buah persik! Putriku ingin memakan buahmu. Berilah putriku lima buah yang sudah matang!" Pinta ratu Manolia sambil menengadahkan tangannya untuk menangkap buah persik yang jatuh tepat di tangan bundanya.
"Wah ..! Bunda hebat. Titania sayang bunda." Ucap putri Titania sambil jingkrak.
Putri Titania tersenyum mengenang kisah manis itu saat usianya enam tahun. Putri Titania keluar dari kamarnya dan ingin melihat buah persik yang mungkin sebentar lagi akan panen.
"Aku adalah putri dari ibuku Manolia. Apakah aku bisa meminta buah yang matang darimu, wahai buah persik yang baik hati?" Pinta putri Titania sambil merentangkan kedua tangannya agar buah itu jatuh.
Ditunggu beberapa menit buah itu tidak kunjung jatuh membuat Titania beranjak dari kebun buah itu. Baru saja mau melangkah, buah itu sudah jatuh tepat di kepalanya membuat putri Titania menjerit kesakitan.
"Kenapa harus jatuh diatas kepalaku, hah?" Omel Putri Titania membuat seorang pemuda yang di atas pohon itu menahan tawanya.
"Dasar putri manja. Kau selalu menggunakan segala cara untuk mendapatkan tujuanmu." Gumam pemuda itu dari atas pohon.
__ADS_1
Sementara itu, raja Jonas masih berada di dalam kamarnya memikirkan istrinya yang telah meninggalkan dirinya begitu saja." Manolia...! Kembalilah sayang. Aku sangat merindukanmu." lirih raja Jonas sambil menangis.