
Melihat kucingnya tidak berdaya lagi, membuat Maxi membawa pulang kucingnya itu yang ia selimuti dengan jas hitam miliknya. Ia sangat menyesal telah meninggalkan Paris bersama Asistennya yang sangat ceroboh. Maxi terlihat sangat terpukul mendapati kesayangannya yang hanya menarik nafas berat.
Setibanya di kamar hotel, Maxi menciumi wajah kucingnya hingga air matanya menetes di wajah Maxi. Air mata penuh cinta yang begitu tulus dirasakan Paris saat ini seperti tetesan kehidupan baru untuknya. Nafasnya yang tadi tersendat berubah mulai lancar walaupun Maxi tidak menyadari perubahan itu.
"Paris. Apakah kamu tega meninggalkan aku sayang? apa yang bisa aku lakukan untukmu Paris? aku sangat mencintaimu. Aku mohon kembalilah untukku Paris! tolong kembali untukku. Aku bisa menukarkan apapun yang aku miliki asalkan aku bisa memilikimu dan hidup bersamamu," ucap Maxi masih dengan air matanya yang mengalir deras tak terbendung.
Paris membuka matanya menatap wajah tampan Maxi yang menangisi dirinya. Melihat Paris membuka matanya hanya sedikit membuat Maxi begitu kaget.
"Apakah kamu ingin minum sayang?" tanya Maxi yang bergegas mengambil air untuk Paris.
Saat Maxi membalikkan tubuhnya, kedua orang wanita yang sangat Cantik rupawan mengelilingi tubuh Paris. Mereka tidak lain adalah putri Manolia dan putri Angelica. Mereka membawa ramuan untuk Paris dari dewa untuk ditaburkan di luka Paris.
Maxi yang melihat dua bidadari di depannya sedang mengobati Paris membuat ia hanya bisa tercengang.
"Astaga! mereka siapa? mengapa mereka sangat cantik dan kecantikannya dua kali lipat kecantikan Paris. Apakah mereka adalah putri dewa?" batin Maxi yang menatap kagum sosok wajah cantik kedua Bidadari di hadapannya.
Tidak lama terlihat cahaya putih memenuhi ruang kamar itu membuat mata Maxi sangat silau bahkan sangat sakit hingga ia segera melindungi matanya dengan lengannya. Jantung Maxi berdebar kencang karena sangat takut saat ini. Dia takut jika Paris akan dibawa pergi oleh kedua bidadari dihadapannya saat ini.
__ADS_1
"Tolong jangan bawa dia! Jangan bawa pergi Paris dariku. Aku mohon jangan bawa pergi Paris darikuuu...!" pekik Maxi sambil menangis.
Dalam sekejap cahaya terang benderang tadi tidak lagi terlihat silau dari pandangan Maxi. Maxi membuka matanya secara perlahan lalu melihat ke arah tempat tidur di mana seorang gadis telah tertidur dengan pulas. Tubuh Maxi bergetar hebat saking gembiranya karena saat ini Paris berubah tidak lagi di malam hari tapi di siang hari.
Maxi merasa ini hanyalah bagian mimpinya saja. Ia juga takut apakah sedang mengalami delusi saat ini. Maxi menyentuh tubuh Paris dengan lembut dan itu adalah nyata baginya. Maxi memagut bibir Paris dengan lembut. Merasa nafasnya agak sedikit tersendat, Paris mengerjapkan matanya dan melihat Maxi yang sedang menciumnya.
"Maxi...!" gumam Paris berusaha mendorong wajah Maxi menjauhi wajahnya.
"Sayang. Apakah kamu sudah...-"
"Iya Maxi. Kutukan ku sudah hilang sayang. Aku sudah terbebas dari kutukan ku. Kini aku sudah menjadi manusia seutuhnya," ucap Paris penuh haru.
"Karena air mata cintamu penuh ketulusan yang jatuh ke pipiku. Kamu tulus mencintaiku, sayang," ucap Maxi.
"Apa ..? hanya sesederhana kamu bisa berubah dengan wujud manusia?" tanya Maxi tidak mengerti dan sulit dipercaya.
"Iya sayang. Hanya sesederhana itu namun mampu mengubah kutukan itu," ujar Paris.
__ADS_1
"Astaga. Tahu gitu, kenapa tidak dari dulu saja aku menangis untukmu saat bertemu denganmu," ujar Maxi.
"Kalau cuma menangis dibuat-buat mana bisa aku berubah Maxi," ujar Paris.
"Emang tunggu kamu harus celaka dulu baru aku menangis. Tidak Paris! sumpah demi apapun, aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu sendirian. Lagi pula apa yang membuatmu nekat menganggu orang lain makan di restoran itu, Paris?" tanya Maxi.
"Itu karena aku melihat seorang gadis kecil yang sedang makan es krim yang pernah kamu belikan untukku waktu itu. Aku sangat menginginkannya," ucap Paris.
"Astaga. Hanya karena es krim kamu sampai ditusuk sama wanita gila itu dan aku hampir kehilanganmu," gerutu Maxi.
"Justru aku bersyukur wanita itu menusukku dengan begitu aku hampir mati dan kamu bisa menangisi aku penuh ketulusan hati. Air matamu lah yang telah membebaskan aku, Maxi. Harusnya kamu berterimakasih kepada wanita itu karena ulahnya membawa berkah untuk kita," ucap Paris dengan gamblang.
"Tidak akan pernah, Paris. Aku tidak akan pernah memaafkan wanita gila itu karena hampir membuat jantungku berhenti berdetak karena hampir kehilanganmu," ujar Maxi.
"Kau ini pendendam sekali. Oh iya aku ingin kita jalan-jalan dan makan es krim, mau ya Maxi?" bujuk Paris yang masih penasaran dengan es krim.
"Iya sayang. Tunggu sebentar, aku ambilkan baju untukmu dulu ya," ucap Maxi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Paris sudah berpakaian rapi dan terlihat sangat elegan dengan dress selutut hingga memperlihatkan kakinya yang jenjang nan mulus. Maxi mengambil mantel lalu membalut tubuh seksi Paris. Sepatu high heels warna hitam yang dipakainya membuat Paris bak seorang model. Kini keduanya keluar dari kamar itu menuju restoran. Maxi ingin merayakan keberhasilannya yang telah membebaskan Paris dari kutukan untuk selamanya.