
Hampir enam bulan Maxi menjalin kasih dengan Paris. Walaupun kucing itu belum juga berubah wujud, namun tidak membuat Maxi menyerah. Ia tidak tahu cinta tulus seperti apa yang ia bisa berikan agar bisa mendapatkan Paris menjadi seorang gadis yang selalu ada dalam mimpinya.
Sebagai pria normal, ia juga sangat membutuhkan yang namanya percintaan panas untuk memuaskan birahinya. Hanya saja ia tidak ingin melakukannya dengan wanita lain selain dengan Paris, namun Paris menolak melakukan hal itu karena ia ingin dinikahi terlebih dahulu oleh Maxi, baru ia mau melakukannya. Jadilah saat ini Maxi meradang sendirian karena syahwatnya tidak bisa tersalurkan dengan semestinya.
Saat ini, Maxi berada di perusahaannya. Ia sedang memimpin meeting pagi itu sementara Paris duduk di sebelahnya bahkan berani duduk dalam pangkuannya. Tak jarang Maxi meletakkan Paris di atas meja panjang itu dan membuat staff dan pemegang saham menjadi salah fokus saat kucing itu mengeluarkan aura kecantikannya.
"Kucing itu sangat cantik ya. Dari mana tuan Maxi mendapatkannya?" tanya salah satu staf pada rekannya yang duduk disebelahnya.
"Sampai saat ini, asal usul kucing itu belum di ketahui oleh siapapun kecuali tuan Maxi sendiri," ucap Naomi pada Yulia.
"Aku ingin menggendongnya nanti setelah rapat selesai," ucap Yulia namun perkataannya terdengar oleh Paris membuat Paris menatapnya tidak suka.
"Apakah sampai di sini ada pertanyaan?" tanya Maxi pada anggota rapat.
"Tidak ada tuan Max," ujar mereka satu persatu.
"Kalau begitu rapat ini saya tutup. Silakan kembali ke tempat kalian. Terimakasih dan selamat siang," ucap Maxi lalu menutup laptop miliknya.
Neil membereskan laptop milik bosnya. Sementara Maxi menggendong Paris membawanya ke luar ruang meeting.
"Tuan Maxi. Apakah aku boleh menggendong kucingmu?" pinta Naomi.
"Jangan pernah menyentuh milikku! Dan jangan coba mengakrabkan dirimu melalui kucingku. Apakah kamu paham?" sarkas Maxi yang memang tidak suka dengan staffnya yang selalu mencari perhatiannya.
__ADS_1
Naomi terlihat kesal dengan sikap Maxi yang selalu curiga padanya." Cih...! Siapa juga yang mau mencari empati kamu. Melihatmu saja aku begitu muak, cowok sok keren," umpat Naomi yang memang cukup tahu diri menghadapi sikap Maxi yang tidak begitu memperhatikan karyawannya.
"Tuan. Apakah anda ingin makan siang di restoran?" tanya Neil begitu mereka sudah berada di dalam ruang kerjanya Maxi.
"Pesan seperti biasa untuk dua porsi. Aku ingin makan di ruang kerjaku," ucap Maxi.
"Baik Tuan. Silahkan pilih menu yang anda inginkan!" Neil menyerahkan ponselnya agar Maxi memilih sendiri menunya.
Tentu saja Maxi selalu memesan ikan untuk Paris yang sangat doyan dengan ikan. Sementara untuk dirinya sendiri ia lebih memilih daging. Neil segera memesan menu kesukaan bosnya itu di restoran langganan bosnya.
Dalam setengah jam, makan siang itu sudah dihidangkan Neil di piring. Seperti biasa Paris ikut makan di piring diatas meja. Neil sangat kagum dengan bosnya yang memperlakukan kucing itu layaknya manusia. Sejak ada Paris bosnya tidak ingin makan di luar karena kucingnya makan sesuai dengan kebutuhan manusia makan. Dari pada jadi pertanyaan, lebih ia makan di ruang kerjanya dan di rumahnya.
"Paris. Apakah aku bisa melihat wujud aslimu sebentar saja tanpa aku harus tidur terlebih dahulu? aku bosan hanya puas bertemu kamu melalui mimpi saja," ucap Maxi dengan wajah sendu.
"Meong..!" Ujar Paris seakan ingin mengatakan dia bisa namun tidak bisa lama.
Kucing itu meminta Maxi untuk membuka pintu kamar pribadi Maxi yang tersambung dengan ruang kerjanya. Maxi begitu semangat dan menuruti permintaan Paris sudah menunggu di depan pintu kamarnya.
"Kamu mau berubah wujud di kamarku? baiklah. Masuklah sayang. Aku akan menunggumu disini," ucap Maxi dengan suara bergetar hebat karena tubuhnya tidak kuat menahan luapan gembira.
Kucing itu dengan senang hati melakukannya walaupun ia tahu entah berapa lama ia akan berubah wujudnya sebagai manusia. Yang jelas ia ingin memenuhi permintaan Maxi yang ingin melihat rupa aslinya.
Maxi menunggu dengan gelisah di luar sana. Ia harus berjalan bolak-balik sambil mengigit satu jarinya dan kadang kala menggosok telapak tangannya yang mendadak sangat dingin. Sekitar sepuluh menit kemudian, mata Maxi terbeliak kala ia melihat kenop pintu kamarnya itu sedang diputar seseorang dari dalam.
__ADS_1
Ia tidak bisa membayangkan pertemuannya dengan Paris yang akan berlangsung sesaat lagi. Maxi berhenti di depan pintu kamarnya menanti penuh sabar hingga jantungnya siap untuk berhenti. Pintu itu mulai sedikit memperlihatkan celanya. Jika ia mau, sedari tadi ia ingin mendobrak pintu kamar itu namun yang ia hadapi saat ini adalah gadis purba yang berasal dari beberapa abad yang lalu karena sebuah kutukan.
Pintu dibuka dengan sempurna. Wajah Maxi mendadak pucat melihat sosok wanitanya yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya kini tampil sempurna di hadapannya ketika ia dalam keadaan sadar.
"Maxi...!" sapa Paris, namun Maxi hanya menatapnya tanpa berkedip karena kecantikan Paris sungguh begitu sempurna bahkan tidak bisa disandingkan dengan wanita bumi.
"Apakah kamu tidak mau memelukku, Maxi?" tanya Paris sedikit geram yang melihat Maxi hanya terpaku seperti patung menatapnya.
"I...iya sayang," ucap Maxi lalu merentangkan kedua tangannya memeluk Paris dan mengecup bibir gadis itu lalu memeluknya lagi. Itu yang dilakukan Maxi berulang kali tanpa bosan.
"Sayang. Apakah sudah cukup?" tanya Paris.
"Belum sayang. Tolong jangan berubah dulu!" pinta Maxi lalu meraup dagu Paris mendekatkan ke bibirnya.
Keduanya saling berciuman mesra dari menuntun dan berganti menuntut. Ciuman itu makin panas hingga tubuh Maxi makin bergairah. Namun sebisa mungkin ia harus bisa mengendalikan dirinya karena Paris membutuhkan cinta tulus darinya. Mungkin cinta tulus yang diharapkan Paris adalah cinta tulus tanpa ada hawa na*fsu di dalamnya.
"Ah... Paris! Bibirmu terasa sangat manis dan aku sangat suka ini," batin Maxi masih terus membiarkan lidahnya bergerak liar didalam rongga mulut wanitanya untuk saling menautkan lidah mereka bahkan keduanya saling bertukar saliva dan mengisap lidah.
Siang itu Maxi hanya menikmati ciuman hangat dan mereka sambil berpelukan mesra. Keduanya berhenti berciuman setelah nafas mereka tidak bisa lagi untuk meneruskan ciuman itu.
"Paris. Kamu sangat cantik sayang. Tolong jangan pernah berubah lagi! tetap seperti ini, sayang! Aku sangat mencintaimu dan aku akan segera menikahimu," ucap Maxi terburu-buru karena begitu takut Paris berubah wujud.
Tidak lama terdengar pintu ruang kerja terbuka sementara Maxi masih menggendong tubuh Paris yang berkoala kepadanya hingga memperlihatkan sebagian paha mulusnya.
__ADS_1
"Tuan....!" Mata Neil terbelalak melihat pemandangan di depannya begitu memukau.
"Hahh... siapa gadis itu?" tanya Neil lirih.