
Berjalannya waktu hampir dua tahun di saat putri Titania berusia tujuh belas tahun, raja Jonas harus berperan menjadi seorang single parent untuk putrinya Titania. Raja menatap wajah putrinya yang saat ini sedang merayakan ulang ulang tahun dengan mengadakan pesta megah dan harus mengundang para pangeran dari berbagai kerajaan.
Kecantikan putri Titania menjadi tenar di kalangan kaum Adam itu. Diantara mereka ada yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan perhatian dari putri Titania. Wajah putri Titania yang masih terlihat murung karena ketidakhadiran ibunda tercinta.
"Sayang...! Tersenyumlah! Apakah kamu tidak ingin menyenangkan ayah di hari ulang tahunmu ini?"
"Ayah...! Aku inginkan bunda hadir di sini ayah. Cukup satu menit saja ia muncul sebagai hadiah ulang tahunku." Ucap Putri Titania sendu.
"Titania...! Mengapa meminta sesuatu yang tidak bisa ayah lakukan untukmu, hmm?" Raja Jonas memegang kedua bahu putrinya sambil menahan tangisnya.
"Bukankah bunda sangat mencintai ayah? Tidak bisakah dia datang melihat kita sekali saja selama dua tahun ini? bukankah dia seorang putri dewa? Titania hanya minta bunda muncul di hadapanku, bukan memintanya tinggal ayah." Suara Titania terdengar parau.
Angin tiba-tiba berhembus menyeruak masuk melalui jendela kamar putrinya. Tidak lama bau harum aroma tubuh sang istri menyeruak masuk ke dalam kamar itu. Raja Jonas merasakan kehadiran istrinya.
Air matanya tercekat dengan kerinduan yang membuncah sungguh tak mampu lagi terbantahkan. Sumpah demi apapun ia sangat merindukan segalanya tentang istrinya.
Putri Titania merasa kalah dengan. parfum yang dikenakannya. Iapun belum tahu kehadiran bundanya ditengah mereka." Ayah....! Kenapa parfum Titania aromanya berubah seperti ini? rasanya Titania tidak punya parfum selembut dan menenangkan seperti ini." Ucap putri Titania sambil mengendus gaunnya sendiri.
"Sayang....! Itu bukan aroma parfum mu tapi aroma parfum ibumu." Jelas raja Jonas membuat Putri Titania berbinar.
"Maksud ayah saat ini bunda datang merayakan ulang tahunku?" Desis Titania dengan senyum merekah.
"Hmm!"
"Bunda...! apakah kamu ada di sini? Kenapa tidak menunjukkan wujud mu?"
"Aku ingin melihatmu, bunda. Sekali saja. Semenit juga tidak apa yang penting bisa melihat bunda." Serak putri Titania membuat ayahnya ikut sedih.
"Manolia ku mohon kabulkan permintaan putri kita di hari ulang tahunnya. Dia tidak bersalah. Tolong jangan menghukum putriku atas kesalahanku." Imbuh raja Jonas.
__ADS_1
"Bunda...! Apakah kakekku sedang menghukum mu untuk tidak menemui kami terutama aku, bunda?" Tanya putri Titania.
Ratu Manolia tidak mampu lagi menahan dirinya untuk meluapkan kerinduannya pada kedua orang yang sangat ia cintai itu." Tidak apa aku akan menerima hukuman dari ayahku. Yang penting aku ingin membahagiakan putriku." Lirih putri Manolia.
"Bunda...! Ku mohon muncullah sesaat saja!" Pinta putri Titania berulang kali dengan terus mendesak ibunya.
Akhirnya putri Manolia berhasil muncul di depan suami dan putrinya. Penampakan itu terlihat mulai dengan bayangan yang transparan seperti bentukan air bening lalu lambat laun mulai terisi penuh dan padat hingga terlihat wujud asli putri Manolia.
"Bunda....!" Pekik putri Titania menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan ibunya.
Ratu Manolia memeluk putrinya sambil menatap wajah tampan suaminya yang sedang mematung menatapnya juga. Lidah raja Jonas rasanya kelu untuk bicara atau menyebutkan nama istrinya karena dadanya terasa penuh sesak oleh rasa haru.
"Bunda ..! Titania kangen sama bunda....hiks...hiks...hiks.
Titania merenggangkan pelukannya dan menatap wajah cantik Ibunya yang terlihat seusia dirinya." Bunda...! Orang tidak menyangka kalau pria aku adalah putrimu. Mereka mengira kita ini sepeti adik kakak." Ucap putri Titania memuji kecantikan sang ibu yang tak sedikitpun memudar ditelan waktu.
"Terimakasih bunda atas pengorbananmu yang sudah berani hadir di ulangtahun ku." Ujar putri Titania bahagia.
"Apakah sudah cukup sayang? kamu melihat bunda?"
"Tidak akan pernah cukup bunda." lirih putri Titania.
"Tapi bunda tidak bisa berlama-lama memperlihatkan wujud bunda pada kalian." Ucap putri Titania lalu mulai menghilang seperti dia muncul barusan.
"Bunda....bunda...bunda!" Pekik putri Titania yang belum puas bersama dengan ibunya.
Tidak lama kemudian, aroma harum yang tadi memenuhi kamar tidur putri Titania segera menghilang membuat raja Jonas baru tersadar dari lamunannya.
"Ayah...! Kenapa diam saja? Kenapa tidak menahan bunda untuk tidak pergi?" Protes putri Titania.
__ADS_1
"Sayang....! Bunda kamu muncul sesuai dengan apa yang kamu pinta. Sekarang dia menghilang karena kamu hanya mintanya semenit saja." Timpal raja Jonas.
"Berarti permintaan Titania salah ayah? Harusnya aku meminta bunda sehari tidak.. sebulan.. itu terlalu cepat. Bagaimana kalau selamanya, apakah bisa ayah?" Serak putri Titania memeluk ayahnya yang juga ikut menangis.
Keduanya saling berpelukan sambil menangis karena kerinduan mereka yang tidak bisa terbendung lagi saat ini pada putri Manolia yang merupakan cahaya hati mereka.
"Ayah....! Tania masih kangen sama bunda. Tolong panggil bunda lagi ayah. Sepertinya bunda lebih mendengarkan ayah daripada aku." Pinta Titania pilu.
"Jangan terlalu memaksakan bunda mu untuk bertemu dengan kita. Dewa akan menghukumnya jika ketahuan dia datang menemui kita, sayang." Ucap raja Jonas yang cemas akan nasib istrinya di atas langit sana.
Raja Jonas harus memenangkan putrinya hingga gadis itu terlelap. Ia meninggalkan kamar putrinya lalu duduk di taman pribadinya seorang diri. Ratu Manolia menyaksikan suaminya yang sedang melamunkan dirinya mendekati rajanya.
Aroma tubuh istrinya kembali merebak di sekitar tempatnya duduk. Raja Jonas mengetahui kedatangan istrinya karena ia bisa merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Manolia.
"Kamu datang lagi sayang?" Tanya raja Jonas walaupun tidak ada jawaban dari istrinya dengan wujud yang tidak terlihat.
"Apakah kamu sangat merindukan aku?" Tanya raja Jonas lagi seakan ia sedang berhadapan langsung sama wujud Manolia.
Tidak lama sebuah kecupan manis dihadiahkan istrinya pada bibirnya.
"Jangan memancingku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan mu nantinya." Cegah raja Jonas karena tangan Manolia sudah membelai indah bagian dari tubuhnya yang setiap hari merindukan pertemuan dengan tempat hangatnya itu.
Putri Manolia tersenyum dan makin menggoda suaminya dengan memasuki tangannya lebih dalam untuk menggapai benda kenyal yang sudah membengkak di bawah sana.
"Apakah kamu bisa melakukan percintaan panas denganku tanpa terlihat wujud asli mu Manolia?" Serak raja Jonas yang sudah tidak kuat lagi saat merasakan miliknya di manja oleh istrinya namun ia tidak bisa merasakan tubuh istrinya.
"Lepaskan Manolia...! Ini sangat menyiksaku. Aku tidak mau...!" Tolak raja Jonas berusaha menghindar dari istrinya.
"Aku sangat merindukanmu Jonas? Tetaplah di sini bersamaku, aku akan membawamu ke atas langit sana melihat bintang-bintang." Ujar putri Manolia membuat raja Jonas sangat berharap kalau ucapan itu terwujud nyata bukan suatu bayangan semu.
__ADS_1