Istriku Seorang Putri Dewa

Istriku Seorang Putri Dewa
17. Janji Jiwa


__ADS_3

Putri Titania tidak langsung membuka pintu kamarnya. Ia meminta pangeran Siddharta untuk bersembunyi agar tidak ketahuan ayahnya.


"Apakah kamu bisa bersembunyi lagi di atas pohon itu, prince?"


"Tapi aku belum puas berbincang denganmu." Tolak prince Sidharta.


"Kita bisa melanjutkan lagi setelah urusan aku dan ayahku selesai."


"Benarkah? Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggunya."


"Aku akan memanggilmu setelah ayahku meninggalkan kamarku." Ucap putri Titania.


"Ok Baby! Aku sangat menunggumu." Ucap prince Sidharta sambil mengecup bibir putri Titania sekilas membuat gadis ini merona.


Putri Titania segera membuka pintu kamarnya lalu menemui ayahnya." Kenapa kamu lama sekali membuka pintunya, sayang?" Tanya raja Jonas.


"Maaf ayah, aku tadi sakit perut jadi tidak bisa menjawab ayah karena berada di kamar mandi." Ujar Putri Titania bohong.


"Putriku..!"


"Iya ayah..!"


"Ayah memohon padamu agar mau menerima permintaan ayah yang satu ini!"


"Permintaan apa ayah?"


"Untuk menikah dengan pangeran Neva."


"Bukankah aku sudah menolaknya ayah? Aku menginginkan putranya yang lain."


"Ayah juga sudah menolaknya, sayang. Tapi, kalau kamu tidak menerimanya, kasihan ibu dari pangeran Sidharta akan dibuang oleh istana dan menghapuskan statusnya menjadi seorang selir raja."


"Pasti ibunya pangeran Sidharta tidak keberatan akan hal itu ayah, demi kebahagiaan putranya. Putri Angelica akan kembali ke istana khayangan nya seperti yang bunda lakukan pada kita." Ucap putri Titania sendu.


"Tapi raja tidak ingin kehilangan selirnya. Ia sangat mencintai selirnya."

__ADS_1


"Jadi ayah mau mengorbankan perasaan aku demi menyenangkan perasaan hati raja Minerva, sahabat ayah itu?" Sungut putri Titania menahan amarahnya yang sudah mengubun.


"Bukan itu alasan sebenarnya sayang. Jika kamu tahu kalau istana ini akan diserang oleh beberapa kerajaan yang bekerjasama dengan musuh besar ayah, kamu akan mengerti maksud ayah." Batin raja Jonas begitu sulit untuk menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya pada putrinya Titania yang saat ini sedang dibakar asmara.


"Baiklah. Ayah lebih memikirkan kebahagiaanmu. Jika kamu memang menginginkan pangeran Siddharta, ayah akan mempertahankan cinta kalian dengan segenap jiwa raga ayah." Ucap raja Jonas sambil menahan kepedihan hatinya.


"Terimakasih ayah. Aku tidak tahu jika tanpa dukungan ayah, Titania lebih baik mati kalau tidak dinikahkan dengan pangeran cintaku. Aku sangat mencintainya ayah." Ungkap Titania begitu jujur pada ayahnya.


Keduanya saling berpelukan satu sama lain. Hati putri Titania berbunga-bunga, namun tidak pada raja Jonas yang lebih memikirkan keselamatan putrinya jika dia dibunuh siapa yang akan menjaga putrinya. Ia begitu takut pangeran Siddharta tidak begitu mampu melindungi putrinya karena kejamnya politik kerajaan pada pangeran Sidartha dengan putri Angelica, ibu kandungnya.


Raja Jonas mengecup kening putrinya lalu meninggalkan kamar putrinya dengan menahan kesedihannya. Istirahatlah..! Ini sudah larut malam sayang." Ucap Raja Jonas meninggalkan kamar putrinya.


Putri Titania segera mengunci pintu kamarnya dengan rapat lalu memanggil kekasihnya untuk turun dari pohon yang ada di taman samping kamarnya.


"Pangeran....!" Titania menengadahkan wajahnya ke atas pohon. Karena gelap, ia tidak bisa melihat sosok pria yang dicintainya itu.


"Kamu merindukan aku sayang..?" Tanya pangeran Siddharta yang sudah memeluk putri Titania dari belakang.


Dagunya diletakkan di atas pundak sang putri.


"Aku rela mati demi dirimu, putri Titania." Ucap pangeran Siddharta lalu membalikkan tubuh putri Titania untuk menghadap ke tubuhnya.


"Aku percaya akan hal itu, sayang..!" Ucap putri Titania malu-malu sambil menundukkan wajahnya.


Pangeran Siddharta begitu gemas dengan wajah cantik kekasihnya. Ia meraup kedua pipinya Titania lalu memagut bibir kekasihnya.


Keduanya saling berciuman hingga naik ke tempat tidur putri Titania. Aku menginginkanmu Titania." Pinta Pangeran Siddharta yang sudah membuka gaun kekasihnya.


"Apakah kamu ingin mengambil sesuatu dariku tanpa ingin menikahi aku dulu, pangeran?" Tanya putri Titania yang tidak ingin kesuciannya direnggut begitu saja oleh sang pangeran.


Pangeran Siddharta menghentikan aksinya karena ucapan putri Titania yang tidak mengijinkan dirinya untuk melihat aset berharga kekasihnya itu.


"Maafkan aku Titania! Aku telah terbakar hasratku sendiri. Baiklah. Kalau begitu aku pamit pulang. Lagian ini sudah malam. Kamu pasti sudah lelah. Nanti aku akan menemuimu lagi. Tidurlah sayang...!" Ucap pangeran Siddharta.


"Maukah kamu menemani diriku hingga aku terlelap?"

__ADS_1


"Baiklah. Masuklah dalam pelukanku." Ucap pangeran.


Setelah beberapa menit kemudian, putri Titania akhirnya terlelap dalam pelukan sang kekasih. Pangeran Siddharta mengecup bibir dan pipi kekasihnya." Aku akan mengambil hakku setelah menjadi suamimu, sayang. Aku sangat mencintaimu putri Titania!"


Pangeran beringsut perlahan lalu melompat dari tembok pembatas istana untuk menemui kudanya yang akan mengembalikan dirinya ke istana kerajaannya. Karena pangeran Siddharta seorang keturunan dewa, ia sangat di jaga oleh perinya.


Sepanjang perjalanan, pangeran Siddharta menunggang kudanya ditengah kegelapan malam melewati hutan rimba untuk mencapai istana kerajaannya. Ia tidak mengetahui jika dirinya selalu dilindungi oleh peri atas permintaan ibunya. Pelariannya ini tidak bisa terlihat oleh siapapun. Sementara pengawalnya yang sedang menyamar jadi dirinya di kamar pribadinya terlihat gelisah karena sudah pukul dua pagi, pangeran belum juga muncul. Sementara selir raja yang merupakan ibu kandungnya sudah mengetahui ke mana putranya pergi namun belum juga muncul.


"Ke mana putraku? Apakah dia akan menginap di istana putri Titania?" Selir terlihat gugup.


Tok... tok...


Wajah selir Angelica makin pias saat mendengar ketukan pintu paviliunnya yang merupakan suaminya sendiri. Saat ini Raja Minerva sedang menemui selirnya yang tidak pernah membuatnya bosan untuk bercinta dengan selirnya itu.


Selir membuka pintu untuk suaminya sambil tersenyum. Selir Angelica terkenal sangat cantik walaupun tidak secantik putri Manolia ataupun putri Titania. Tapi kelembutannya dan juga wajahnya yang tetap awet muda di usia paruh bayanya.


"Suamiku, masuklah! Apakah kamu merindukanku, sayang?"


"Tentu saja aku sangat merindukanmu, sayang!" Raja Minerva tidak ingin berbasa-basi lebih lama dengan selirnya karena sudah terbakar hasratnya.


Selir yang juga merindukan suaminya itu segera melayani suaminya diatas tempat tidur. Keduanya bergumul dan saling mengerang nikmat. Sementara itu ratu Melisa tidak bisa memejamkan matanya karena dirinya tidak diinginkan oleh raja karena usianya yang sudah tua dan wajahnya terlihat keriput.


"Bagaimana caraku untuk menyingkirkan selir sialan itu. Aku bahkan tidak lagi merasakan kehangatan tubuh suamiku." Geram ratu Melisa mengepalkan kedua tangannya.


Sementara pangeran Siddharta yang baru tiba di istananya mengikat kudanya dan segera masuk ke dalam kamarnya." Prince...! Kenapa lama sekali pulangnya?"


"Aku sedang menidurkan calon istriku terlebih dahulu baru aku bisa pulang." Jawab pangeran Siddharta membuat mata pengawalnya membulat.


"Apakah kalian sudah tidur bersama?" Tanya pengawal Levi.


"Ya begitulah."


"Apakah pangeran tidak tahu kalau dia adalah calon istrinya kakak anda?"


"Apaaa.....?" Sentak pangeran Siddharta.

__ADS_1


__ADS_2