
Sudah hampir tiga bulan Paris tidak lagi merindukan suaminya karena terlena dalam kasih sayang kedua orangtuanya. Dimanjakan oleh Abangnya dan juga kedua neneknya. Sementara kedua kakeknya raja Jonas dan Raja Minerva sudah meninggal.
Namun sayang, saat mengetahui jika dirinya mulai merasakan gejala hamil dengan diawali mual dan muntah, neneknya memaksa Paris untuk segera kembali ke masa depan.
Houek ....houek....
Ratu Titania memijit punggung Paris agar gadis ini tidak merasa mual. Setelah isi perutnya sudah terkuras, Paris baru bisa kembali ke kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya yang sangat lemah saat ini. Di saat itu ia baru merasakan kerinduannya pada sang suami. Mungkin kalau ia ada di masa depan Maxi pasti sudah membawanya ke rumah sakit sakit. Di sini ia terjebak dengan keterbatasan medis dan tergantung pada ramuan herbal.
"Sayang. Saat ini kamu sedang hamil. Kamu hamil anak manusia masa depan yang tidak boleh melahirkan di masa lalu karena beda dimensi. Sebaiknya, kamu harus kembali ke masa depan menemui suamimu, Paris!" ucap ratu Manolia.
"Tapi Paris masih kangen sama mami, nenek. Kangen sama kalian semua," ucap Paris sedih.
"Nanti kamu bisa kembali lagi ke sini, sayang kalau kamu sudah melahirkan nanti," ucap ratu Manolia bohong.
Sebenarnya, Paris hanya diberikan kesempatan untuk kembali ke masalalu saat ini hanya berlaku satu kali. Hanya bisa bertemu dengan kedua orangtuanya dan keluarga yang lainnya hanya sekali. Jika saat ini ia masih ingin bertahan hidup di masalalu maka, usianya tidak akan bisa bertahan lama.
"Benarkah nenek, aku bisa kembali lagi ke sini?" tanya Paris dengan wajah berbinar.
"Tentu saja, sayang. Kamu akan kembali lagi," ratu Manolia meyakinkan Paris.
"Baiklah. Sepertinya aku harus cepat kembali agar suamiku bisa mengurusku. Dia lebih perhatian saat aku jatuh sakit. Apapun yang aku inginkan pasti ia akan mengabulkannya. Aku sangat kangen makan es krim dan coklat. Kue coklat, puding coklat dan roti coklat," ucap Paris sambil membayangkan makanan kesukaannya.
"Sekarang, apakah kamu sudah siap kembali lagi ke masa depan?" tanya ratu Manolia.
Paris menatap wajah cantik ibunya lebih lama. Ada rasa beban besar di hatinya yang siap memisahkan jiwa dari raganya.
"Mami. Apakah mami akan merindukan aku saat aku sudah kembali ke masa depan?" tanya Paris dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lebih dari kata rindu sayang. Mami akan mengenang kamu sepanjang waktu," ucap Titania.
"Bukankah aku nanti akan kembali dan menemui mami lagi? jadi simpan rindu mami sebanyak mungkin agar Paris segera kembali dan memeluk mami sangat lama," ucap Paris.
"Hmm!" Titania tidak bisa lagi menjawab karena ia tahu harapan Paris tidak akan pernah terwujud.
"Peluk aku mami. Aku ingin pulang sekarang. Aku sangat mencintaimu, mami. Aku akan kembali secepatnya dan membawakan mami es krim. Mami pasti akan menyukainya. Aku harus menemui suamiku karena dia akan membawa aku ke dokter untuk memeriksa kehamilan aku. Aku sayang mami," ucap Paris mulai terisak.
Titania memeluk putrinya hingga keduanya menangis meraung bersama. Manolia dan Angelica hanya bisa menarik nafas berat. Keduanya mengeluarkan kekuatan mereka saat Paris makin mengeratkan pelukannya pada sang mami. Dalam sekejap, tubuhnya terlempar jauh membawa dirinya kembali ke masa depan melintasi waktu.
"Mamiiiiii.....!" pekik Paris saat ia tidak merasakan lagi pelukan hangat ibunya.
Perpisahan itu sangat menyakitkan keduanya. Putri Titania harus merelakan kepergian putrinya yang baru sebentar saja berada bersama mereka. Raja Sidarta memeluk istrinya yang tidak kuat menahan kesedihannya.
"Jika tahu perpisahan ini sangat menyakitkan, lebih baik tidak usah bertemu sama sekali. Lebih baik aku tahu tentang anak yang pernah aku lahirkan dari rahimku. Ini sangat sakit lebih sakit dari luka yang terlihat darahnya," ucap Titania sambil menangis.
"Doakan saja untuk keselamatannya, sayang. Lagi pula kita akan tahu kabarnya dari bunda Manolia," ucap Sidartha menghibur istrinya.
...----------------...
Maxi terlihat gelisah setiap kali menjelang malam tiba. Kerinduannya pada sang istri tidak bisa lagi untuk membuatnya harus bersabar menunggu dan terus menunggu. Kekayaan yang ia miliki tidak akan bisa membuat mesin yang mampu membawa dirinya untuk menjemput sang istri di masa lalu. Dan saat ini ia hanya bisa menangis karena tidak kuat lagi menahan kerinduannya, hingga ia tidur.
Saat Maxi terlelap, Paris tiba-tiba muncul di hadapannya tepat di atas tempat tidur yang sama dengan suaminya. Paris menatap disekitarnya dan ternyata dia ada di dalam kamar Maxi.
"Apakah ini kamarnya Maxi?" batin Paris lalu melihat ke sebelah kanannya dan ternyata Maxi saat ini sedang tidur terlelap namun ada sisa air matanya yang masih menetes terus menerus dari kelopak matanya.
"Ya ampun! apakah suamiku saat ini sedang merindukan aku hingga ia menangis? cik...! dia sangat manis sekali jika benar dia merindukan aku," ucap Paris terlihat happy.
Paris mengecup bibir Maxi membuat Maxi mengerjapkan matanya. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke belakang merasa tak percaya kalau istrinya sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Apakah aku mimpi lagi?" tanya Maxi sambil mengucek matanya.
Paris tersenyum mendengar ucapan Maxi dan ia ingin menggoda suami dengan membenamkan bibirnya ke bibir Maxi. Ia memagut lembut bibir Maxi hingga Maxi merasa ini benar-benar istrinya. Ia mengakhiri ciuman mereka.
"Apakah kamu merasa ini mimpi, sayang?" goda Paris mengecup lagi bibirnya Maxi.
"Ini benar istriku, Paris? Apakah kamu benar-benar kembali untuk aku sayang?" tanya Maxi.
"Apakah kamu tidak menginginkan aku?" tanya Paris.
"Tentu saja tidak sayang. Aku hampir mati karena terlalu merindukanmu," ucap Maxi.
Maxi memeluk lagi Paris dan keduanya kembali terlibat ciuman mesra. Paris ingat apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Iapun memberitahukan kehamilannya kepada Maxi.
"Maxi. Saat ini aku sedang hamil. Aku sedang mual dan sangat lapar karena habis muntah. Apakah aku boleh ke rumah sakit sekarang?" manja Paris.
"Apa ..? Jadi aku akan jadi ayah?" tanya Maxi yang merasa ngantuknya sudah hilang.
"Max. Aku ingin makan es krim," pinta Paris.
"Kamu mau makan es krim atau ke rumah sakit, sayang?"
"Es krim dan rumah sakit. Aku merasa mual lagi, Maxi," rengek Paris manja.
"Iya sayang. Ayo kita beli es krim trus ke rumah sakit!" ajak Maxi.
Dalam beberapa menit kemudian, Maxi dan Paris sudah berada di dalam mobil dan keduanya mampir di resto siap saji yang ada es krimnya. Setelah itu baru ke rumah sakit.
.....
__ADS_1
TAMAT