
Entah sudah ke berapa kali, keduanya bercinta dan melakukan pelepasan, namun raja Jonas masih begitu semangat mengaduk pinggulnya pada sang istri. Keduanya mengerang nikmat sambil menatap wajah mereka penuh kerinduan.
"Jangan pergi terlalu lama Manolia! Bukankah kamu juga menginginkan diriku?" Jelas raja Jonas dengan suara terdengar parau.
"Aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, Jonas. Aku harus pergi sayang." Ujar Manolia yang menuntaskan hasratnya lebih cepat.
"Tidak....! Tidak akan aku biarkan kamu meninggalkan aku lagi Mano. Tetaplah di sini sayang. Ini sangat nikmat. Lihatlah diriku. Tidakkah kamu kasihan padaku? Apa yang bisa aku lakukan tanpa dirimu Manolia?" Tanya raja Jonas yang tidak sedikitpun berkedip menatap wajah wanitanya.
"Hukuman ku akan lebih berat jika aku turun ke bumi terlalu lama. Peri penjaga ku sedang mengawasi ku dan dua juga menolongku untuk menemuimu. Jika ketahuan oleh ayah, maka aku tidak akan pernah muncul lagi melihatmu setiap saat dengan menebarkan aroma tubuhku hanya untuk mengingatkan dirimu, kalau aku juga merindukanmu." Imbuh Manolia.
"Perpisahan ini terlalu sakit Manolia. Waktu tidak akan pernah terulang untuk bisa ku perbaiki apa yang telah aku lakukan padamu." Ucap raja Jonas sendu.
"Aku selalu memperingatkan mu tentang pertanyaan yang menyinggung atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Rasa penasaran mu mengalahkan ketakutan mu yang akan membuat mu kehilangan ku." Timpal Manolia.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu kembali Manolia? Jika kamu kembali lagi ke bumi ini, mungkin aku sudah tidak ada di sisimu Manolia." Ucap raja Jonas makin pilu.
Keduanya saling berpelukan tanpa melepaskan milik mereka di sana." Tunggulah aku, Jonas! Aku tidak tahu apakah kita akan bersama lagi seperti dulu atau tidak. Yang jelas ia akan berusaha untuk menyelesaikan sisa hukuman ku agar bisa menemui dirimu." Ucap Manolia.
Raja memeluk erat tubuh polos istrinya seakan begitu takut ratu Manolia kabur lagi dari dirinya." Ayah...! ayah ...! ayah...! Apakah aku boleh masuk ayah?" Suara merdu dari putrinya Titania yang ingin menemui ayahnya.
Raja Jonas mengerjapkan matanya dan melihat keadaannya yang sedang memeluk bantal membuat dirinya tersentak." Manolia...! Manolia....! Manolia...! Tidak..tidak...! Kamu baru saja bercinta dengan ku. Mengapa tiba-tiba menghilang? Aku tidak sedang bermimpi bukan?" Raja Jonas berusaha merasakan kehadiran istrinya di kamarnya itu namun aroma harum tubuh Manolia sedikitpun tidak tercium olehnya membuat raja Jonas merasakan sakitnya kehilangan Manolia.
Sementara putrinya Titania sedari tadi mengetuk pintu kamar ayahnya karena ingin bicara dengan ayahnya. Raja Jonas beringsut turun dari tempat tidurnya menghampiri putrinya.
Ia pun membuka pintu kamarnya dan mendapati putrinya sedang menatap dirinya dengan tatapan rumit.
__ADS_1
"Ayah kenapa berkeringat seperti itu? Apakah ayah sedang sakit?" Tanya Titania sambil memegang kening ayahnya dalam keadaan suhu tubuh normal.
"Ayah tidak apa sayang. Apakah kamu ingin bicara sesuatu pada ayah?"
"Titania mau minta ijin untuk keluar dari istana ayah. Titania ingin lebih dekat dengan rakyat kita," Pinta Titania.
"Tapi, tidak semua rakyat menyukaimu, nak. Mungkin saja mereka akan berbuat jahat kepadamu."
"Titania keluar istana bukan sebagai putri kerajaan ini ayah. Tapi, Titania ingin menyamar sebagai rakyat biasa bagian dari mereka." Ucap Titania.
"Mengapa kamu selalu mengikuti cara ibumu mendekati rakyat kita yang kadang bersifat bar-bar?"
"Itu hanya bagian dari keadaan yang normal ayah. Suka tidak suka itu biasa. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk menyukai kita karena cara pandang mereka pada kita beragam." Imbuh Titania.
Hari ini, Titania ingin memastikan sendiri keadaan rakyatnya bukan hanya duduk dengar laporan para prajurit istana yang terdengar baik-baik saja.
"Pergilah sayang! Ayah mengijinkan kamu keluar istana. Jaga dirimu baik-baik dan lakukan kebaikan yang kamu anggap baik, tapi jika ada kejahatan yang menimpa dirimu, tolong jangan cari masalah dengan mereka dan jauhi dirimu dari MARA bahaya. Ayah hanya punya kamu. Setelah ibumu, ayah tidak ingin merasakan apa itu kehilangan." Nasehat raja Jonas.
"Jangan kuatirkan tentang diriku ayah. Cukuplah berdoa untuk putrimu ini. Jika ada yang ingin berniat jahat padaku, mungkin dia adalah seorang pencuri hatiku." Goda Titania pada ayahnya.
"Apakah kamu ingin menikah Manolia?"
"Iya ayah. Yang jelas dia tidak boleh berasal dari kalangan dewa karena dia akan meninggalkan aku suatu saat nanti jika aku membuat kesalahan seperti yang ayah lakukan pada bunda yang membuat bunda harus pergi meninggalkan kita." Ucap putri Titania membuat hati raja Jonas terasa hancur.
"Maafkan ayah sayang! Jika saja ayah bisa mengendalikan diri ayah dan lebih mendengarkan perkataan bunda mu, mungkin kita tidak akan pernah kehilangan dirinya. Ayah terlalu meremehkan peringatan ibumu, kalau ayah tidak bermain-main dengan sebuah sumpah."
__ADS_1
"Apakah ayah yakin kalau suatu saat nanti bunda akan kembali untuk kita?"
"Entahlah, sayang. Ayah sangat berharap itu akan terjadi sebelum kamu menikah atau ayah akan pergi dari dunia ini sebelum kedatangannya kembali ke bumi." Raja Jonas berkaca-kaca sambil mengusap lehernya.
"Ayah..! Jika ayah sangat takut kehilanganku, kenapa ayah tidak memikirkan perasaanku juga, ayah? Apakah ayah mengira Titania cukup kuat untuk menghadapi kehilangan kalian berdua. Aku juga sangat merindukan bunda, tapi aku berusaha menahan diriku agar ayah tidak merasa sedih melihat ku sedih."
"Apakah kamu menahan kepedihan mu demi ayah?"
"Iya ayah."
"Semoga ayah bisa menemanimu hingga ayah bisa melihat cucu ayah nantinya." Ujar raja Jonas.
Keduanya berpelukan sambil menangis bersama. Ayah dan anak itu menatap ke atas langit sambil berharap Manolia mendengarkan jerit hati mereka.
Tidak lama kemudian, putri Titania melakukan tugas pertamanya menyamar sebagai rakyat jelata untuk melihat keadaan rakyatnya di luar istana. Rupanya Titania tetap di awasi oleh peri ibunya yang selama ini menjaga Ibunya.
"Awasi putriku agar tidak dilukai oleh orang-orang jahat di luar sana!" Titah ratu Manolia.
"Baik Tuan putri! Apakah tuan putri ingin menemuinya?"
"Tidak untuk saat ini. Biarlah dia dengan kemampuannya. Aku ingin melihat jiwa kepimpinan putriku sebagai ratu kerajaan yang akan di warisi oleh suamiku raja Jonas." Ucap putri Manolia penuh rasa bangga.
"Jonas...! Bukan hanya seorang pangeran saja yang bisa mengubah dunia dengan kepemimpinannya tapi seorang putri juga akan mengubah dunia dengan cinta dan kedermawanannya." Lirih ratu Manolia yang sangat merindukan suaminya saat ini.
"
__ADS_1