
Maxi baru bisa bernafas lega saat melihat kobaran api yang tadinya menjulang tinggi kini sudah padam bahkan tidak terasa hawa panas di sekitar gudang itu seperti yang tadi mereka rasakan seakan memanggang kulit mereka.
Wartawan yang ikut bersyukur atas keadaan itu, segara mendekati tuan Maxi yang masih mengumpulkan kembali kekuatannya setelah degup jantungnya yang berdetak kencang kembali normal.
"Tuan. Keadaan bagian dalam gudang malah tidak ada masalah. Hanya plafon dan atap gudang saja yang sudah terbuka lebar karena dilalap si jago merah," ucap asisten Neil sambil memperlihatkan tangkapan layar video Tron yang mengitari gudang melalui ponselnya.
"Apakah produk kita aman tanpa ada yang terbakar?" tanya Maxi sambil mendelikkan matanya lebih tajam mengikuti kamera drone mengitari sekitar dalam gudang.
"Sejauh yang kami pantau tidak ditemukan produk yang rusak," jawab Maxi.
"Permisi Tuan Maxi! Apa tanggapan anda mengenai kebakaran yang timbul di gudang penyimpanan hasil produksi milik anda?" tanya wartawan.
"Semua harus melalui proses penyelidikan dan saya juga ingin mengetahui penyebab kebakaran itu. Tunggu saja hasil tim investigasi dari pihak kepolisian yang akan menyisir tempat ini besok," ujar Maxi.
"Apakah ada kecurigaan anda yang mungkin mengarah pada pesaing bisnis anda mungkin?" tanya wartawan lainnya.
"Saya tidak mau berspekulasi dengan peristiwa ini. Apa lagi menuduh kelompok tertentu. Selama ini saya tidak punya musuh. Jika ada yang tidak suka dengan saya, biar waktu yang akan membuktikannya," ucap Maxi bijak.
"Tuan... apakah ada dugaan kesengajaan yang dilakukan oleh karyawan anda?" tanya wartawan itu lagi.
"Maaf. Saya tidak ingin banyak berkomentar karena ini belum jelas. Tolong hormati proses penyelidikan kami. Ini masih dini hari. Permisi saya butuh istirahat," pinta Maxi masih santun.
Maxi berjalan cepat menuju mobilnya. Ia membuka pintu mobil itu hendak masuk namun niatnya terhenti karena baru menyadari sesuatu yang terasa ada yang hilang.
"Astaga. Di mana Paris?" tanya Maxi sambil mencari kucing kesayangannya itu dari setiap jok yang ada dalam mobilnya.
"Paris.... Paris.... Paris!" teriak Maxi panik.
__ADS_1
"Meong....!" Paris bersembunyi di bawah mobil Maxi.
"Astaga. Kenapa kamu bisa ada di bawah sana. Sini sayang...!" Panggil Maxi yang ikut mendongakkan kepalanya ke bawah kolong mobil melihat Paris bersembunyi.
Paris keluar saat Maxi memanggilnya dengan kata sayang. Maxi menggendong tubuh kucing dan mencium bau gosong pada bulu Paris.
"Kenapa kebakaran di gudang sana malah kamu yang bau gosong? apakah kamu tadi masuk ke gudang terbakar, hah..?" tanya Maxi ketakutan melihat keadaan Paris.
"Ada apa bos?" tanya Neil yang melihat bosnya belum juga pulang.
"Tubuh Paris bau gosong," ucap Maxi.
Neil mendekati hidungnya mengendus-endus tubuh Paris dan ternyata benar adanya. Tubuh kucing itu seperti bau gosong.
"Apakah dia tidak apa jika aku membawanya pulang?" tanya Maxi cemas.
"Yah. Bawa kami ke sana! Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadanya," ucap Maxi.
"Baik Tuan." Neil terpaksa membawa mobilnya Maxi karena harus mengantarkan kucing itu ke klinik hewan. Setibanya di sana, Paris tidak ingin jauh dengan Maxi membuat pria tampan ini harus merayunya.
"Sayang. Biarkan dokter memeriksa keadaanmu dulu, ya. Semoga tidak ada apa-apa denganmu," ucap Maxi.
Paris menuruti permintaan Maxi. Dokter mulai melakukan tugasnya memeriksa keadaan Paris.
"Keadaannya tidak apa. Cukup mandikan dia dengan sampo khusus yang aromanya segar. Setelah itu bulunya akan terasa harum," ucap dokter Andrean.
"Baik dokter. Terimakasih. Kami ijin pulang," ucap Maxi.
__ADS_1
"Sebentar tuan Maxi. Kucing anda sangat cantik sekali. Sepertinya dia tidak berasal dari kucing blasteran manapun dan aku baru melihat jenis spesies seperti ini. Apakah anda membelinya? atau menemukannya?" tanya dokter Andrean.
"Aku membawanya dari Paris. Sepupuku yang memberikan kucing ini padaku saat masih bayi. Itulah sebabnya aku menamakannya Paris," ucap Maxi terpaksa bohong.
"Kenapa tidak mencari pasangan untuknya? dengan begitu Paris mempunyai anak yang akan mewariskan rupa sepertinya," ucap dokter Andrean memberi saran.
Paris yang mendengar ucapan dokter hewan itu langsung mengerang galak. Rasa tidak sukanya atas ide gila dokter hingga ia melompat dari tubuh Maxi menyerang wajah dokter hewan itu.
"Paris... Paris.. Hentikan sayang! Tidak. Kamu tidak akan aku kawinkan dengan siapapun. Jangan dengarkan perkataan dokter itu. Aku tidak akan mengijinkan kamu kawin dengan kucing lain," ucap Maxi langsung keluar dari klinik itu.
Paris mencium wajah Maxi. Ia begitu senang janji Maxi padanya." Kamu hanya akan menikah denganku. Apakah kamu mau sayang?" tanya Maxi hanya untuk menghibur Paris.
"Maxi. Semoga aku cepat kembali seperti sedia kala. Aku ingin menjadi manusia lagi Maxi. Usiaku sudah cukup untuk menikah karena aku sudah berusia 18 tahun," ucap Paris dalam hatinya.
Setibanya di rumah, Maxi melirik waktu menunjukkan pukul empat pagi. Paris. Apakah kamu mau tidur lagi? Oh iya... Aku sempat mimpiin kamu Paris sebelum kejadian kebakaran gudang. Di mimpi itu aku melihat kamu berubah menjadi seorang putri yang sangat cantik. Dan kamu meminta tolong kepadaku agar aku melakukan sesuatu padamu. Tapi kamu belum sempat ucapkan apa yang harus aku lakukan untukmu. Apakah di mimpi aku itu benar?" tanya Maxi.
Paris hanya bisa mengeong. Ia ingin sekali menjawab pertanyaan Maxi. Tapi keadaannya seperti ini mana bisa ia jawab kecuali menunggu Maxi tidur.
"Paris. Jika di mimpi itu adalah benar, tolong kamu jawab dengan cara mencium pipiku. Kamu mengerti?" tanya Maxi.
"Iya Maxi itu adalah benar," ujar Paris lalu mencium pipi Maxi agak lama..
Wajah Maxi berbinar. Ia ingin mewujudkan keinginan Paris agar kembali menjadi seorang gadis. Tapi, ia belum paham dengan permintaan bantuan dari Paris.
"Paris. Bagaimana cara aku berkomunikasi denganmu? apakah aku harus tidur dulu baru bisa bicara denganmu melalui mimpi?" tanya Maxi.
Lagi-lagi Paris mencium pipinya seorang memberi tanda bahwa apa yang diucapkan Maxi adalah benar.
__ADS_1
"Baiklah sayang. Sampai bertemu dalam mimpi. Aku juga sangat merindukanmu. Sekarang aku juga ngantuk," ucap Maxi sambil memejamkan matanya karena ia sangat lelah pagi ini.