
Sesuai janji yang dibuat oleh Maxi pada Paris yang ingin mengunjungi kedua orangtuanya, akhirnya disanggupi oleh istrinya. Walaupun keraguan menyergap dirinya, yang mungkin tidak bisa kembali ke masa depan, namun Maxi tidak ingin membuat Paris kecewa.
"Benarkan sayang jika kamu ingin mengunjungi kedua orangtuaku?" tanya Paris.
"Ok. Tapi kamu jamin jika kita bisa kembali lagi ke masa depan? aku begitu takut jika mereka akan menertawakan aku dengan pakaian seperti ini," ujar Maxi.
"Bukan menertawakan kamu malah mengagumi ketampanan kamu dengan pakaian keren seperti ini. Nah, sekarang apakah kamu sudah siap sayang?" tanya Paris ketika mereka sudah berada di sebuah taman indah yang ada di kota Denpasar Bali.
"Hmm!"
"Sekarang tutup matamu. Perjalanan ini hanya berlangsung sekejap," ucap Maxi.
Maxi menutup matanya dengan hati berdebar. Wajah nampak ketakutan karena akan melintasi hal yang menurutnya tidak masuk akal. Namun demi cintanya pada Paris, pria tampan ini melakukan demi cintanya pada wanita yang sangat ia sayangi dan dia tidak mau mengambil resiko jika akan kehilangan kekasih hatinya.
"Jangan membuka matamu sampai aku yang memintanya Maxi!" bujuk Paris.
"Cepatlah Paris! kapan kita akan berangkatnya?" gerutu Maxi karena ketakutannya membuat tubuhnya menggigil.
Paris menatap wajah suaminya sambil tersenyum. Ia lalu menutup mata Maxi dengan tapak tangannya dan keduanya langsung menghilang dalam lingkaran sinar untuk melewati lintasan waktu. Dalam sekejap, mereka sudah berada di masa lalu.
Masa di mana saudara kembar Paris yang bernama pangeran Arturo, kini sudah seusianya. Banyak perubahan yang terjadi di istana itu mengikuti zaman.
Kini keduanya sudah berada di dalam taman istana di mana Paris melihat seorang wanita yang sangat mirip dengannya sedang merajut syal.
"Maxi. Bukalah matamu, sayang! kita sudah tiba di masa lalu," ujar Paris..
Maxi membuka matanya sambil mengintip sedikit demi sedikit untuk memastikan apakah perkataan istrinya adalah sebuah kebenaran. Maxi melebarkan matanya ketika melihat sekitarnya ternyata adalah sebuah kerajaan. Di mana istana itu berdiri kokoh dengan bentuk unik namun penuh dengan nuansa seni.
"Paris. Apakah ini kampung halamanmu? kamu tidak datang ke abad yang salahkan?" tanya Maxi sedikit mengeratkan genggamannya pada tangan Paris.
"Aku tidak salah Maxi. Karena aku sedang melihat ibuku saat ini. Lihatlah di sana! dia sedang duduk merajut syal," ucap Paris.
Maxi melihat ke arah yang ditunjukkan Paris padanya. Dan benar saja Maxi melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan wajahnya sangat mirip dengan Paris.
__ADS_1
"Apakah dia ibumu?" tanya Maxi sambil menatap Paris yang fokus melihat ibunya.
"Iya Maxi. Aku sangat merindukannya walaupun aku belum pernah melihatnya selama ini," ucap Paris.
"Kalau begitu, ayo kita sapa dia! Dia juga ibu mertua aku bukan? tapi, bagaimana kalau kita ketangkap?" tanya Maxi.
"Semoga tidak Maxi. Walaupun iya, tapi masih ada kedua nenekku yang akan membela kita. Kamu masih ingat dengan nenek Manolia dan nenek Angelica?" tanya Paris.
"Tentu saja. Kedua nenekmu yang tidak pernah kelihatan tua," ucap Maxi.
Paris tersenyum mendengar pernyataan Maxi. Mereka akhirnya memutuskan untuk menemui ratu Titania. Sekitar jarak keduanya 100 meter, Paris memanggil ibunya.
"Mamii..!"
Ratu Titania mengangkat wajahnya saat mendengar ada yang memanggilnya. Wajah cantik ratu Titania berubah syok saat melihat wajah Paris. Antara percaya dan tidak dirinya saat ini namun, ia harus mempercayainya karena wanita yang dihadapannya sangat mirip dengannya.
"Siapa kamu?" tanya ratu Titania.
Namun sayang kerahasiaan kelahirannya yang saat itu sudah berubah wujud karena kutukan sang dewa membuat kehadirannya di rahasiakan oleh kedua neneknya saat itu agar ibunya tidak syok.
"Kenapa kamu diam? aku bertanya kepadamu, nona," tegas ratu Titania makin membuat dada Paris terasa sangat sesak saat ini.
"Aku adalah putrimu, mami! bukankah wajah kita sangat mirip? mengapa mami harus menanyakan aku?" ucap Paris memberanikan dirinya agar ibunya mengakui keberadaannya kini.
"Tidak mungkin! aku tidak pernah melahirkan seorang putri karena aku hanya memiliki seorang anak laki-laki. Kenapa kamu bisa-bisanya mengakui aku adalah ibumu," jerit ratu Titania membuat suami dan putranya masuk ke ruangan itu untuk melihat keadaan ratu Titania.
"Ada apa mami?" tanya pangeran Hermione.
"Ada apa Istriku?" tanya Raja Sidarta.
"Lihatlah gadis dan pria dengan pakaian aneh ini! dia muncul tiba-tiba dengan mengakui aku sebagai ibunya," ucap ratu Titania menceritakan tentang Paris pada suami dan putranya.
Raja Sidharta mengamati wajah Paris yang sangat mirip dengan istrinya. Hati kecilnya berkata kalau Paris adalah putrinya. Namun bagaimana cara mengakuinya kalau mereka sendiri mengetahui Titania hanya melahirkan seorang pangeran dan setelah itu Titania tidak bisa hamil lagi.
__ADS_1
"Nak. Siapa namamu dan darimana asalmu?" tanya raja Sidharta.
"Aku ...-"
"Dia adalah putri kandung kalian, Titania, Sidarta," ucap ratu Manolia membuat Titania dan Sidarta tersentak.
"Bagaimana bisa dia adalah putri kami, bunda? bukankah...-"
"Paris adalah saudara kembar pangeran Hermione. Dia lahir sepuluh menit setelah kakaknya pangeran Hermione. Gadis malang ini harus menderita karena keangkuhan ayahku yang mengutuknya menjadi seekor kucing sesaat setelah dia lahir dan mengirimnya ke masa depan," ucap ratu Manolia.
Baik putri Titania maupun suaminya sangat syok mendengarkan pengakuan ratu Manolia. Tidak lama datang putri Angelica yang membernarkan perkataan besannya.
"Apa yang dikatakan bundamu, benar sayang. Karena kami adalah saksinya. Putrimu di kirik ke masa depan dengan wujud seekor kucing. Ia harus mencari seorang pria yang mencintainya dengan tulus agar kutukannya hilang dan kembali lagi seperti manusia seutuhnya dan pria yang tulus mencintainya itu adalah suaminya yang saat ini bersamanya. Maxi. perkenalkan dirimu pada kedua mertuamu!" titah putri Angelica.
Putri Titania menangis lalu memeluk Paris penuh kasih sayang.
"Maafkan mami sayang! mami tidak mengenali darah daging mama sendiri," ucap ratu Titania sambil mencium kedua pipi putrinya.
Raja Sidharta memeluk menantunya Maxi yang ikut hanyut dalam adegan haru itu. Ia juga penasaran dengan kehidupan masa depan yang dijalani putrinya saat bersama Maxi.
"Apakah di masa depan memiliki kehidupan yang berbeda dengan apa yang kamu lihat disekitar kami?" tanya raja Sidharta.
Maxi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kehidupan masa depan yang terekam di ponselnya di mana ada gedung-gedung megah pencakar langit . Ada juga mobil dengan berbagai bentuk. Ada pesawat, kereta dan benda yang terlihat sangat canggih dan itu membuat raja Sidharta terpana.
"Ini sangat hebat, Maxi. Kehidupan di Masa depan terlihat sangat teratur dan tidak ada lagi kereta kencana dan kuda sebagai alat transportasi. Apakah aku boleh meminta benda aneh ini? tanya raja Sidharta.
"Boleh ayah. Hanya saja tidak bisa bertahan lama karena alat ini butuh energi untuk menyalakannya seperti listrik. Ayah tidak akan mengerti karena itu adalah hal yang tidak bisa di bangun di sini kecuali secara manual dan itu sangat sulit," ucap Maxi nggak mau ambil pusing.
"Tidak masalah Maxi. Setidaknya berikan ini sebagai hadiahmu untukku karena kamu telah menikahi putriku," ucap Maxi.
"Baiklah ayah. Terserah padamu saja. Aku bisa membelinya lagi saat aku kembali ke masa depan," ujar Maxi.
Raja Sidharta terlihat senang memiliki benda yang bernama ponsel itu. Kini ia hanya terus menikmati rekaman masa depan yang membuatnya terpesona.
__ADS_1