
Kehamilan sang putri yang tidak disukai raja Jonas membuat Putri Manolia berang dengan suaminya. Keduanya setiap saat bersitegang hanya karena raja Jonas tidak ingin melihat putrinya menderita. Ia lebih baik mati daripada harus melihat putri kesayangannya itu akan menjadi cemoohan keluarga istana dan bahkan rakyat mereka akan mencelanya.
"Apa yang ingin kamu pertahankan dengan kehamilan putri kita? kamu ingin menjadikan dirinya ditertawakan oleh orang banyak? apakah kamu ingin putriku dicela dan dihina sedemikian rupa oleh rakyatnya sendiri?" sentak raja Jonas.
"Aku tahu resiko itu Jonas. Tapi kita bisa mengatasi kelahiran cucu kita nanti dengan cara kita sendiri," ucap ratu Manolia.
"Dengan cara apa? apakah kamu ingin membunuh bayi binatang itu? bagus. Aku setuju denganmu. Bunuh saja binatang itu dengan begitu kita selamat dari aib yang memalukan itu," ujar Raja Jonas menyeringai licik.
"Istirahatlah Jonas. Percayalah kepadaku. Aku akan mengatasi permasalahan kehamilan putri kita. Biarkan ia menikmati masa kehamilannya terlebih dahulu. Hingga saatnya tiba, kita akan memberinya pengertian saat bayi itu lahir. Aku sendiri yang akan membantu putriku melahirkan nantinya," ucap ratu Manolia menenangkan suaminya.
"Baiklah. Aku percaya kepadamu. Sekarang aku bisa tidur dengan tenang," ucap raja Jonas lalu mencium bibir istrinya sebentar sebelum memejamkan matanya.
__ADS_1
Tubuhnya memang tidak begitu lelah, namun batin dan pikirannya saja yang sudah menguras otak dan jantungnya yang terus memaksanya untuk berpikir mendapatkan solusi terbaik dari permasalahan putri kesayangannya Titania..
Sementara itu di istana kerajaan raja Sidartha, luapan kegembiraan rakyatnya masih terasa sampai saat ini. Pasalnya kehamilan putri Titania membawa keberkahan bagi mereka. Di mana perekonomian mereka makin meningkat dari semua sektor.
Dari hasil pertanian dan peternakan mereka melimpah. Rasa syukur mereka atas keberhasilan mereka, membuat mereka membawakan hasil mereka ke istana sebagai upeti walaupun tidak ada ketentuan untuk itu yang dipinta istana kecuali pajak yang mereka bayar untuk setiap tahunnya.
"Yang mulia. Rakyatmu terlalu bergembira saat ini atas kehamilan ratu Titania hingga mereka membawakan sedikit hasil panen mereka untuk anda yang mulia," ucap panglima Levi.
"Baik yang mulia."
"Apakah kita harus membalas kebaikan mereka suamiku?" tanya ratu Titania saat mengetahui kebaikan rakyatnya untuk menyambut kedatangan calon bayinya.
__ADS_1
"Tidak usah yang istriku karena itu akan membuat mereka tersinggung," ucap raja Sidartha..
"Baiklah. Kalau begitu apakah aku boleh mengunjungi kedua orangtuaku? aku sangat merindukan mereka saat ini. Sejak mengetahui kehamilanku, kedua orangtuaku belum pernah mengunjungi kita sama sekali, apakah ada masalah dengan mereka? apakah mereka sehat-sehat saja suamiku?" tanya putri Titania cemas.
"Setahu saya, ayah dan bundamu baik-baik saja. Mungkin saat ini mereka sedang menikmati kebersamaan mereka hingga mereka melupakan putri mereka yang cantik ini. Apakah mereka pikir kalau cukup suaminya saja yang akan mengurusnya karena kamu sudah menjadi milikku saat ini sayang," canda raja Sidarta namun tidak membuat wajah cantik Titania terlihat bahagia apalagi hanya sekedar menarik kedua sudut bibirnya.
"Kalau begitu, apakah mereka tidak ingin menyambut kehadiran cucu mereka disaat kehamilanku sudah mencapai tujuh bulan ini?" tanya putri Titania sedih.
"Jangan bersedih sayang! setiap orangtua akan bahagia jika putra putri mereka melahirkan keturunan mereka," ucap raja Sidharta.
"Yang mulia...! Raja Jonas dan ratu Manolia sebentar lagi akan tiba ke istana ini," teriak panglima Levi membuat putri Titania sumringah.
__ADS_1
Degggg...