
Paris terlihat sangat cantik dengan dress simpel namun terlihat mewah ditubuhnya. Wajah para pengunjung restoran langsung beralih menatap wajah cantik Paris bak bidadari padahal gadis itu mengenakan make-up apapun.
Bibirnya tampak merah dengan mata jeli di hiasi bulu mata tebal hitam dan lentik seperti gadis yang mengenakan bulu mata palsu. Belum lagi iris tebal dengan kulit wajah terlihat sangat mulus bak porselin mewah yang tak pernah tersentuh.
Bukan hanya mata para pria yang memukau mengagumi kecantikan Paris, namun kaum hawa memandang iri dengan kecantikan Paris. Walaupun begitu Paris tetap menampilkan sisi keanggunannya yang memiliki darah seorang putri raja. Hanya saja peradaban zaman yang tidak mendidiknya untuk bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi saat ini menjadikan dirinya terlihat kampungan, namun Maxi cukup sabar mengajari Paris agar gadis ini cepat paham.
"Paris. Makanlah makanan ini. Ini adalah kesukaan mu dan ada menu baru di restoran ini yang baru saja direkomendasikan oleh pelayannya. Semoga kamu suka," ucap Maxi.
Paris menatap hidangan didepannya sambil meneguk liurnya sendiri. Ia menatap Maxi yang memegang sendok dan garpu dan mulai menyuapi setiap makanan yang ada dihadapannya.
"Oh begitu caranya? sepertinya aku bisa," ucap Paris mulai memakan makanannya secara perlahan agar sendok tidak menyentuh piring itu hingga tidak menciptakan dentingan nyaring yang akan menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.
Maxi tersenyum melihat Paris yang cepat belajar mengikuti gaya hidupnya. Paris memperhatikan setiap wanita yang berdandan secantik mungkin dengan pakaian seksi menarik minatnya untuk memiliki baju yang sama seperti gadis yang berada di seberang meja mereka.
"Max..!"
"Hmm!"
"Apakah kamu bisa membelikan baju untukku seperti yang dipake gadis itu?" unjuk Paris dengan isyarat matanya membuat Maxi menoleh melihat gadis yang dimaksudkan Paris.
Betapa kagetnya Maxi saat melihat penampilan gadis itu yang hampir setengah telanjang mengumbar belahan dadanya yang hampir lompat keluar.
__ADS_1
"Gadis itu adalah gadis nakal. Ia sengaja mengenakan pakaian itu agar para pria melupakan istri mereka dan menatap tubuhnya. Apakah kamu mau melihat sebagian wanita menangis karena suami-suami mereka berpaling dari mereka hanya karena melihat tubuhmu dengan berpakaian seperti itu?" jelas Maxi membuat Paris baru paham.
"Berarti pakaian itu sangat membahayakan pandangan orang lain dan juga menghancurkan hubungan pasangan suami-isteri Maxi?" tanya Paris membuat Maxi mengangguk.
"Baiklah. Lupakan permintaan ku tadi. Sebenarnya aku meminta pakaian sepertinya hanya ingin tampil di depanmu saja bukan untuk pria lain," Lirih Paris membuat Maxi menyesal dengan penjelasannya..
"Harusnya kamu bilang tujuan muliamu itu dari tadi. Dengan begitu aku tidak mungkin melarangmu. Nanti akan membelikan untukmu sayang," ucap Maxi membuat Paris tersipu.
Paris yang mendapatkan penjelasan terperinci dari Maxi tentang gadis yang memakai baju untuk menggoda pengunjung restoran itu membuatnya ingin mengerjai gadis itu. Sudut bibirnya tertarik dengan alis terangkat menatap wajah gadis cantik itu.
"Kenapa harus menggoda sedikit saja pria itu. Kenapa tidak sekalian saja berjalan telanjang kalau kamu tidak punya malu," batin Paris lalu menggunakan kekuatannya saat gadis itu berdiri untuk pergi ke toilet.
Baru berapa langkah gadis itu berjalan tiba-tiba bajunya dengan model kemben itu melorot turun hingga memperlihatkan belahan dadanya membulat sempurna dan terlepas semua dari tubuhnya karena Paris sengaja menarik resleting gaun pendek itu tidak lagi berfungsi. Jadilah gadis itu bugil di depan orang banyak membuat ia syok dan nyaris pingsan.
"Aaahhh .....!" teriaknya panik menutupi bagian dadanya sambil melesat cepat menuju kamar mandi.
Maxi yang melihat punggung gadis itu polos membuat Paris membentaknya.
"Apakah kamu akan meninggalkan aku demi gadis itu juga, Maxi?"
"Tidak sayang. Aku hanya spontan melihatnya karena melihat reaksi para pengunjung restoran. Lagian kenapa bajunya bisa melorot ya?" tanya Maxi bingung.
__ADS_1
"Itu karena baju gadis itu murahan hingga ia mempermalukan dirinya sendiri," ucap Paris sekenanya sambil cekikikan.
"Rasain kamu! emang enak aku kerjain," lirih Paris sambil menikmati makan malamnya yang tinggal sedikit.
Setelah menghabiskan puddingnya, kini Maxi mengajak pulang gadisnya. Paris makan begitu banyak membuat perutnya terasa sesak.
"Maxi. Perutku sangat sakit. Rasanya mau meledak," keluh Paris ketika sudah berada di mobilmu.
"Nanti sampai rumah aku olesi obat luar," ucap Maxi.
"Apakah ada obat yang menghilangkan rasa sakit pada perut?" tanya Paris.
"Iya sayang ada," ucap Maxi sambil menambah kecepatan mobilnya.
Setibanya di mansion, Paris berjalan sedikit membungkuk sambil memegang perutnya yang sakit. Sementara kepala pelayan merasa aneh kala melihat Maxi membawa seorang wanita cantik tanpa ada kucing yang selalu mendampinginya.
"Selamat malam tuan!" sapa pelayan itu sambil menatap wajah cantik Paris.
"Malam!" ujar Maxi merangkul pundak Paris menuju kamarnya.
"Tuan. Di mana Paris? dan siapa gadis ini tuan?" tanya pelayan itu membuat Maxi dan Paris menengok bersama ke arah pelayan itu.
__ADS_1
Deggggg....
Maxi malas menjelaskan ia hanya bisa menjawab sekedarnya." Paris menginap di rumah Revo," ucap Maxi langsung berjalan cepat menuju kamarnya bersama Paris.