
Wajah pelayan Netto terlihat bingung dengan wanitanya Maxi terlihat biasa saja ketika masuk ke rumah besar itu. Candaan keadaan keduanya di dalam kamar menggema seakan mereka sedang memenangkan pertandingan.
"Mengapa tuan Maxi tiba-tiba membawa wanita ke kamarnya? bukankah selama ini tuan Maxi tidak begitu suka membawa gadis ke dalam kamarnya? bukankah dia pernah mengatakan jika ia akan membawa perempuan ke kamarnya berati itu adalah calon istrinya.
"Apakah perempuan itu bakal menjadi istri tuan Maxi. Kalau itu benar berarti tuan akan segera menikah dengannya," gumam pelayan Netto lirih.
Pelayan Netto mengunci pintu utama agar ia bisa segera beristirahat. Sementara di dalam kamar sana, Paris dan Maxi masih saja membahas gadis yang sempat dipermalukan Paris karena tingkahnya yang ingin menggoda pengunjung malah malu juga kalau telanjang beneran.
"Kenapa gadis itu bisa telanjang bulat ya Paris?" tanya Maxi.
"Tidak telanjang bulat karena ia masih menggunakan **********. Hanya saja dia tidak mengenakan bera jadi membuat ia malah terlihat seperti orang gila. Lagian kenapa juga dia merasa malu? kan tanggung memakai baju seksi. Sekalian saja dibuka semuanya, jadi lebih menantang," ujar Paris.
"Benar juga sayang. Untuk apa pakai baju seksi, lebih baik tampil bugil itu lebih memuaskan," timpal Maxi.
"Oh, jadi kamu pingin menikmati tubuh polosnya juga?" sungut Paris terlihat cemburu.
"Siapa yang naksir dia? aku hanya ingin bilang padamu kalau dia itu cewek yang paling nekat mempermalukan dirinya sendiri," pukas Maxi.
"Awas saja kalau kamu menyukainya!" ancam Paris sengit.
"Tidak sayang. Kamu tidak akan mendapati aku yang akan mengkhianati kamu. Karena kamar aku ini tidak pernah dimasuki oleh wanita manapun kecuali ibuku dan sekarang kamu," ucap Maxi.
"Benarkah. Berarti aku adalah wanita pertama untuk masuk dalam hatimu?" tanya Paris dengan wajah berbinar cerah.
__ADS_1
"Iya sayang. Sekarang kamu mandi setelah itu kita tidur," ucap Maxi.
"Mandi. Bagaimana aku harus mandi?" tanya Paris yang tidak mengerti dengan penggunaan shower berbau teknologi.
"Baiklah. Kita mandi berdua. Apakah kamu mau?" tanya Maxi.
"Tidak. Kau akan menyentuhku dan aku tidak mau melakukannya sebelum kita menikah," ucap Paris.
"Baiklah. Kalau kamu ingin kita menikah. Ayo kita menikah besok," ucap Maxi.
"Besok...?"
"Ya besok. Kenapa? apakah kamu tidak percaya kepadaku?" tanya Maxi.
"Paris. Apakah cintaku belum memenuhi standar arti dari sebuah ketulusan agar aku bisa memiliki kamu seutuhnya dan kamu terbebas dari hukuman itu?" tanya Maxi juga ikut sedih.
"Ketulusan hatimu, bukan aku yang menilainya karena bagiku, kamu sudah membuatku nyaman saat bersamamu. Ketulusan yang dimaksud adalah ketulusan cinta tanpa pamrih. Ketulusan cintamu yang tidak. mengedepankan syahwatmu. Itu yang mungkin dewa inginkan darimu," ucap Paris.
"Paris. Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu hingga dewa harus menghukummu seperti itu?" tanya Maxi atas alasan sesungguhnya.
"Itu yang belum aku tahu dan aku juga ingin mencari tahunya," tutur Paris.
"Sekarang aku harus bagaimana Paris memperlakukanmu?" tanya Maxi.
__ADS_1
"Jalani saja hubungan kita sebagaimana mestinya. Biarkan kita menikmati cinta kita tanpa ada rasa na*su yang berlebihan. Dengan begitu, dewa mungkin akan merestui cinta kita, Maxi," ujar Paris.
Malam itu, keduanya akhirnya tidur usai bercumbu mesra. Paris masuk ke dalam pelukan Maxi yang tidur dengan bertelanjang dada. Harum tubuh Maxi dengan aroma maskulin yang dirasakan nya membuat Paris makin merasa nyaman berada dalam pelukan kekasihnya.
"I love baby! good night...!" ucap Maxi mengecup bibir kekasihnya.
Keesokan paginya, Maxi masih merasakan kehangatan tubuh Paris. Itu berarti Paris belum berubah menjadi kucing. Maxi begitu bahagia dan sangat bersemangat membangunkan kesayangannya.
"Baby. Bangun sayang!" kecup Maxi pada bibir mungil itu.
"Hmmm!" Paris bergumam sambil menggeliatkan tubuhnya dan menatap wajah tampan Maxi yang sedang tersenyum padanya.
Paris memegang pipi dan tubuhnya dengan perasaan girang. Ia tersenyum pada Maxi yang mengangguk untuk meyakinkan Paris, kalau saat ini wanitanya masih berwujud manusia.
"Maxi. Aku masih belum berubah," pekik Paris yang langsung memeluk Max.
"Semoga untuk selamanya, baby," ucap Maxi penuh harap.
"Aku tidak sedang mimpikan sayang?" tanya Paris meyakinkan dirinya lagi.
Maxi mencubit pipinya Paris dan membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aduhh...Maxi. Ini sakit tahu," sungut Pari.
__ADS_1