Istriku Seorang Putri Dewa

Istriku Seorang Putri Dewa
41. Pengakuan


__ADS_3

Sekitar pukul satu siang, sudah saatnya Maxi mengajak Paris untuk makan siang. Namun entah mengapa gadis ini mendadak tidak enak badan. Suhu tubuhnya terasa sangat panas dengan bibir terlihat pucat. Keringat dingin menghiasi pelipisnya membuat Maxi dilanda kebingungan.


"Paris. Ada apa denganmu sayang? kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Aku panggil dokter ya?" ucap Maxi.


"Jangan Maxi! sepertinya aku akan kembali lagi ke kutukan itu lagi," ucap Paris dengan bibir bergetar.


"Paris. Apakah terlalu sakit hanya untuk berubah? apakah cintaku belum cukup tulus untuk bisa membuatmu tetap menjadi seorang manusia sepertiku? aku tidak tega melihat kamu seperti ini sayang," ucap Maxi.


"Iya Maxi. Bagiku cintamu sudah sempurna. Tapi aku takut kalau semua belum bisa dipastikan keadaan yang sesungguhnya yang kita harapkan," ucap Paris makin melemah.


"Lantas apa yang harus aku lakukan untukmu Paris? kamu terlihat sangat kesakitan seperti ini," Maxi membelai pipi Paris dengan lembut.


Air matanya tidak kuat menahan kesedihannya saat ini. Kutukan untuk Paris terlalu berlebihan untuknya. Salah apa gadis ini hingga ia harus menanggung petaka yang tidak bisa membuat hidupnya kembali normal.


"Maxi. Tinggalkan aku sendiri! keluarlah dari sini! aku tidak ingin kamu melihat bagaimana cara aku berubah kembali menjadi seekor kucing," ucap Paris makin lirih.


"Iya sayang. Tapi bagaimana caraku agar kita bisa berkomunikasi lagi Paris?" tanya Maxi.


"Mungkin ditengah malam kita bisa bersama lagi," jawab Paris sambil menahan kepalanya yang terasa sangat pusing karena Maxi belum juga meninggalkannya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tunggu nanti malam sayang. Kamu boleh berubah sekarang. Aku akan memesan makan siang kesukaanmu," ucap Maxi lalu memagut bibir Paris begitu dalam dan meninggalkan gadis itu di dalam kamar pribadinya.


Maxi menutup pintu itu rapat sambil menangis dibalik pintu dengan tubuh merosot jatuh ke lantai. Entah mengapa hatinya sangat sakit mendapati kekasihnya yang baru dua hari ia pamer kini harus kembali pada kutukannya.


"Ritual apa yang harus aku jalani agar Paris menjadi milikku sebagai manusia bukan sebagai kucing," gumam Maxi sambil menangis memeluk kedua dengkulnya.


Tidak berapa lama terdengar suara kucing yang mengeong sambil mencakar pintu membuat Maxi baru ingat jika Paris sudah berubah.


Maxi mengusap air matanya lalu membuka pintu itu.


"Paris..!" gumam Maxi membuka itu perlahan dan kucing itu langsung mengeong sambil menatap wajah tampan Maxi.


"Kamu tidak sakit lagi kan sayang? apakah kamu mau makan sesuatu?" tanya Maxi yang sudah pesan makanan untuk mereka.


Tok...tok..


Cek lek...


Pintu dibuka dengan cepat oleh Maxi sementara Paris kelihatan tidak sabar ingin menyicipi makanannya karena ia dirinya sudah menguras tenaganya saat ingin berubah. Cleaning servis masuk dan meletakkan baki yang berisi makanan yang sudah dipindahkan petugas itu ke piring setelah pelayan restoran mengantarkan makanan itu ke perusahaan Maxi.

__ADS_1


Asistennya Neil yang masuk ke ruang kerja Maxi mencari keberadaan gadis yang dua hari ini selalu bersama Maxi. Namun yang ia temukan hanya Paris yang mengetahui kebingungannya Neil.


"Dasar asisten kepo! Selalu saja mengurusi urusan yang bukan menjadi pekerjaannya," omel Paris.


"Tuan Maxi! Apakah gadis yang bersama tuan itu sudah pulang?" tanya Neil.


"Sudah Neil," ujar Maxi sambil membelai tubuh Paris yang n


merem melek terlihat sangat tenang.


"Kok aku tidak melihatnya pergi Maxi dan kenapa tiba-tiba ada Paris di sini? bukankah tadi pagi tuan datang dengan gadis itu tanpa membawa Paris bersama dengan anda, tuan?" tanya Neil makin dengan keponya.


"Tinggalkan aku sendiri Neil! aku ingin makan siang. Apakah semua urusan pribadiku apa kamu harus mengetahui semuanya?" sergah Maxi membuat Neil menggeleng dengan gugup.


"Maafkan saya Tuan! Saya janji tidak akan menganggu anda lagi kecuali anda yang memintanya," ucap Neil lalu keluar meninggalkan Maxi dengan kucingnya Paris.


Maxi meletakkan Paris di atas meja makan. Keduanya sudah siap makan siang bersama. Maxi tidak bisa lagi mendengar ucapan Paris karena Paris sudah kembali menjadi kucing.


"Habiskan makananmu, Paris! Kalau kamu malas dan mau tidur, tidurlah di sofa ini sambil menunggu aku menyelesaikan pekerjaanku!" pinta Maxi yang hanya dijawab Paris dengan mengeong.

__ADS_1


Meong..


__ADS_2