
Pangeran Neva tidak rela begitu saja melepaskan gadis yang ia cintai untuk menikah dengan adik tirinya, pangeran Siddharta. Ia menyusun rencana untuk membunuh pangeran Siddharta saat ada iring-iringan pengantin nanti menuju ke istana kerajaan raja Jonas.
"Saat pengantin prianya meninggal, mau tidak mau akulah yang akan menggantikan posisi calon pengantinnya putri Titania. Rencana yang sempurna Neva. Tidak usah sedih berlebihan seperti itu karena kamu yang akan menjadi juaranya." Seringai licik mendominasi suasana hatinya pangeran Neva saat ini.
Ia langsung menyampaikan rencana liciknya itu kepada anak buahnya yang mau tidak mau akan melaksanakan perintah Tuannya, walaupun hati mereka tidak tega pada pangeran Siddharta yang sangat baik hati itu.
Bukan tanpa alasan mereka berat menjalankan misi pembunuhan itu pada saudara tirinya pangeran Neva. Bagi prajurit khusus anak buahnya pangeran Neva, pangeran Siddharta selalu memberikan bantuan yang tidak sedikit pada keluarga mereka.
Setiap malam, pangeran Siddharta selalu melemparkan kantong uang emas di pintu rumah mereka.
"Apa yang harus kita lakukan pada pangeran Siddharta agar kita tidak melukai malaikat baik hati itu?" tanya pengawal Yello pada teman-temannya.
"Jika kita membunuhnya, itu sama saja kita akan membunuh kelurga kita sendiri. Tanpa pangeran Siddharta, keluarga kita akan mati kelaparan. Kita tidak mungkinkan membunuh orang yang menghidupi kita? Lihat saja! kita harus berpura-pura memihaknya setelah itu kita bunuh atau sekap dia suatu tempat hingga pernikahan pangeran Siddharta berjalan sesuai dengan rencananya, bagaimana?" tanya pengawal Yello.
"Bagus juga idemu. Tapi, adakah diantara kita yang akan mengkhianati kita? jika ada bunuh saja sekalian." Ucap Yello sambil melirik sahabatnya Grogon yang terlihat gelisah.
"Tahan dia! jangan libatkan dia dalam misi ini..Pasti dia akan menghilang malam ini untuk memberitahu rencana kita pada pangeran Neva." Ucap pengawal Yello.
"Baik." Ucap teman-temannya secara bersamaan dan menyeret tubuh pengawal Grogon ke sel tahanan.
"Apa yang kalian lakukan padaku? kenapa kalian menyekapku? percayalah! aku berada di pihak kalian." Pinta pengawal Grogon.
Mereka tidak mempedulikan teriakan sahabat mereka itu yang selalu menyelinap dan hilang begitu saja usai membahas rencana besar mereka untuk menghentikan niat jahat pangeran Neva pada pangeran Siddharta.
Pengawal Yello menemui pengawal Levi untuk bekerjasama dengan orang setianya pangeran Siddharta. Pengawal Levi mengangguk paham apa yang dikatakan pengawal Yello padanya.
__ADS_1
"Nanti aku akan sampaikan kepada pangeran Siddharta." Ucap pengawal Levi..
"Kamu cukup mengetahuinya saja. Jangan memberitahu tuanmu itu agar dia tidak kuatir. Biarkan dia menikmati masa lajangnya sebelum menikah dengan putri Titania."
"Terimakasih Yello. Tapi mengapa kalian malah mengkhianati pangeran Neva dan berpihak kepada tuanku, pangeran Siddharta?"
"Karena tahu mana iblis dan mana malaikat. Jika memelihara iblis, bumi ini akan hancur karena kita akan tunduk pada perintahnya yang tidak ingin melihat kedamaian. Bukankah hidup ini harus dinikmati bersama dengan keluarga kita? orang yang memberikan kenyamanan itu, hanya pangeran Siddharta, tuanmu yang baik hati itu Levi." Ujar pengawal Yello.
"Terimakasih Yello. Nanti saat eksekusi, biarkan kami yang mengamankan pangeran Neva dan kalian mengamankan pangeran Siddharta. Dengan begitu, kalian tidak dianggap pengkhianat olehnya." Ujar Levi.
"Terimakasih Levi. Kalau begitu aku kembali ke markas ku." Ucap pengawal Yello.
...----------------...
Sehari sebelum pernikahan dilaksanakan, pangeran Siddharta masih menemui kekasihnya. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan pujaan hatinya.
"Aku tahu itu sayang. Tapi, hatiku tidak cukup kuat untuk tidak melihatmu walau hanya sehari saja." Goda pangeran Siddharta.
"Bukankah itu lebih baik. Makin lama kita bertemu, kerinduan kita akan menumpuk. Aku ingin saat kita bertemu percintaan kita akan makin hot." Ucap putri Titania.
"Kenapa kita tidak melakukannya sekarang Titania? bukankah pada akhirnya kita akan menikah juga?"
"Bersabarlah. Kenikmatan bercinta itu saat sudah menikah karena pemilik diriku dan orang-orang sudah tahu kamu adalah milikku sebaliknya aku adalah milikmu. Saat kita melakukannya tidak perlu menjadi seperti maling yang sedang melakukan percintaan penuh ketakutan. Takut akan ketahuan dan diadilii. Kehormatan kedua kerajaan ini tercoreng karena ulah kita yang tidak bisa mengendalikan syahwat kita." Ucap putri Titania dengan penuh kebijakan.
"Kamu adalah wanita hebat. Aku makin mencintaimu, putri Titania. Aku tidak salah pilih calon istriku. Ibu dari anak-anakku." Ucap pangeran Siddharta.
__ADS_1
"Sekarang kamu pulanglah. Jaga stamina mu jangan sampai sakit. Aku tidak mau pengantin pria ku miliknya loyo di malam pertama." Goda putri Titania membuat pangeran Siddharta cemberut.
"Aku tidak akan mengijinkan kamu untuk istirahat di malam pengantin kita. " Ledek pangeran Siddharta.
"Benarkah. Kalau begitu buktikan itu. Siapa diantara kita yang lelah duluan." Ucap putri Titania.
"Apa jaminan mu untukku jika aku yang menang?" Tanya pangeran Siddharta.
"Aku akan menuruti semua permintaanmu." Jawab putri Titania.
"Termasuk ..-"
"Aku tahu apa yang kamu inginkan. Pulanglah! Jangan mengatakan apapun lagi karena aku tidak ingin terpancing." Ucap putri Titania dengan wajahnya bersemu merah.
Pangeran Siddharta menahan tawanya dan segera pamit dari kekasihnya. Keduanya saling berciuman dan berpelukan lalu berpisah.
"Sampai jumpa di hari pernikahan kita. Dandanlah yang cantik. Persiapkan dirimu di malam pengantin kita. Aku akan membuatmu mengerang sepanjang malam." Ucap pangeran Siddharta lalu menghilang dalam pekatnya malam.
Putri Titania tersenyum bahagia lalu naik ke tempat tidurnya untuk melewati mimpi indahnya malam ini.
Saat melihat putri Titania sudah tertidur, pangeran Siddharta kembali lagi ke kamar kekasihnya yang membiarkan pintu itu tetap terbuka. Ia tadi belum benar-benar pergi karena ia tidak bisa meninggalkan kamar Titania hingga puas menatap wajah cantik putri Titania.
Ia mendekati lagi tempat tidur itu. Merayap di samping putri Titania. Ia melihat dari dekat dengan menopang tangannya. Rasanya ingin mencium sekujur tubuh wanitanya yang sangat ia cintai itu, namun hasratnya kembali terbenam karena wanitanya meminta untuk tidak menyentuhnya sampai hari pernikahan mereka tiba.
"Jika aku bisa memutar waktu untuk bergerak lebih cepat, ingin rasanya aku menggerakkan sendiri sampai waktu pertemuan kita nanti supaya pernikahan itu siap digelar," gumam pangeran Siddharta lirih.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, putri Titania menggeliat sambil tersenyum dalam tidurnya." Apakah kamu sedang bermimpi bertemu dengan diriku, sayang?" aku berharap aku ada di dalam mimpi itu," ucap pangeran Siddharta sambil mencium perut putri Titania yang tertutup dengan selimut.
Puas menatap wajah cantik calon istrinya, pangeran Siddharta segera meninggalkan kamar putri Titania dan melompat ke tembok pembatas dan tubuh itu jatuh di atas pelana kuda putih itu. Dalam sekejap kuda itu sudah memacu dengan lompatan yang sangat cepat.