
Setibanya di kota kelahirannya London, hawa dingin mulai terasa menusuk ke pori-pori kulit Maxi dan Paris walaupun mereka sudah mengenakan mantel.
"Maxi. Kenapa udara London luar biasa dinginnya?" tanya Paris dengan tubuhnya mulai gemetar kedinginan.
"Mungkin sebentar lagi akan memasuki musim salju sayang. Nanti sampai rumah kita nyalakan pemanas di kamar kita," ucap Maxi meraih pinggang Paris untuk masuk ke dalam mobilnya saat keduanya turun dari pesawat jet pribadi milik Max.
"Maxi. Apakah kita akan mati membeku?" tanya Paris dengan bibir bergetar.
"Di mobil juga ada penghangat. Nanti sopir akan menyalakan mesin penghangatnya yang diatur sesuai yang kita inginkan," ucap Maxi.
"Terimakasih Maxi!" Paris masuk ke dalam mobil diikuti Maxi dan ia segera merapatkan tubuhnya pada Maxi yang mengambil selimut untuk menutupi mereka berdua.
"Sebentar lagi akan merasa hangat. Levi, tolong nyalakan mesin penghangatnya!" pinta Maxi.
"Baik. Tuan!" ucap Levi.
Dua menit kemudian, kehangatan mulai. menjalari tubuh Paris. Ia mulai merasakan ketenangan. Namun perutnya tidak bisa kompromi. Mungkin hawa dingin sudah menyedot energinya hingga ia harus merengek lagi pada Maxi karena sangat lapar saat ini.
"Maxi. Aku sangat lapar. Apakah kita bisa mampir makan sebentar di restoran?" tanya Paris.
"Iya sayang. Aku juga lapar. Kita akan makan pizza dan spaghetti bolognese kesukaanmu," ujar Maxi.
"Apakah ada es krimnya juga Maxi?" tanya Paris.
__ADS_1
"Bukankah kamu kedinginan? kenapa minta es krim juga?" protes Maxi.
"Biarkan mulutku yang akan menghangatkan es krim itu nantinya. Dia tidak akan membuat aku sakit, Maxi," ucap Paris membuat Maxi terkekeh.
"Kamu paling bisa jawabnya," Maxi mencubit pipi mulus Paris yang meringis kesakitan.
"Sakit Maxi," gerutu Paris sambil mengusap pipinya.
Tidak lama mobil sudah memasuki area restoran langganan Maxi setip kali pulang dari luar negeri, pemuda tampan itu selalu mampir ditempat itu untuk mengisi perutnya yang lapar sebelum tiba di rumah.
Paris turun dari mobil berjalan cepat untuk menghindari udara dingin. Maxi membuka pintu kaca itu yang disambut oleh pelayan restoran.
"Untuk dua orang tuan?" tanya pelayan itu mengantar Maxi dan Paris ke meja di mana ada ruang penghangatnya.
"Tambahkan es krim untukku rasa vanilla dan coklat," timpal Paris sambil menggosokkan tangannya agar tetap hangat.
Maxi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Paris yang menggemaskan. Paris menggoda Maxi dengan tatapannya yang nakal.
"Apakah kamu tidak ingin bercinta denganku, Maxi?" tanya Paris membuat Maxi tersentak. Ia tidak menyangka Paris akan melontarkan pertanyaan itu begitu frontal padanya.
"Apakah boleh sayang?" tanya Maxi memastikan lagi pendengarannya.
"Tentu saja boleh, tapi nikahi aku secepatnya. Bagaimana?" tanya Paris lagi membuat Maxi hanya menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Apakah harus dengan menikah dulu, Paris? bukankah kita bisa melakukannya nanti saja. Menikah adalah hal yang mudah bagiku. Ini negara bebas, orang bisa melakukan kapan saja saat mereka ingin bercinta," timpal Maxi.
"Bebas untukmu bukan untukku karena aku adalah keturunan Dewa. apakah kamu mau dia menghukum aku lagi jadi kucing atau memisahkan kita berdua dan membawa pergi aku darimu kembali ke asalku, jika aku tidak menuruti aturan yang ada yang sudah ditetapkan dewa padaku," ucap Paris panjang lebar membuat Maxi hanya tercengang.
"Jangan Paris! tolong jangan ucapkan kata perpisahan atau kutukan! Baiklah. Aku akan menuruti permintaanmu. Kita akan menikah Minggu depan. Aku harus mengurus dokumen pribadimu sebagai warga negara yang terdaftar agar pernikahan kita di sahkan oleh negara atau diakui negara," ucap Maxi.
"Negara pasti mengakui aku karena aku adalah keturunan raja," timpal Paris lagi membuat Maxi tersedak saat minum air putih.
"Apa? kamu keturunan Raja? maksudku kamu adalah putri seorang raja?" tanya Maxi.
"Tentu saja Maxi. Ayahku bernama raja Sidharta dan ibuku bernama Putri Titania. Mungkin sejarah telah mencatat nama mereka," ucap Paris dengan bangga hati namun Maxi langsung mencari nama raja yang disebutkan oleh Paris. Dan benar saja nama raja Sidartha muncul halaman browsing yang ia cari.
Betapa kagetnya Maxi saat membaca riwayat keluarga kerajaan itu yang hidup sepuluh abad yang lalu. Ada kebanggaan tersendiri bahwa dirinya bisa menikah dengan seorang putri raja.
"Apakah aku juga seorang putra raja atau keturunan raja? tidak mungkin aku bisa mendapatkan gadis cantik dan unik ini jika aku bukan keturunan dari orang hebat selain menjadi kelurga pengusaha," batin Maxi menyeringai.
Tidak lama pesanan mereka datang dan pelayan menghidangkan makanan itu beserta minuman dan juga es krim pesanan Paris. Gadis ini langsung mengambil es krim miliknya dan memakannya. Pelayan memperhatikan sikap Paris yang terasa aneh baginya.
Paris merasakan setiap sendok es krim itu yang meleleh dilidahnya." Maxi..! ini sangat lezat dan nikmat, sayang," ucap Paris penuh rasa syukur.
"Makanlah dulu Paris! bukankah tadi kamu ribut lapar?" pinta Maxi.
"Iya sayang. Aku akan makan es krim ku dulu sebelum cair, ya?" pinta Paris membuat Maxi hanya bisa mengangguk pasrah.
__ADS_1