
Berangkat ke perusahaan dengan wanita cantik yang sekarang berpakaian kantoran sedang tampil anggun sambil menggandeng lengan kekasih yang begitu bangganya memamerkan kekasihnya pada karyawannya yang kini menyambut keduanya dengan tatapan kagum. Siapa lagi kalau bukan Maxi dan Paris yang terlihat romantis pagi itu.
"Maxi..! mengapa mereka menatapku terlihat aneh? apakah penampilan aku aneh?" tanya Paris terlihat risih.
"Karena kamu terlalu cantik sayang. Itu sebabnya mereka menatapmu kagum," bisik Maxi ketika masuk ke dalam lift.
"Benarkah aku sangat cantik, Maxi?" tanya Paris tersipu malu.
"Syukurlah. Ternyata aku tidak sia-sia belajar semalaman memperhatikan orang-orang yang yang berpenampilan yang terlihat elegan dengan pakaian mereka yang serasi ditubuh mereka. Apakah aku sudah terlihat elegan olehmu, Maxi?" tanya Paris sedikit mende**ah.
Maxi hanya bisa tersenyum dengan ulah Paris yang membuatnya gemas. Kamu lebih dari kata elegan sayang. Kamu lebih cantik dari mereka," pukas Maxi.
__ADS_1
"Tapi, aku ingin sekali punya pewarna bibir seperti gadis-gadis cantik itu. Mereka terlihat sangat keren Maxi," ucap Paris.
"Itu karena kecantikan mereka dipoles pewarna tambahan. Kalau kamu tidak butuh itu, baby," ucap Maxi sambil merapatkan tubuh Paris ke tubuhnya.
"Aiss...! kamu pelit sekali Maxi. Pura-pura memujiku cantik supaya kamu tidak repot-repot membelikan aku pewarna bibir. Aku sangat kecewa padamu," ucap Paris dengan wajah cemberut.
"Nanti aku akan memesan untukmu. Sekarang kamu bantu aku untuk tidak lagi mempermasalahkan benda-benda jelek itu lagi," pinta Maxi saat mereka sudah berada di ruang kerja Maxi.
"Maxi. Apakah aku tidak bisa membantumu bekerja? ayolah! Aku juga ingin bekerja sepertimu," ucap Paris.
Maxi duduk bersebelahan dengan Paris di sofa panjang. Ia mencari game yang mudah di mengerti oleh Paris. Paris memperhatikan jari jemari Maxi yang begitu cekatan memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Oh, hanya begitu cara mainnya. Kalau begitu aku juga bisa. Sini berikan bendamu itu padaku!" pinta Paris sudah tidak sabaran ingin memainkannya.
"Benda ini ada namanya. Namanya adalah ponsel. Jadi sebut namanya ponsel. Jangan bilang benda lagi atau orang akan menertawakan kamu. Kamu tidak maukan membuat aku malu, hmm?" tanya Maxi sambil membelai rambut panjang Paris yang sangat harum.
Tubuh Paris memang sangat beda sendiri. Ia mengeluarkan aroma tubuhnya yang sangat harum hingga Maxi merasa tidak ada parfum dengan merk yang pernah dipakai ibunya dari sekian parfum mewah itu. Maxi tidak heran dengan itu semua karena Paris datang dari abad yang lalu. Entah abad yang ke berapa yang jelas ia sangat mencintai Paris.
Paris sudah tenggelam dalam permainannya. Maxi memesan makanan cemilan untuk Paris agar gadis itu main game sambil makan.
Maxi kembali fokus dengan laptopnya dan sesekali menatap wajah cantik Paris yang membuatnya sangat semangat untuk bekerja karena ditemani gadis cantik itu. Tidak lama pesanan makanan untuk mereka berdua diantar oleh cleaning servis.
Makanan itu diletakkan di atas meja dengan minuman hangat untuk mereka berdua. Cleaning servis itu meninggalkan ruang kerja Maxi setelah diberi Maxi tip untuknya.
__ADS_1
Paris melihat makanan di depannya makin semangat untuk bermain game. Karena tangannya sibuk makan, iapun akhirnya menggunakan kekuatan matanya untuk bermain game membuat Maxi mengerutkan keningnya.
"Jadi, Paris memiliki kekuatan melalui mata? apa jangan-jangan kebakaran yang melanda gudang beberapa bulan yang lalu Paris yang menyelamatkan produk itu dari lalapan si jago merah itu?" pikir Maxi sambil memperhatikan mata Paris yang bergerak ke sana ke mari untuk memindahkan sesuatu yang ada di dalam permainan game itu.