Istriku Seorang Putri Dewa

Istriku Seorang Putri Dewa
32. Menjadi Pusat Perhatian


__ADS_3

Pagi itu, Maxi dijemput oleh asistennya Nero. Maxi yang sudah berdiri menunggu Nero bersama dengan sobat kecilnya yaitu Paris. Maxi sengaja memberikan nama kucingnya itu Paris karena kucing itu terlihat sangat cantik dan unik. Bahkan ia belum pernah melihat kucing secantik itu selama pengamatannya walaupun selama ini ia tidak pernah memelihara binatang sekalipun itu adalah anjing karena ia sendiri sangat alergi dengan binatang, kecuali binatang ternak yang tentunya sudah matang.


Mobil mewah itu berhenti tepat di samping Maxi yang menunggu Neil membuka pintu mobil untuknya. Paris yang melihat wajah baru dari majikannya hanya merapatkan tubuhnya di kaki Maxi dengan sesekali mengeong. Neil yang melihat kucing itu terbeliak matanya dengan tatapan bingung.


"Tuan. Sejak kapan anda menyukai seekor kucing?" tanya Neil.


"Sejak aku menemukannya. Tolong jangan menganggunya karena dia tidak terbiasa dengan orang asing yang baru ia lihat. Dia hanya jinak padaku saja. Jadi jangan coba-coba menganggunya," ucap Maxi peringati Neil yang hanya mengangguk dengan raut wajah bingung.


"Baik Tuan," ucap Neil patuh lalu menutup pintu mobil itu saat Maxi dan Paris sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Bagai sudah mengerti tugasnya, Paris duduk di samping Maxi sambil sesekali mengibaskan ekornya yang panjang. Apalagi lagi mendapatkan elusan tangan lembut Maxi pada perutnya membuat Paris lama kelamaan memejamkan matanya karena merasa nyaman dengan elusan tangan Maxi. Kucing cantik itu akhirnya tertidur dengan tenang. Maxi begitu gemas melihat kucing yang sudah mencuri perhatiannya. Ia seakan mendapatkan mainan baru bahkan bisa diajak ngobrol walaupun Paris menanggapinya dengan mengeong. Hanya satu kata itu yang bisa ia sampaikan dengan beberapa ekspresi wajah yang berbeda-beda.


"Tuan. Apakah kucing itu tidak punya pemiliknya?" tanya Neil yang ikut senang melihat Tuannya saat ini terlihat bersikap hangat.


Bahkan wajah datar itu yang sulit sekali untuk lentur apalagi untuk tersenyum sesekali memberikan senyum pada sang kucing yang makin menempel pada pahanya seakan takut ditinggal Maxi.


"Baiklah. Kalau begitu tuan harus memiliki sertifikat kepemilikan hewan peliharaan supaya tidak ada yang berani mengklaim kucing itu adalah miliknya," ucap Neil.


"Hmm!"

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mobil itu akhirnya tiba di perusahaan milik Maxi. Saat pintu mobil terbuka, secara reflek Paris ikut bangun dan bersiap mengikuti langkah kaki tegap nan kokoh Maxi memasuki gedung itu.


Para karyawan yang menyambut Maxi seperti biasa setiap paginya sontak memperhatikan kucing cantik itu melangkah anggun sebelah Maxi yang berjalan acuh menatap ke depan diikuti oleh Neil memasuki pintu lift yang terbuka untuk membawa mereka ke lantai dua puluh tempat Maxi bekerja.


"Paris. Berbaring saja di manapun yang kamu suka. Tolong jangan menggangguku saat bekerja. Ada makan dan minum untukmu sudah disiapkan oleh asistenku di sudut sana. Kalau mau pup, masuk ke kamar mandi pribadiku dan lakukan seperti yang aku ajarkan, ok!" ucap Maxi menunjukkan tempat-tempat yang menjadi ruang geraknya Paris selama berada di perusahaannya.


"Meong...!" ucap Paris menandakan kalau dia paham apa yang diperintahkan Maxi padanya.


Seperti biasa, Paris merebahkan tubuhnya sambil menatap wajah tampan Maxi. Walaupun Maxi hanya menganggapnya seorang piaraan yang menggemaskan, max sesekali tersenyum pada Paris yang menatapnya penuh puja. Pria tampan itu kembali fokus ke layar laptop miliknya.

__ADS_1


__ADS_2